Risalatul Mahidl bagi Anak Laki-Laki

OPINI

Oleh : Astatik Bestari

Sebentar lagi 8 Maret, momentum peringatan Hari Perempuan Sedunia (International Women’s Day, IWD). Kali ini saya  membahas relasi laki-laki dan perempuan dalam kaitannya memahami fitrah perempuan.

Perbedaan ciri-ciri fitrah laki-laki dan perempuan tidak seharusnya menjadi tanggung jawab masing-masing ketika keduanya memiliki ikatan. Dalam hal ini adalah ikatan saudara, ikatan anak dan orang tua, serta ikatan suami dan istri. Dalam catatan ini saya membahas fitrah perempuan.

Salah atau fitrah perempuan  yang bisa saja dianggap tanggung jawab perempuan saja adalah kondisi fisiknya yang mengalami haid (menstruasi) tiap bulan. Padahal urusan haid ini juga menjadi tanggung jawab laki- laki. Bisa saja laki-laki sebagai ayah atau  laki-laki sebagai suami, dan laki-laki sebagai saudara kandung bagi perempuan.

Dalam tafsir Ibnu Katsir ( nyuplik copas dari ibnukatsironline) disebutkan

”Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita. (An-Nisa: 34)”

Tafsirnya “dengan kata lain, lelaki itu adalah pengurus wanita, yakni pemimpinnya, kepalanya, yang menguasai, dan yang mendidiknya jika menyimpang.”

Nah, dalam perannya sebagai pendidik, laki-laki seharusnya paham urusan haid yang biasa dialami perempuan. Salah satunya terlibat ikut memahami kitab Risalatul Mahidl yang membahas seluk beluk haidl dan pengaruhnya kepada ibadah ritual utamanya urusan salat wajib.

Saya sendiri yang sejak menikah sampai detik ini adalah perempuan satu-satunya di keluarga kecil saya, otomatis secara tak langsung mendidik kedua bujang saya memahami siklus biologis saya dalam pengaruhnya menjalankan ibadah ritual.

Saya mengajarkan kepada para bujang saya ilmu pengetahuan dalam kitab risalatul mahidl ini misalnya perihal mencatat tanggal, jam datangnya haid dan bersih/ sucinya.

 “Umi diingatkan ya jika lupa nulis awal haid, Dik/ Kak!” Kalau sudah suci (bersih dari darah haid) bujang saya juga mengingatkan

“Umi sudah nulis tanggal berhenti haidnya?” Ini  biasa menjadi peringatan penting bagi saya dari si bungsu, karena si sulung mukimnya di pesantren. Pendidikan tentang wujud tanggung jawab laki-laki kepada nasib ibadah ritual perempuan, sederhana tetapi sangat penting diketahui kaum laki-laki.

Petunjuk dalam kitab Risalatul Mahidl ini detil, butuh waktu banyak untuk memahaminya. Namun, memulai mengamalkan dari yang mudah ( seperti mencatat awal dan akhirnya masa haid) kepada anak laki-laki kita saya yakin bermanfaat untuk tahap hidupnya kelak dalam berinteraksi dengan perempuan dalam posisinya sebagai suami, dan ayah bagi anak perempuan mereka

Jadi menghargai harkat dan martabat perempuan juga nampak bagaimana laki-laki berperan sebagai pendidik dalam memahami fitrah perempuan. Setuju?

Sumber : kompasiana

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *