Juni 16, 2021
Memulai Kembali Sekolah Tatap Muka Sama Seperti Memulai Sekolah Online

Memulai Kembali Sekolah Tatap Muka Sama Seperti Memulai Sekolah Online

Oleh : Vincent Setiawan

Memulai sekolah online pertama kali pada bulan Maret tahun 2020 adalah salah satu goncangan terbesar bagi dunia pendidikan. Bagaimana tidak? Setelah sistem sekolah tatap muka selama puluhan bahkan ratusan tahun, sekolah akhirnya dialihkan sepenuhnya menjadi video call bersama-sama.

Hal ini bukan berlangsung selama 1 hari atau 1 minggu melainkan sudah hampir mencapai 1 tahun. Prestasi ini sungguh mengagumkan bagi saya karena hal ini membuktikan adanya revolusi secara besar-besaran dalam dunia pendidikan akibat pandemi Covid-19 ini.

Di sisi lain, meskipun ini adalah suatu revolusi besar-besaran, tetapi tidak diimbangi dengan peningkatan kualitas pengajaran. Memang dari sisi guru dan pemerintah sendiri tidak terdapat kesiapan.

 Akan tetapi, mutu pendidikan yang setidaknya dijaga, malah turun dan anjlok seanjlok-anjloknya. Semangat guru mengajar pun tergerus dan semangat siswa untuk menimba ilmu serta belajar pun terhapus.

Dikarenakan kejadian ini, maka beramai-ramai orang tua maupun siswa pun memaksa untuk bersekolah tatap muka diadakan kembali. Beberapa kali pemerintah mewacanakan sekolah tatap muka, akan tetapi tidak ada satupun rencana yang direalisasikan.

Banyak alasan untuk hal ini, yang terutama adalah masalah kesehatan. Hal ini menurut saya pribadi bahkan sangatlah baik. Kesehatan kita ada di atas segala-galanya.

Namun, secara mengejutkan, di awal tahun ini dicetuskan kembali rencana sekolah tatap muka. Rencana ini diwacanakan akan direalisasikan pada bulan Juli 2021.

Presiden Jokowi bahkan menjadikan ini sebagai salah satu target nasional dengan memprioritaskan guru untuk mendapatkan vaksin setelah tenaga medis dan PNS. Hal ini memang cukup bagus sebenarnya, tetapi kita juga harus mempertimbangkan beberapa hal sebelum memulai sekolah tatap muka kembali.

1. Kesiapan Siswa

Memulai kembalin sekolah tatap muka sama saja seperti pada awal kita memulai sekolah online. Diperlukan adaptasi dari para pemangku kebijakan, guru, serta siswa itu sendiri. Saya cukup yakin jikalau para guru siap dengan adanya sekolah tatap muka kembali. Namun, di sisi siswa, apakah hal tersebut juga terjadi?

Perlu kita sadari bahwa selama kelas online diadakan terjadi banyak sekali pelonggaran. Seperti pelonggaran dalam berpakaian, dalam memperhatikan guru, dalam menjalankan tugas, dan masih banyak hal lainnya.

Hal ini tentunya membutuhkan adaptasi untuk dilakukan kembali. Bagi yang sudah mengenyam pendidikan tatap muka mungkin oke-oke saja. Tetapi, anak-anak di level TK hingga SD mungkin butuh adaptasi ekstra.

Begitupun dengan level SMP-Kuliah, pasti butuh adaptasi kembali. Mulai dari suasana kelas, cara bersosialisasi, hingga cara menyerap pelajaran harus disesuaikan kembali.

2. Kesiapan Fasilitas Penunjang Protokol Kesehatan dan Metode Pengajaran

Kenormalan baru tanpa adanya persiapan protokol kesehatan adalah suatu keniscayaan. Akan tetapi, meskipun sekolah-sekolah yang ada di Indonesia telah mempersiapkan  kenormalan baru dengan menyediakan fasilitas-fasilitas penunjang protokol kesehatan, tanpa adanya kesiapan dari sekolah itu sendiri, maka tidak akan jadi apa-apa.

Sebagai contoh, anggaplah sekolah telah menyediakan fasilitas untuk menunjang protokol kesehatan, tetapi di sisi lain metode pengajaran mengharuskan murid untuk berdekatan atau belajar secara berdampingan. Bukan tidak mungkin, hal tersebut akan menjadi media penularan yang baru.

Akan tetapi, di sisi lain, penyesuaian metode pengajaran akan membutuhkan adaptasi kembali (seperti poin 1). Hal ini pada akhirnya akan menjadi suatu PR lagi bagi pemangku kebijakan yang ada.

Apakah dengan membuka sekolah tatap muka artinya akan terjadi perubahan kurikulum? Jikalau iya, maka metode pengajaran di level guru pun akan berubah dan kemungkinan besar akan benar-benar membutuhkan adaptasi lebih.

Sehingga, kesiapan fasilitas beserta metode pengajarannya harus benar-benar diperhatikan sebelum masuk ke dalam sekolah tatap muka. Karena percuma saja, kalau memang ada fasilitas tetapi pengajaran malah menjadi media penularan itu sendiri.

3. Waktu Belajar

Pada sekolah tatap muka sebelum adanya Covid-19, sekolah tatap muka bisa berlangsung selama kurang lebih 8 jam. Mulai dari jam 7 pagi hingga jam 3 sore (ah, saya jadi merindukan saat-saat itu).

 Akan tetapi, hal ini tentu saja menimbulkan kelelahan dan menimbulkan kontak dengan banyak orang saat di sekolah. Entah itu dari pihak dalam sekolah, maupun dari pihak luar sekolah, dapat terjadi kontak yang lebih besar jikalau waktu bertemu jauh lebih panjang.

Oleh sebab itu, waktu belajar pun harus dipangkas untuk mengurangi adanya kontak dengan orang banyak. Namun ini akan menimbulkan masalah lanjutan. Jikalau memang waktu dipangkas, apakah alokasi hari akan bertambah?

Nah, ini adalah salah satu masalah yang menjadi kendala utama bagi kebanyakan institusi sekolah untuk menjalankan sekolah tatap muka. Karena, mau tidak mau, senang tidak senang, jikalau dengan kurikulum yang ada sekarang, waktu belajar yang panjang adalah satu-satunya jawaban.

Jikalaupun menggunakan kurikulum darurat Covid-19, maka materi yang diajarkan jauh lebih sedikit dan hal ini membuat pengajaran tatap muka terkesan tidak ada bedanya dengan pengajaran online. Hanya saja kita memindahkan tempatnya dari Hp masing-masing kembali ke ruang kelas yang disertai canda tawa.

Pada akhirnya, ini hanyalah pertimbangan bagi para pemangku kebijakan yang ada. Alangkah baik jikalau beberapa hal ini dikaji ulang kembali. Karena sesungguhnya, mengembalikan sekolah tatap muka sama saja seperti saat kita memindahkan sekolah ke dunia digital.

Kita membutuhkan adaptasi serta penyesuaian-penyesuaian sebelum sekolah yang kita kenal bisa kembali normal seperti sedia kala.

Sumber : kompasiana.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *