Ingat! Inilah 4 Hal yang Harus Dijaga Mahasiswa Pendidikan

OPINI

Oleh : Firda Fatimah

"Guru iku digugu lan ditiru."

Sebuah Kerata bahasa yang berasal dari bahasa Jawa di atas sudah sangat familiar di telinga kita. Kerata bahasa sendiri adalah kata yang diudar berdasarkan suku kata dari kata tersebut dan menjadi cocok dengan makna yang dikehendaki.

Guru itu digugu, artinya bahwa apa yang disampaikan oleh guru senantiasa dapat dipercaya dan diyakini benar oleh siswanya. Sedangkan, guru itu ditiru memiliki makna bahwa seorang guru dapat menjadi suri tauladan ataupun contoh dan panutan yang baik bagi seluruh siswanya.

Saat ini, untuk dapat menjadi guru di sekolah negeri ataupun swasta setidaknya harus memiliki ijazah Strata 1 atau sarjana. Dalam hal ini, lulusan dengan gelar Sarjana Pendidikan (S.Pd) memiliki peluang yang lebih besar untuk diterima mengajar di sekolah-sekolah. Selain karena memang dicetak untuk menjadi guru, mereka sudah pasti telah dibekali dengan berbagai kompetensi agar kelak dapat mengaktualisasikan ilmunya di lapangan dengan kemampuan yang mumpuni.

 Berdasarkan Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005, disebutkan bahwa ada 4 Kompetensi yang harus dimiliki oleh seorang guru. Empat kompetensi itu ialah kompetensi pedagogik, kompetensi profesional, kompetensi sosial, dan kompetensi kepribadian.

Kompetensi pedagogik adalah kompetensi yang harus dimiliki guru berkenaan dengan kemampuan guru dalam mengajar dan mengelola pembelajaran. Kompetensi profesional adalah kemampuan guru menguasai materi pembelajaran berikut kurikulum mata pelajaran di sekolah. Kompetensi sosial adalah kemampuan yang berkaitan dengan komunikasi dan interaksi dengan lingkungannya. Dan kompetensi kepribadian adalah kemampuan personal yang mencerminkan pribadi yang baik.

Bagi saya sendiri, kompetensi kepribadian adalah kompetensi yang paling penting dari tiga kompetensi lainnya. Meskipun sebenarnya empat kompetensi tersebut tidak boleh dipilah-pilah mana yang penting dan mana yang kurang penting. Semuanya penting dan saling melengkapi satu sama lain.

Namun, mengapa saya katakan bahwa kompetensi kepribadian adalah kompentensi yang paling penting? Karena sebagai seorang guru alias pendidik, sudah selayaknya mengedepankan kepribadian yang positif dan baik untuk menjadi role model bagi siswanya.

Buat apa memiliki kompetensi profesional yang mumpuni jika kepribadian pada diri guru tak dapat dijadikan teladan?

Maka dari itu, siapapun yang saat ini sedang menjadi mahasiswa (jurusan) pendidikan, perlu bagi kita memperhatikan dan membiasakan diri membentuk kepribadian yang positif.

Mengapa berkepribadian baik harus diperhatikan sejak menjadi mahasiswa pendidikan? Karena hal tersebut untuk membentuk sebuah pembiasaan pada diri agar kelak nantinya saat benar menjadi guru tidak terjadi pemaksaan kepribadian atau dapat dibilang pura-pura baik.

Untuk menjadi pribadi yang baik itu perlu pembiasaan. Sehingga apa yang terjadi nantinya adalah sebuah gambaran diri yang sebenarnya, bukan hanya menjadi baik ketika di sekolah sedangkan menjadi urakan ketika di luar sekolah.

 Maka dari itu, sebagai mahasiswa jurusan pendidikan atau bisa disebut mahasiswa calon guru, sudah semestinya membiasakan diri dengan menjaga perilaku dan kepribadiannya agar pantas jika suatu saat menjadi guru. Sebagaimana yang kita tahu bahwa tugas mulia guru diantaranya adalah membentuk karakter anak bangsa.

Lantas, apa saja yang harus dijaga oleh mahasiswa pendidikan?

Pertama, Jaga Perkataan

Lidah itu tak bertulang. Namun, bukan lantas menjadikan mahasiswa pendidikan seenak diri menggunakan lidahnya. Sungguh miris ketika menemukan beberapa mahasiswa pendidikan dengan tanpa dosa sering mengeluarkan umpatan. Mereka seolah lupa dan tak sadar diri dengan identitasnya.

Kata-kata senonoh dan tak layak untuk dikeluarkan dari mulut calon guru ini sudah semestinya dihindari. Diksi-diksi buruk itu secara tidak langsung akan menjadi sebuah pembiasaan yang nantinya rawan terucap juga saat sudah menjadi guru.

Perlu diingat juga, menjaga perkataan tidak hanya dilakukan di dunia nyata, perkataan di media sosial juga perlu dijaga.

Sudah menjadi guru tapi masih suka mengumpat? Apa kata dunia!

Kedua, Jaga sikap

Sikap dalam hal ini adalah sopan santun atau tata krama. Dalam bahasa jawa biasa disebut dengan unggah ungguh. Sikap seperti cara berbicara, cara berjalan, cara memperlakukan orang lain, dan sejenisnya sangat perlu untuk diperhatikan oleh mahasiswa pendidikan.

 Merendahkan suara ketika berbicara dengan orang yang lebih tua, mengatur cara berjalan, mendengarkan dan menghormati lawan bicara, dan membiasakan sapa dan senyum pada orang lain adalah contoh-contoh sikap yang perlu dijaga dan dibiasakan oleh seorang calon guru.

Ketiga, Jaga Pakaian

Sudah tentu pakaian adalah apa yang nampak pertama kali oleh orang lain. Namun, terlepas dari kalimat “Don’t judge book by its cover”, menjadi mahasiswa pendidikan tak bisa meremehkan soal pakaian yang dikenakan oleh badan ini.

Masak iya calon guru kebiasaan berpakaian sangat ketat atau bahkan mini-mini? Kalau begitu, jangan salahkan siswa jika nantinya ada yang suka pamer sebagian anggota badannya kalau gurunya saja tak dapat memberi contoh yang baik dalam berpakaian.

Maka sebagai mahasiswa pendidikan, biasakan menggunakan pakaian-pakaian yang pantas dan dapat merepresentasikan diri kita yang notabene adalah seorang calon guru. Setidaknya gunakan pakaian yang sopan dan layak.

Keempat, Jaga Pergaulan

Lingkungan pergaulan itu sangat berpengaruh pada pembentukan kepribadian seseorang. Mungkin pada zaman sekarang ini lebih sering disebut dengan Circle atau lingkaran pertemanan.

Carilah lingkaran pertemanan yang dapat membentuk kepribadian calon guru menjadi lebih baik. Jika terpaksa menemukan lingkaran pertemanan yang menjadi racun, maka usahakan untuk menghindar.

Menjadi mahasiswa pendidikan, akan lebih baik jika bergaul dengan teman-teman yang juga peduli dengan isu-isu pendidikan, edukasi diri, atau mungkin beberapa komunitas yang dapat mendukung pembentukan kepribadian positif diri kita.

Nah, mungkin itu beberapa hal yang sekiranya harus dijaga oleh mahasiswa pendidikan. Dengan harapan, empat hal tersebut jika dibiasakan akan menjadi sebuah kebiasaan yang pada akhirnya menjadi identitas kepribadian baik dalam diri seorang calon guru ketika kelak menjadi guru.

Ingat, tugas seorang guru adalah membentuk karakter baik anak bangsa. Maka dari itu, bentuklah karakter baik itu mulai dari diri kita sendiri sejak sekarang!

Terima kasih 🙂

Sumber : kompasiana

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *