Salah Proses dalam Menghafal, Pantaskah Disesalkan?

OPINI

Oleh : aathifah.nr

Tak sedikit orang yang menganggap penghafal alquran adalah suatu keistimewaan, yaah istimewa dengan akhlaknya, tutur katanya, kesehariannya, dan segala macam kesempurnaan lainnya.

Tapi tidak untuk sebagian orang yang menurutnya telah salah jalan ketika melewatinya hingga berujung pada penyesalan yang sangat dalam.

Bagaimana mungkin menyesal dengan segala usaha yang ia korbankan siang dan malam hingga ia mendapatkan gelar umum seorang penghafal Al Qur’an? bukannya itu adalah bentuk keistimewaan sebuah takdir? takdir yang indah…yang kata orang “dipaksa masuk surga”, yang Allah tetapkan jauh beribu hingga berjuta tahun lalu, untuk menjadi keluarga-Nya yang berada di atas bumi, yang Al-Quran akan menjadi syafa’at di akhirat kelak untuknya, hingga memperoleh derajat tinggi di surga Allah kelak, serta beberapa keistimewaan dan keutamaan lainnya baik dunia maupun di akhirat… pantaskah ini disebut sebuah “Penyesalan”?

Berikut beberapa point penting yang sering terjadi bahkan di lupakan oleh mereka yang sedang menempuh jalan yang mulia ini, hingga berakhir pada kata sesal…

Pertama, Lupa membersihkan hati

Ketika yang mulai menghafal itu anak-anak mungkin hati mereka masih belum ternodai oleh iming-iming dunia apalagi jika kedua orang tua telah memahamkan sejak dini keutamaan-keutamaan menghafal Al Qur’an, maka beda halnya jika orang dewasa yang telah banyak melakukan kesalahan-kesalahan serta maksiat yang di sengaja maupun tidak, maka perlu namanya taubat an-nasuuha memohon ampun kepada-Nya serta menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah serta berdo’a sehingga di mudahkan dalam menghafal Al Qur’an.

Kedua, Niat yang salah

Salah dalam berniat bisa sangat fatal resikonya pada penghafal al-quran karena niat adalah kunci utama di setiap amalan,

Umar -radiyallahu’anhu- berkata pernah mendengar Rasulullah SAW bersabda:

“Sesungguhnya (sahnya) amal-amal perbuatan adalah hanya bergantung kepada niatnya, dan sesungguhnya setiap orang hanya akan mendapatkan apa yang diniatinya. Barangsiapa hijrahnya adalah karena Allah SWT dan Rasulu-Nya, maka hijrahnya dicatat Allah SWT dan Rasul-Nya. Dan barangsiapa hijrahnya karena untuk mendapatkan dunia atau (menikahi) wanita, maka hijrahnya adalah (dicatat) sesuai dengan tujuan hijrahnya tersebut.”

Suatu kerugian besar bukan? jika awalnya saja salah bagaimana kedepannya? Yakinlah dampaknya bukan hanya pada satu hal tapi banyak, juga termasuk semangat yang kadang turun drastis up down hingga tak bisa terkendalikan sehingga keinginan untuk bangkit tak ada, terlanjur kecewa dengan dunia, bahkan bisa jadi akhir yang tak bertanggung jawab pada hafalan karena niat awal yang hanya untuk ikhtibar atau musabaqoh saja.

Ketiga, Bermaksiat tanpa sadar

Adalah point penting yang para penghafal Al-Qur’an perhatikan, karena ilmu adalah cahaya sedangkan cahaya Allah tidak diberikan kepada ahli maksiat.

Berkata imam Syaafi’i rahimahullahu dalam sya’irnya:

“Aku pernah mengadukan kepada Waki’ tentang jeleknya hafalanku. Lalu beliau menunjukiku untuk meninggalkan maksiat. Beliau memberitahukan padaku bahwa ilmu adalah cahaya dan cahaya Allah tidaklah mungkin diberikan pada ahli maksiat.”

Maksiat yang dimaksud disini tidak berfokus pada dosa-dosa besar tapi berupa pelanggaran-pelanggaran kecil yang kita remehkan yang jika ditumpuk akan menjadi besar seperti; mendengarkan musik hingga menikmatinya, menggibah, meminjam barang orang lain tanpa izin apalagi sampai mengambilnya, terjerumus pada kesyubhatan atau hal-hal sederhana lain, sehingga itu menjadi suatu kebiasaan yang dianggap enteng tapi berakibat fatal pada hafalan Al-Qur’an dunia dan akhirat -na’uudzubillahi min dzaalik-.

Keempat, Tidak memiliki azzam yang kuat

Khususnya para pemula yang didasari menghafal Al-Qur’annya karena kemauan orang tua, sehingga ia melalui hari-hari menghafal hanya mengikuti arus teman-temannya tanpa tujuan yang jelas. Bahkan bisa jadi tidak menyadari telah berapa lama ia menempuh waktu menghafalkan Al-Qur’an yang sebenarnya bisa lebih cepat dari target awal.

Kelima, Kurangnya motivasi

Motivasi bak seperti gizi dalam sebuah tubuh, semakin banyak menerima asupan semakin kuat dalam beraktivitas hari-hari. Motivasi ini tak harus banyak, cukup dengan kisah kisah singkat menarik padat dan jelas pada zaman Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam- para Sahabat, Taabi’in hingga kisah-kisah penuh hikmah pada zaman ini, atau bisa berupa video ceramah-ceramah juga bentuk visual menarik lainnya.

Keenam, Tidak memahami makna ayat

Terjadi pada sebagian orang yang kurangnya pemahaman tentang mu’aamalah dengan Al-Qur’an sehingga ketika menghafal mereka hanya mengandalkan ingatan otak, dimana letak ayat ini itu, juga ayat-ayat mutasyaabihah dengan menandainya di mushaf tanpa memahami seberapa pentingnya memahami dan mentadabburi ayat Al-Qur’an.

Ketujuh, Lupa doa dan restu orang tua serta guru

Hal yang dianggap sepele tapi sangat berpengaruh pada keberhasilan para penghafal al-quran. Apa yang mereka anggap dari orang tua dan guru adalah sekedar perantara materi dalam perjalanan mereka, orang tua sebagai tempat meminta uang jajan atau guru hanya penerima setoran harian tanpa menyadari pentingnya doa-doa mereka.

Setelah membaca 7 hal yang menjadi deretan penyesalan, boleh di sesali tapi untuk menjadikan diri lebih baik lagi, mencari solusi terbaik dan terpenting yaitu kembali kepada Allah, memohon hidayah-Nya, sambil meniti ulang jalan yang di telah di sesali, melunakkan hati yang telah mengeras membatu, menambali lubang-lubang dosa, membuang sampah-sampah maksiat, serta meneranginya dengan lampu-lampu do’a, motivasi serta dukungan dari orang-orang yang dicintai.

Allah subhaanahu wa ta’aala berfirman:

( )

Artinya: “Dan orang-orang yang berjuang di jalan kami, maka sungguh kami benar-benar memberi petunjuk (kemudahan) kepada jalan-jalan kami, dan sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang berbuat ihsan.” QS. Al Ankabut: 69

Semoga tulisan ini dapat bermanfaat bagi yang membacanya serta dapat diterapkan untuk mencoba ketika ingin memulai menghafal Al-Qur’an

Bumi Allah, 1 Sya’ban 1442 H

Sumber : kompasiana

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *