Pengamat: Bukan Peta Jalan, Pendidikan Butuh Cetak Biru

Kemdikbud Program Pendidikan

JAKARTA:  Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) tengah merancang peta jalan pendidikan Indonesia 2020-2035. Namun menurut pengamat pendidikan, Indra Charismiadji, istilah peta jalan tersebut kurang tepat.

“Kemendikbud membuat peta jalan. Saya tidak cocok dengan istilah peta jelan. Kalau peta jalan sudah ada tujuannya. Kalau cetak biru, tergantung kemampuan kita,” ujar Indra dalam Focus Grup Discussion dalam siaran YouTube TVUPI, Selasa, 9 Maret 2021.

Untuk itulah dia menggunakan istilah cetak biru. Indonesia menurutnya butuh rancangan tetap dalam pembangunan pendidikan, bukan mengejar titik tertentu seolah melihat peta.

“Bagaimana kita membangun kalau tidak punya cetak biru. Kalau kita mau bangun rumah mampunya satu lantai ya itu punya kita. Itulah kenapa saya setuju pakai istilah cetak biru,” sambung dia.

Direktur Pendidikan Vox Populi Institute Indonesia itu menyatakan, selagi cetak biru belum ada, maka pelaksanaan program pendidikan tidak pernah kelihatan hasilnya. Membangun pendidikan menurutnya adalah bagian proses yang didasari rancangan.

“Kalau kita gunakan teori yang namanya kognisi itu kan sebuah proses. Harusnya cetak birunya itu dari sebuah proses, kalau kita punya program pendidikan ya jangan pakai episode. Episode-episode itu bukan proses,” jelas Indra.

Pun kata dia, saat cetak biru pendidikan dijalankan, maka yang melakukan pengawalan haruslah orang yang tepat. Dalam hal ini, dia menyatakan guru yang berkompetenlah yang dapat mengawal proses pembangunan dunia pendidikan tersebut.

“Pemilihan orang-orangnya, pendidik itu yang berarti harus dibangun. Pendidikan ini harus dikelola secara serius, tidak bisa dianggap enteng, disepelekan,” tutup Indra.

Sumber : medcom.id  

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *