Selamat Tinggal, Sekolah!

OPINI

Oleh : Muhammad Andi Firmansyah

Bersiaplah dan buat nyaman diri Anda sebelum membaca tulisan ini, sebab ini akan menjadi tulisan yang panjang bin lebar. Dan saya tidak peduli dengan itu!

Pada tahun 2021, sebesar Rp550 triliun atau sekitar 20 persen dari total anggaran pemerintah dialokasikan untuk pendidikan. Dari jumlah tersebut, Mendikbud menyebutkan bahwa anggaran pemerintah yang berada di bawah Kemendikbud hanya sekitar Rp81,5 triliun atau 14,8 persen.

Dan ini luar biasa! Bank Dunia menyampaikan, Indonesia merupakan salah satu negara dengan belanja pendidikan terbesar di dunia, jika diukur sebagai proporsi dari total pengeluaran pemerintah.

Opo ora hebat?

Meskipun dalam situasi yang sulit, pemerintah tetap menunaikan amanah UUD yang berpesan untuk mengalokasikan anggaran pendidikan sebesar 20 persen.

Angka statistik pendidikan nasional pun bisa dibilang mengalami peningkatan yang keren: jumlah penduduk yang tertampung di bangku sekolah sejak TK sampai perguruan tinggi meningkat, jumlah bangunan gedung sekolah yang menjangkau sampai ke pelosok-pelosok desa terpencil, jumlah perlengkapan dan sarana belajar yang kian modern, jumlah tenaga pengajar yang semakin memenuhi persyaratan baku, jumlah…

Ah, tunggu dulu!

Ternyata, di balik semua angka-angka laju pertumbuhan itu, juga telah terjadi angka-angka kebalikannya dalam perbandingan yang tak kalah fantastiknya: jumlah buta huruf yang meningkat pada tahun lalu (meskipun kecil, tapi tetap saja MENINGKAT), jumlah siswa yang terpaksa gigit jari karena kehabisan jatah kursi di perguruan tinggi, jumlah lulusan sekolah dan sarjana yang frustrasi karena sulit mendapatkan kerja, jumlah lulusan yang kebingungan dengan arus hidup, jumlah…

Ya ampun… bahkan saya belum selesai.

Sebuah data terbaru datang dari Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) yang menyebutkan bahwa jumlah anak putus sekolah di masa pandemi cukup tinggi. Kasus ini mayoritas menimpa anak-anak yang berasal dari keluarga miskin.

Dan dalam paparannya, KPAI mengungkapkan setidaknya ada 5 penyebab tingginya anak putus sekolah di masa pandemi: menikah, bekerja, menunggak iuran SPP, kecanduan game online, dan meninggal dunia.

Kita abaikan penyebab terakhir, karena siapa yang bisa menghendaki takdir?

Tapi, ada yang lebih mengiris hati. Generasi muda kita banyak mengalami Gaming Disorder, bahkan diduga paling tinggi di Asia. Saya tahu ini sekadar spekulasi, tapi lihatlah di sekeliling Anda. Perhatikan unggahan para anak remaja kita di media sosial sekarang ini!

Lihatlah perilaku remaja kita di tempat umum. Perhatikanlah bagaimana mereka berpenampilan! Hitunglah rata-rata durasi para remaja di sekitar Anda dalam bermain ponsel. Dan tanyakanlah bagaimana kabar kegiatan pembelajarannya di sekolah. Jika jawabannya hanya seputar sibuk mengerjakan tugas, bukankah ini sebuah ironi?

Di mana peranan sekolah sekarang ini? Bagaimana dengan alokasi dana 20 persen itu? Mengapa statistik mengagumkan dari pendidikan nasional juga beriringan dengan kemerosotan moral remaja kita? Apa yang sebenarnya terjadi?

Bukankah gedung-gedung sekolah semakin megah? Bukankah jumlah bantuan dana pendidikan semakin tinggi? Bukankah akses untuk masuk sekolah semakin terbuka? Bukankah seminar di sana-sini semakin merajalela guna meningkatkan kualitas tenaga pengajar?

Begitulah kita yang lebih suka mengutak-atik angka-angka statistik agregatif, lalu mulai asyik dengan perkara mutu hasil pendidikan, kesesuaian kurikulum sekolah dengan kebutuhan masyarakat, efektivitas metodologi pengajaran, peningkatan kemampuan guru-guru, pengembangan sarana dan prasarana belajar, serta berbagai percobaan lainnya yang katanya demi perubahan kualitatif.

Perubahan kualitatif? Belum tentu!

Memang betul, angka-angka murid tinggal kelas berhasil ditekan dan kian mengecil. Tapi, bukankah itu memang wajar karena tolok ukur evaluasi hasil belajar dibuat melar-mulur dan dikatrol sedemikian rupa demi pencapaian angka target lulusan (termasuk demi nama baik dan gengsi sekolah yang bersangkutan)? Lantas bagaimana soal mutu para lulusan?

Memang betul, kurikulum sekolah telah dibuat lebih ramping. Tapi, bukankah hal itu lebih karena semua mata pelajaran diringkas-ringkas dan dipadat-padatkan? Dan berapa persen di antaranya yang benar-benar dapat dipahami oleh para pelajar? Berapa persen yang benar-benar berguna dalam kehidupan? Apakah kurikulum itu sudah memenuhi kebutuhan nyata dari pada murid itu sendiri?

Dan ini yang paling ironi. Mengapa untuk ikut ujian saringan masuk universitas saja, mayoritas siswa lulusan SMA masih merasa perlu mengikuti kursus-kursus bimbingan belajar di luar sekolah yang semakin menjamur dan semakin mahal pula?

Beberapa teman saya tak berniat ikut ujian saringan masuk universitas karena merasa tak mampu untuk mengikuti bimbel. Apakah kalian bercanda? Lantas apa yang kita lakukan selama 12 tahun jika pada akhirnya harus berujung demikian?

Memang betul, kemampuan guru-guru semakin meningkat berkat seribu satu seminar dan dukungan perangkat keras maupun perangkat lunak yang juga semakin lengkap. Tapi, bukankah semua itu memang hal yang wajar-wajar saja dan mutlak bagi sistem persekolahan masa kini jika ingin dianggap baik?

Artinya, yang terjadi sesungguhnya bukanlah suatu perubahan kualitatif, tapi lebih merupakan suatu penambahan kualitatif saja(?)

Juga, memang betul, sarana dan prasarana pembelajaran semakin beragam sekarang ini. Tapi, bukankah “tempat pelariannya” pun semakin beragam? Cek saja data statistik tingkat pengguna media sosial di kalangan remaja Indonesia!

Jadi, apa yang sesungguhnya terjadi dalam upaya peningkatan mutu pendidikan nasional belakangan ini adalah tak lebih (baik) daripada sebuah usaha tambal-sulam yang melelahkan. Kita seperti sedang melakukan barter; sebuah barter akbar!

Mari simak sebuah kisah dari seseorang yang (cukup) malang.

Dia suka menulis sesuatu yang abstrak. Dan pernah suatu ketika, seorang guru menugaskan muridnya untuk menulis sebuah esai tentang cara belajar yang efektif. Sebagai murid yang patuh, dia mengerjakan tugas itu dengan hati riang. Maka tibalah waktu presentasi.

Malang, dia malah kena semprot gurunya itu hanya karena argumen dari esainya dianggap menyesatkan! Salah satu argumennya berseru, “Jadilah pribadi yang bebas! Jangan ketergantungan dengan sekolah, sebab semesta adalah ruang belajar. Bagaimanapun juga jangan menjadi candu dengan sekolah. Sama seperti candu merokok, kita tak akan tahu betapa nikmatnya sebatang cokelat karena selalu mengidamkan sebatang rokok. Jika kita kecanduan sekolah, kita akan buta dengan keindahan dunia luar!”

Argumen itu menyesatkan, katanya! Semacam provokasi agar teman-temannya tidak fokus dengan sekolah. Semacam persuasi untuk meninggalkan tugas-tugas sekolah! Sial, anak itu menempati peringkat pertama dari SD hingga kelulusannya!

Dan ya, anak itu memang sering ditertawakan karena pemikirannya yang sering berbeda. Bahkan, beberapa orang menganggapnya ateis karena kegemarannya belajar filsafat.

Tapi, ada pengalaman lainnya yang tak kalah ironis. Saat hendak masuk sekolah SMP, dia tak lulus masuk ke sekolah yang diidamkannya. Dan itu bukan masalah, dia menjadi juara umum setelahnya. Dan lalu saat hendak masuk SMA, nasibnya sangatlah persis dengan sebelumnya. Lagi-lagi, itu bukanlah sebuah masalah baginya.

Kurang ironis? Saya belum selesai! Satu tahun menjelang kelulusannya, dia menyatakan dengan nada resah (dalam hatinya) bahwa sekolah ternyata tak memberinya banyak hal yang didambakannya sebagai seorang anak yang memiliki rasa keingintahuan yang besar.

Dan karena itu, dia merasa lebih baik segera bekerja saja dan berhenti sekolah. Beruntung, orang-orang di sekitarnya banyak yang menghalangi dan berusaha meyakinkan; tinggal satu tahun lagi saja!

Apakah saya sedang menceritakan diri sendiri? Sial, itu mungkin saja terjadi!

Namun, tak banyak dipertanyakan: mengapa sekolah sampai melakukan hal yang bahkan bertentangan dengan hakikat keberadaannya sendiri sebagai lembaga pendidikan, yang seharusnya menyalurkan bakat dan semangat keingintahuan seseorang?

Dengan kata lain, (terutama bagi diri saya pribadi) sekolah sudah terlanjur dibenci, tapi pada saat yang bersamaan, sekaligus juga amat didambakan. Sekolah boleh berbuat salah, tapi ia harus tetap ada dan dibutuhkan, atau lebih tepatnya, dituntut untuk tetap menerima setiap orang sebagai warganya.

Ini tak menunjukkan hal lain kecuali adanya ketakberdayaan menghadapi kepelikan suatu sistem yang telah sedemikian mapan, tapi sekaligus juga demi menjaga identitas dan gengsi nama besarnya.

Apa anehnya sekolah “favorit” sering berprestasi? Toh mereka hanya menerima orang-orang yang sudah berprestasi di jenjang sebelumnya. Ini menjadi suatu fenomena yang… sudahlah!

Bukankah setiap orang berhak mendapatkan pelayanan pendidikan yang terbaik? Bukankah itu dijamin dan menjadi amanah konstitusi semua negara dan bangsa yang beradab?

Kembali ke permasalahan remaja kita sekarang ini. Di mana letak peran sekolah?

Jika sekolah hanya sekadar mengisi luang waktu para muridnya (terutama para anak SMA/sederajat), apakah tak lebih baik bagi mereka untuk bekerja saja? Toh dengannya mereka mendapatkan uang, bukan sekadar tumpukan tugas setinggi Everest.

Bukankah dengan bekerja mereka justru bisa belajar lebih banyak hal yang bermanfaat tentang realitas kehidupan yang sesungguhnya? Bukankah dengan bekerja mereka justru bisa lebih cepat bersikap mandiri dan dewasa? Bukankah itu menjadi salah satu tujuan akhir dari proses pendidikan itu sendiri? Dan itu berarti, bahwa sesungguhnya mereka tetap “bersekolah” juga?

Teman-teman di sekitar saya merasa kehilangan sesuatu yang teramat sangat bermakna bagi diri dan hidupnya jika mereka gagal dalam menjalani ujian. Di sisi lain, mereka punya bakat di luar mata pelajaran sekolah.

Orang-orang seperti demikian akan merasa terpaksa dan dipaksa menerima dua kenyataan pahit sekaligus: masyarakat mencapnya gagal, dan lama-kelamaan, dia sendiri pun akan merasa dirinya memang telah benar-benar gagal dan sia-sia!

Saya melihat sebagian guru masih dalam posisi otoriter dan bukannya “kawan belajar”. Wajar saja kalau murid-muridnya tak suka bersekolah dan memilih media sosial yang memberinya banyak kebebasan.

Sangat terasa, bukan? Para pelajar di masa pandemi semakin kebingungan dalam melakukan pembelajaran karena terbiasa menuruti apa kata otoriter. Sedangkan sekarang, mereka dituntut untuk kreatif sendiri dalam melakukan pembelajaran. Mereka takut untuk memulai, bahkan malas untuk berpikir. Mereka hanya duduk menunggu sekolah kembali tatap muka dan mengisi penantiannya dengan ikut tren sana-sini.

Saya masih melihat kedudukan murid sebagai “objek”. Saya masih melihat sekolah sama sekali tak memberikan penyadaran dan pembebasan. Saya masih melihat murid-murid berlomba-lomba memuntahkan hafalan-hafalan yang sesungguhnya tak relevan dengan kehidupan nyata.

Apakah hanya sebatas itu peranan sekolah?

Cobalah kira-kira sendiri: berapa besar sebenarnya watak dan sikap atau kepribadian manusia modern saat ini yang dibentuk oleh lembaga yang namanya sekolah? Orang-orang besar dan berkepribadian agung sepanjang sejarah di masa lalu, dibentuk oleh sekolah atau bukan? (Ingatkah Anda dengan kisah-kisah orang sukses yang berhenti dari sekolahnya?)

Jika sekarang banyak orang berwatak “seperempat setan”, apakah itu juga hasil bentukan sekolah atau bukan?

Kalau “ya”, lantas apa makna dan fungsi sekolah yang semakin banyak kita bangun serta para sarjana yang semakin banyak diluluskan?

Kalau “tidak”, dengan alasan bahwa hal itu lebih sebagai hasil dari bentukan faktor-faktor lain seperti media sosial, lantas apa fungsi yang harus dijalankan sekolah? Di mana pengaruh sekolah terhadap karakter pemuda bangsa kalau begitu?

Berapa banyak waktu yang dihabiskan anak sekolah untuk membaca buku ketimbang waktu mereka untuk menonton film oppa-oppa Korea? Kalau terjadi kemerosotan adab pada anak sekolah, apakah itu sekadar dosa dari film-film remaja picisan?

Lantas, di mana peranan sekolah?

Lalu, cobalah reka-reka sendiri: berapa banyak sebenarnya ilmu pengetahuan yang dimiliki oleh anak sekolah saat ini yang memang benar-benar diberikan oleh lembaga yang namanya sekolah? Jangan-jangan malah banyak dari pengalaman mereka terhadap kehidupannya sendiri. Atau dari buku-buku di luar pelajaran sekolah!

Inilah yang membuat Everett Reimer tanpa ragu mengatakan, “Sekolah sudah mati!”

Perhatikan saja niat para anak-anak masuk sekolah! Mayoritas dari mereka hanya ingin berijazah dan bergelar saja! Berapa banyak dari mereka yang benar-benar menikmati pembelajaran? Jangan-jangan (sebagian) sekolah memang sudah gagal dalam membangun suasana belajar yang menyenangkan sehingga murid-muridnya sendiri memilih mencari tempat pelarian.

Saya teringat dengan penggalan lirik dari lagu The Happiest Days of Our Lives (Pink Floyd).

We don’t need no education

We don’t need no thought control

No dark sarcasm in the classroom

Teachers leave them kids alone

Hei! Teachers! Leave them kids alone!

All in all it’s just another brick in the wall

Pada akhirnya, kita dapat melihat bahwa para pelajar itu sendiri sudah mulai mengabaikan sekolah dan terobsesi dengan beraneka ragam tren.

Sekolah seperti kehilangan jati dirinya, laksana seorang pahlawan yang dianggap sudah ketahuan akan kelemahannya. Bahkan hakikat dari pendidikan itu sendiri seperti hanya mengambang saja, tak mampu menyelami paradigma para pelajar.

Karenanya, selamat tinggal, sekolah!

Saya tidak bermaksud mengkritik atau menyindir pihak mana pun, sebab saya pun hanyalah seorang pelajar yang pada dasarnya sudah 12 tahun tergabung dalam sistem ini, tapi saya belum mempersembahkan apa pun yang berarti.

Saya ingin semua orang berkaca dengan tulisan yang ala kadarnya ini. Karenanya, biarkan mereka membaca ini. Setidaknya kita berkontemplasi bersama. Siapa yang tahu, mungkin akan terlahir solusi jitu dari sebuah tulisan yang membosankan?

Sumber : kompasiana

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *