Juni 16, 2021
Musibah Melanda: Ujian atau Siksa?

Musibah Melanda: Ujian atau Siksa?

Oleh : Denan Amin Syukur Btr

Tahun 2021 masih belia, namun sederet peristiwa dan bencana alam datang silih berganti. Di kutip dari situs resmi BNPB, sepanjang awal tahun baru 2021 ini sejumlah 308 bencana sudah terjadi. Mulai dari longsor di Sumedang Jawa barat, banjir di Kalimantan Selatan, Gempa di Majene, Erupsi Gunung Semeru, dan sederet bencana lainnya.

Terkait peristiwa dan bencana tersebut banyak sekali muncul pertanyaan apakah bencana alam yang terjadi di sekitar kita tersebut merupakan ujian atau siksa. Pertanyaan tersebut mungkin sering kita dengar atau mungkin diri kita sendiri pun bertanya-tanya dalam benak kita.

Dalam QS. Ali Imran ayat 165 disebutkan tentang bencana alam yang menjadi ujian. “Dan mengapa kamu (heran) ketika ditimpa musibah (kekalahan pada Perang Uhud), padahal kamu telah menimpakan musibah dua kali lipat (kepada musuh-musuhmu pada Perang Badar ) kamu berkata, “Dari mana datangnya (kekalahan) ini?” Katakanlah, “Itu dari (kesalahan) dirimu sendiri.” Sungguh, Allah Maha kuasa atas segala sesuatu.”

Kemudian bencana yang menjadi siksa dikarekan perilaku zalim terdapat pada ayat 117 nya pada surah yang sama. “Perumpamaan harta yang mereka infakkan di dalam kehidupan dunia ini, ibarat angin yang mengandung hawa sangat dingin, yang menimpa tanaman (milik) suatu kaum yang menzalimi diri sendiri, lalu angin itu merusaknya. Allah tidak menzalimi mereka, tetapi mereka yang menzalimi diri sendiri”. Sedangkan bencana akibat perilaku maksiat terdapat pada QS. al-A’raf:165: “Maka setelah mereka melupakan apa yang diperingatkan kepada mereka, Kami selamatkan orang-orang yang melarang orang berbuat jahat dan Kami timpakan kepada orang-orang yang zalim siksaan yang keras, disebabkan mereka selalu berbuat fasik”.

Pada ayat yang telah di paparkan di atas terlihat jelas mana bencana yang menjadi ujian dan bencana yang menjadi siksa. Bila bencana itu di sebabkan karena kesalahan yang tidak sengaja maka itu menjadi ujian bagi pelakunya untuk mengukur seberapa besar kadar keimanannya. Namun apabila bencana itu disebabkan karena perilaku maksiat, zalim, maka bencana itu menjadi siksa.

Sumber : kompasiana  

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *