Menyoal “Moral” yang Hilang Dampak PJJ, Ortu ke Mana?

OPINI

Oleh : Desy Pangapuli

Pandemi Covid dengan segala persoalannya sudah tidak terkatakan.  Tidak ada satu orang pun di dunia ini yang menikmati keberadaan si Covid di muka bumi ini.  Harusnya nyaris setahun kita berperang dengan Covid, maka tidak perlu lagi mencari kambing hitam siapa yang harus dipersalahkan.

Semua dibuat susah dan semua dibuat puyeng!  Idealnya kita berusaha membuat kondisi tidak nyaman ini menjadi “nyaman” dengan segala kesulitannya.

Mari kita lihat dunia pendidikan yang “terpaksa” membuat anak-anak harus belajar secara online, atau yang kita kenal dengan istilah Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ). Jujur saya harus katakan bahwa yang dilakukan pemerintah melalui Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan luarbiasa harus diapresiasi. Demikian juga seluruh tenaga pengajar yang dengan segala keterbatasannya berusaha membuat anak-anak bisa belajar.

Apakah sempurna?

Baik saya jawab tidak!  Kita mengalami banyak persoalan, dimulai dari kemampuan tenaga pengajar yang gaptek alias gagal tekhnologi, persoalan kuota dan gadget, juga masalah signal.  Apakah pemerintah diam saja?

Maaf, saya harus jawab tidak!  Segalanya telah diupayakan pemerintah untuk anak-anak Indonesia.  Demikian juga para guru berusaha habis-habisan kerja keras mengejar teknologi dan membuat berbagai video materi pembelajaran.

Tetapi saya sangat sedih, marah dan campur aduk karena orang tua masih saja berisik, “Ibu kepsek, Ibu Guru kapan sih anak-anak tatap muka?  Bu, kalau begini caranya anak-anak tidak maksimal.  Ibu, saya ini bukan guru.  Saya tidak bisa mengajari anak bu, bagaimana ini?”

Baik, sekarang mari kita lihat apa yang terjadi di group Whatsapp (WA) anak-anak.  Saya kebetulan sejak dulu terbuka dengan anak-anak.  Saya selalu berbagi cerita dengan mereka, demikian juga mereka kepada saya.  Sehingga dengan seijin mereka, diperbolehkan membaca seluruh isi WA tanpa persoalan.  Tanpa itu pun, kedua anak saya selalu menceritakan apapun yang mengganjel di pikiran mereka.

Inilah yang kembali kumat curhat si bungsu setelah beberapa waktu lalu mengalami “cyber bullying” karena selalu dimintai temannya untuk menyerahkan hasil tugas-tugas yang diberikan guru.  Sempat temannya itu berhenti “menekan” tetapi sesekali suka kumat juga belakangan ini.

Nah, shock ketika si bungsu kembali menceritakan percakapan di group WA, ada dua temannya komplain tidak suka PJJ.  Menanyakan kapan sih bisa segera tatap muka.  Kemudian mengatakan mereka sama sekali tidak mengerti selama ini.  Keberatan dengan tugas yang menurut mereka menyiksa, padahal mereka tidak mengerti.

Lalu terkonyol menurut saya adalah, kedua “jagoan cilik” ini seenak udelnya meminta teman-temannya memberikan jawaban dari tugas-tugas yang diberikan guru.  Lalu karena tidak mendapatkan yang diminta, mengatakan “lebih baik beradab, daripada pintar karena setan pun pintar, tetapi tidak beradab.”

Wowww….saya ngeri dan sedih berbarengan ketika si bungsu menceritakannya.  Apakah menurut kedua “jagoan cilik” ini anak pintar dan teman-temannya yang rajin mengerjakan tugas berarti setan?  Lalu dua jagoan ini menambahkan bahwa di dalam pergaulan atau tepatnya tatap muka nanti model tidak mau memberikan jawaban tidak akan diterima dalam pergaulan?

Saya hanya mendengarkan saat si bungsu bercerita dengan bingung, kok ada anak seperti itu.  “Ma, padahal teman-teman lain sudah jelaskan bahwa PJJ keputusan terbaik supaya anak-anak tidak kena Covid.  Jika tidak mengerti, kenapa tidak bertanya saat online?  Jika tidak mengerti, khan bisa saling belajar di group WA, atau googling saja seperti kami-kami juga begitu kok.”

Anak saya juga bercerita bagaimana mereka sekelas berusaha membantu mendewasakan kedua jagoan cilik “eror” tersebut.

PJJ memang bukan pilihan yang baik untuk bersekolah.  Tetapi, di saat pandemi dengan lonjakan kasus yang mengerikan maka PJJ justru sebuah pilihan terbaik karena nyawa anak menjadi skala prioritas!

Begitulah nyatanya, bersekolah tidak mengenai belajar supaya pintar saja.  Tetapi dengan bersekolah kita juga belajar bersosialisasi.  Nilai moral inilah yang terhilang ketika sekolah anak-anak pindah ke dunia maya.  Interaksi yang biasanya terjadi di dunia nyata karena bertemu secara fisik, maka di dunia maya menjadi sulit diwujudkan.

Jangankan memahami nilai moral ini, bahkan sadar untuk bersekolah saja juga jadi urusan guru?  Padahal guru sendiri memiliki pergumulannya, menyiapkan materi agar bisa tersampaikan walau secara online.

Pertanyaan saya, kemana para orang tua yang pada kasus tertentu tidak tahu bahwa anaknya sering bolos online.  Lalu kemana orang tua kok tidak tahu anaknya tidak pernah menyelesaikan tugas, bahkan tidak tahu anaknya menjadi preman online?

Hiksss…hikksss…apa ini artinya mari kita lemparkan semua ke pundak guru?  Maaf yah, saya salut dengan guru yang super duper sabar membangunkan beberapa anak demi memastikan ikut kelas.  Padahal, bukankah harusnya orang tua yang menjadi kunci dan motor penggerak anak?

Hahahah…lalu saya tertawa, karena teringat celetukan orang tua, “Itu sebabnya kapan sekolah tatap muka.  Saya jadi repot harus berantem, kerena mengajari anak.  Saya bodoh, maka anak disekolahkan.  Lha, kok justru sekarang saya yang ngajari di rumah?”

Tepok jidat mendengar omongan seperti ini!  Jika bukan karena memikirkan nilai kesopanan, maka saya mau bertanya, “Maaf, anak yang di rumah ibu/ bapak darah daging siapa?  Apakah bapak/ ibu buta dan tuli tidak mengikuti berita?  Buang saja pak, bu anaknya!  Apakah ketidaknyamanan bapak/ ibu lebih berharga daripada nyawa anak sendiri?”

Maka saya memahami mengapa ada “dua jagoan cilik” di group WA anak bungsu saya.  Mereka kehilangan sosok orang tua.  Mereka tidak memiliki nilai moral.  Nilai yang harusnya berakar di keluarga.  Tetapi, kini berangsur-angsur digeser menjadi tanggungjawab sekolah.

Mungkin ada yang penasaran, apa sih nilai moral?

Menurut wikipedia Moral adalah perbuatan/tingkah laku/ucapan seseorang dalam ber interaksi dengan manusia. apabila yang dilakukan seseorang itu sesuai dengan nilai rasa yang berlaku di masyarakat tersebut dan dapat diterima serta menyenangkan lingkungan masyarakatnya, maka orang itu dinilai memiliki moral yang baik, begitu juga sebaliknya.

Moral adalah produk dari budaya dan Agama.  Setiap budaya memiliki standar moral yang berbeda-beda sesuai dengan sistem nilai yang berlaku dan telah terbangun sejak lama.

Nah, nilai moral inilah yang tidak tersentuh saat PJJ, kenapa?  Yah, karena anak-anak tidak berinteraksi sebagaimana layaknya manusia sebagai makhluk sosial.  Tetapi, harusnya nilai ini menjadi tanggungjawab orang tua. Menanamkan prinsip menghormati, disipilin dan bertanggungjawab adalah hal yang mendasar.  Terlebih jika di usia anak SMP dan SMA misalnya.  Apa iya, harus guru juga yang berteriak, “Anak-anak tidak boleh mencontek tugas teman.”

Menurut saya, penting sedari dini orang tua mendidik dan menanamkan nilai moral yang nantinya membawa si anak menjadi manusia yang pantas.  Ini hal mendasar yang menjadi bekal untuk si anak ketika dewasa.  Diberikan oleh orang tua karena cinta dan kasihnya agar anak tidak bermasalah dalam bermasyarakat.  Jika nilai ini dimiliki, maka bermasyarakat atau beretika di dunia nyata ataupun maya tidak menjadi soal.

Ironisnya orang tua saja sudah melempar tanggungjawab mendidik dan mengajar kepada sekolah.  Maka tidak heran anak juga akan melempar semua tanggungjawabnya kepada orang lain, yang dalam hal ini teman-temannya.  Ujungnya mengerikan karena anak akan tumbuh menjadi pribadi yang hanya bisa menyalahkan orang lain.  Tidak bercermin justru sumber kekacauan sesungguhnya adalah dirinya sendiri!

Sekali lagi, PJJ memiliki tidak terkatakan persoalannya.  Tetapi, apakah bijak sebagai orang tua hanya bisa menyalahkan sekolah beserta para pengajarnya?  Maaf, meminjam sebuah istilah, “Jangan biasakan melempar handuk.”  Maksudnya, jangan biasa melempar kesalahan.

Bertanyalah kita orang tua, kenapa anak saya tidak datang ke saya ketika mereka mengalami kesulitan?  Kemana saya selama ini?

Sekalipun mungkin orang tua bekerja, tetapi komunikasi harus dibuat!  Khan tidak bekerja 24 jam, apalagi sekarang ada banyak cara untuk berkomunikasi.  Di atas semua itu, anak tersebut memiliki orang tua yang harusnya memiliki rasa sayang, cinta dan peduli melebihi gurunya.

PJJ yang tidak sempurna ini sebenarnya kesempatan untuk kita orang tua dekat dengan anak,  Mencoba meringankan kesulitannya bersama-sama.  Orang tua melakukannya bukan karena pintar, tetapi karena rasa sayang kepada anaknya.  Percayalah, di setiap kesulitan selalu ada solusi.

Membiarkan, meninggalkan dan mengacuhkan anak akan membuatnya frustasi.  Perumpamaannya, mengira membesarkan kucing yang terlihat imut, tetapi saat besar rupanya harimau dan menerkam.

Jakarta, 16 Februari 2021

Sumber referensi:

wikipedia.org/wiki/Moral

Sumber : kompasiana  

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *