Waspada! Ini Macam-macam Cacat Pikir di Lingkungan Sekolah

OPINI

Oleh : Mohammad Rafi Azzamy

“Sekolah adalah tempat manusia menghamba, mengabdi pada peraturan-peraturan ala penjajah”

Sekolah oh sekolah, betapa agungnya dirimu, selalu dipuja-puja sepanjang masa, wahai sekolah andaikan ada yang tau berapa buruk rupanya dirimu, mungkin manusia akan berhenti menjadi pengikutmu. Tapi mau bagaimana-pun seluruh umat manusia harus menjadi hambamu agar diakui oleh sesamanya, aku tidak terima itu sekolah!!! Maka dari itu izinkanlah salah satu dari hambamu yang tak patuh ini mengungkap beberapa busuknya dirimu.

Wahai pembaca budiman, siapakah gerangan yang isi hatinya seperti paragraf pertama? Kalau ada, mari kita sama-sama melapangkan dada, berusaha sabar dan tabah terhadap pendidikan yang belum merdeka. Tapi pembaca budiman, pada tulisan kali ini saya akan mencoba memberi kalian beberapa senjata yang mungkin akan berguna untuk berjuang melawan ketidakadilan di sekolah, senjata itu logika namanya.

Logika adalah amunisi pikiran tuk melawan kebodohan

“Manusia dapat merdeka dengan logika, membebaskan pikirannya dari belenggu para penjajah”

Kita semua pasti pernah mendengar apa yang disebut sebagai logika, baik itu dari ilmu pengetahuan secara langsung, atau dari manusia sebagai sarana tuk gaya-gaya an (memang benar sih kalau kita akan terlihat keren ketika sok-sokan menggunakan kata logika). Tapi terlepas dari itu semua, apakah kita sudah benar-benar tahu apa itu logika? Yaps, logika itu adalah alat yang memungkinkan manusia menggunakan rasionya, salah satu cabang filsafat yang berguna sebagai pengukur kemasukakalan suatu persoalan.

Mungkin hanya logikalah yang dapat menghakimi benar-tidaknya suatu peristiwa, tentu hanya manusia yang dapat menggunakannya, sebagai suatu amunisi pikiran tuk melawan kebodohan, sekaligus sebagai alat tuk mencari pengetahuan dan kebenaran.

Cacat pikir bikin kecerdasan tersingkir

Sesuatu dapat dikatakan logis apabila ia memenuhi standar awal kemasukakalan, yang mana suatu saat ia dapat dibantah dengan hal yang memiliki standar kemasukakalan yang lebih tinggi. Agar mudah, kita sebut saja logika sebagai akal sehat, ia tentu juga bisa sakit apabila gagal dalam memenuhi rukun kemasukakalan, penyakit itu ‘fallacy’ namanya.

Fallacy atau cacat pikir, adalah fenomena dimana logika gagal memenuhi standar kemasukakalan, tentu jika hal tersebut dibiarkan, akan mengakibatkan tersingkirnya kecerdasan. Maka dari itu kita harus mencegahnya dengan terus menguji seberapa kuat kebenaran dari suatu premis proposisional, jika premis itu mengalami kegagalan dalam ujian logisnya, maka dipastikan ia salah karena ada fallacy (cacat pikir) di dalamnya.

Kenali cacat pikir di lingkungan Sekolah

Seperti yang saya tulis di paragraf awal, sekolah seakan menjadi suatu tempat yang segala argumen di dalamnya adalah suatu kebenaran absolut, padahal jika ditelusuri, banyak sekali cacat pikir yang terjadi. Tapi mengapa jarang ada yang menyadarinya? Karena kebanyakan dari kita hanya sekedar memuji bukan menguji kebenaran dari argumen yang berada pada sekolah, oleh karena itu yuk kita uji bersama.

Ini macam-macam cacat pikir di lingkungan sekolah:

Argumentum ad hominem

Cacat pikir yang satu ini mungkin seringkali kita dapati, cacat pikir ini terjadi apabila pendapat yang dikemukakan seseorang alih-alih menyerang gagasan, tapi justru menyerang kepribadian.

Contoh :

Ketika kalian sempat mengkritik guru atau berselisih pendapat, lalu guru tersebut menjawab “Kamu anak kemarin sore aja Lo, saya ini sudah pernah jadi kamu, sedangkan kamu belum pernah menjadi saya”.

Argumentum ad ignoratium

Cacat pikir ini terjadi apabila seseorang membenarkan sesuatu karena sesuatu itu belum terbukti keberadaannya.

Contoh :

Ketika guru bilang “Karena kelas ini tidak ada yang disiplin, maka kalian semua akan terkena hukuman”.

Argumentum ad nauseam

Cacat pikir ini terjadi ketika suatu argumen yang belum tentu benar atau bahkan salah, selalu diulang-ulang sehingga akan dianggap benar secara otomatis.

Contoh :

Peraturan pemotongan rambut dengan alasan kedisiplinan.

Strawman Fallacy

Cacat pikir ini terjadi ketika seseorang melakukan suatu kesalahan interpretasi (mendistorsi pesan) terhadap lawan bicaranya atau ciri khas tertentu dari sang lawan

Contoh :

Murid : “Menurut bapak, apa gunanya peraturan pemotongan rambut panjang?”

Guru : “Jelas untuk kerapian, ketaatan dan kedisiplinan dong. Lalu, kamu mau menjadi murid tak taat dan disiplin sehingga tidak memotong rambut?”

Murid : “Bapak menuduh saya tak taat hanya karena saya bertanya mengenai pemotongan rambut?”

Guru telah melakukan strawman Fallacy.

False equivalem

Cacat pikir ini terjadi apabila seseorang ingin menyamakan dua hal, padahal faktanya kedua hal tersebut berbeda.

Contoh :

Apabila guru memarahi murid dengan mengatakan “Kenapa sih kamu itu tidak seperti temanmu, padahal sama-sama manusianya”

Hasty generalization

Cacat pikir ini terjadi apabila seseorang menyimpulkan sesuatu berdasarkan bukti yang sangat kurang.

Contoh :

“Wah anak ini selalu berada di peringkat terakhir, jelas saja dia nakal dan tidak patuh”, kata seorang guru.

Tu quoque

Cacat logika ini terjadi apabila seseorang dikritik tapi malah menjawabnya dengan kritikan lain ke lawan bicaranya, sehingga bahasan utama bergeser.

Contoh :

Murid : “Pak/Bu kenapa sekolah ini gedungnya saja yang megah, tapi kecerdasan muridnya di bawah rata-rata, lalu kenapa sekolah ini mengutamakan memperbagus bangunan ketimbang memperbaiki penalaran?”

Guru : “Kamu itu tugas aja sering tidak mengerjakan, kerjakan dulu tugasmu sebelum memikirkan itu”

Guru telah melakukan tu quoque.

Itulah macam-macam cacat pikir, dan masih banyak cacat pikir yang lainnya.

Serunya melawan kebodohan dengan kecerdasan

Setelah memahami macam-macam cacat pikir tersebut, apa yang pembaca pikirkan? Tergelitik bukan betapa tidak ilmiahnya lingkungan sekolah?. Tapi apakah pembaca budiman sempat berfikir tuk melawan kepongahan para guru dengan logika yang ampuh?.

 “Asyik ketika kita melihat kebodohan terus diperlihatkan, jangan pusing dan tetap santuy, biarlah anjing menggonggong kalau kata pepatah”

Ketika mendapati guru atau siapapun melakukan cacat pikir, semisal “Kamu karena tak ada perilaku yang baik, maka rapotmu akan saya beri tinta merah semua”, tinggal balas saja “Pak/Bu, argumentum ad ignoratium!”. Asyik bukan? Coba saja terapkan di lingkungan sekolah kalian.

Cacat pikir tersebut bukan hanya berlaku di lingkungan sekolah, tapi juga seluruh kehidupan kita, saya menyorot sekolah karena banyak berhala yang perlu dihancurkan di sana.

 Sekian terima kasih.

Sumber : kompasiana

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *