Pendidikan yang Belum Memerdekakan: Eksplorasi Anak yang Dibatasi

OPINI

Oleh : Rani Fitriani

Pada hakikatnya Pendidikan merupakan tuntutan dalam hidup dan tumbuhnya anak dan pada perannya Pendidikan merupakan segala kodrat yang ada pada anak agar mereka bisa mencapai keselamatan dan kebahagian yang setinggi- tingginya baik sebagai manusia maupun sebagai anggota masyarakat. Pendidikan merupakan susunan untuk membimbing dan mengarahkan manusia yang selalu mangalami kemajuan di dalamnya. Pendidikan juga berperan dapat membawa perubahan guna membangun peradaban bangsa. Oleh karena itu, Pendidikan yang memerdekakan tentunya akan memberi ruang bagi anak-anak, dalam membawa perubahan guna menginterprestasikan keinginan, ambisi dan semangat tanpa di tuntut harapan dan tekanan.

Tapi, sadarkah kita bahwa Pendidikan di negara kita belum sepenuhnya dapat memberikan kemerdekaan bagi anak-anak? seperti halnya masih banyak orang tua yang menuntut anaknya untuk menjadi apa yang mereka inginkan bukan menjadi apa yang anak-anak mereka inginkan. Coba bayangkan berapa banyak orang tua yang merayakan keberhasilan anaknya meraih nilai ujian tertinggi? berapa banyak orang tua yang merasa berhasil melihat anaknya bisa masuk universitas favorit? di sisi lain coba kita lihat, berapa banyak orang tua yang memberikan pilihan kepada anaknya untuk memilih apa yang mereka sukai, sebagai contoh ketika anak memilih mata pelajaran yang mereka sukai, jurusan atau universitas yang mereka inginkan, berapa banyak orang tua yang meberikan kebebasan dalam memilih? tentu masih banyak orang tua yang belum memberikan kebebasan kepada anak untuk mengembangkan diri mereka, hal ini di lansir masih menjadi paradigma dalam Pendidikan. Banyak orang tua yang masih menganggap menjadi juara olimpiade sains itu lebih baik dari pada lomba cipta puisi, menggambar, bernanyi dan lain-lain. Bahkan, banyak orang tua yang merasa masuk sekolah atau universitas negeri itu lebih unggul dari pada sekolah dan universitas-universitas swasta, dan masih banyak orang tua yang memaksa anaknya untuk les sampai malam hari dan marah ketika anaknya tidak belajar tapi malah asik bermain musik. Dari sini kita dapat melihat bagaimana Pendidikan di posisikan. Pendidikan yang seperti ini hanya akan membentuk generasi robot, generasi yang minim ide kreatif dan inovatif.

Negara Indonesia yang sudah merdeka sejak 17 Agustus 1945 dan kebangkitan nasional yang sudah di mulai sejak 1908, tapi sampai saat ini kita belum dapat merasakan merdeka dalam belajar. Pendidikan yang seharusnya memberikan kemerdekaan kepada anak untuk berkembang seluas-luasnya, memberikan ruang kepada anak untuk menentukan keputusanya, mengembangkan anak untuk berkreasi dan berani mengambil resiko rasanya belum tercipta, melihat banyaknya orang tua yang menggantungkan ekspektasi kepada anak dengan segala tuntutan dan keharusan membuat anak sulit mengembangkan apa yang mereka miliki, seolah Pendidikan dipandang untuk mencetak tipe orang tertentu dengan standar yang harus di capai. Untuk itu, Pendidikan yang di butuhkan adalah Pendidikan yang membebaskan manusia untuk memberikan kesadaran akan dirinya yang tidak terasing dari masyarakat dan dunia, hal ini sejalan dengan konsep belajar Ki Hadjar Dewantara bahwa Pendidikan merupakan sesuatu yang mengembalikan manusia pada kodratnya sebagai makhluk yang memiliki kebebasan.

Sudah saatnya kita membuat perubahan bagi Pendidikan Indonesia dengan mewujudkan Pendidikan yang dapat memberikan kemerdekaan, Pendidikan yang tidak berada di bawah perintah ataupun aturan yang mengikat, Pendidikan yang tidak memberikan tekanan dan tuntutan untuk mencapai sebuah standaritas. Sudah saatnya pula kita mendorong anak untuk memerdekakan dirinya dalam balajar dan mengembangkan diri seluas-luasanya, Sudah saatnya orang tua mendorong dan menggerakan anak untuk belajar dan berkarya semerdekanya untuk mencapai tujuan merdeka mengembangkan diri dalam belajar dengan bahagia, mandiri, inovatif dan kolaboratif, dan sudah seharusnya orang tua paham tentang prinsip merdeka belajar bagi anak-anak mereka agar anak dapat tumbuh dengan bahagia.

Orang tua berperaan penting dalam Pendidikan anak, menurut salah satu studi yang dilakukan profesor Neal Halfon dari University of California di Los Angeles meyebutkan salah satu faktor yang menentukan kesuksesan anak adalah harapan orang tua. Orang tua yang percaya pada apa yang ada di dalam diri anak menjadi prediktor utama dalam kesuksesan anak terlepas dari anak sekolah di mana, dia memiliki kemampuan seperti apa, keterampilan dan kreativitas di bidang apapun, hal tersebut akan membantu anak merasa merdeka belajar. Kebanyakan orang tua masih menerapakan Pendidikan kerdil, di mana esensi kepintaran di bidang akademik masih di jadikan sebuah standar pada kesukessan anak, tentu hal tersebut hanya akan membuat anak menilai Pendidikan hanya sebatas pencapian semata, padahal Pendidikan yang harusnya di jadikan wadah mengembangkan potensi yang ada di dalam anak rasanya masih belum di pahami. Kebanyakan orang tua hanya fokus pada standar yang ada, alih-alih memahami dan mengerti bahwa setiap anak memiliki kemampuan yang berbeda. Hal tersebut di jadikan sebuah harapan agar anak bukan hanya di cetak menjadi orang dengan tipe tertentu, tapi dapat mengenal esistensi dirinya sendiri dan dapat membawa perubahan terhadap bangsa dan negara.

Untuk itu perlu kesadaran dini bahwa Pendidikan adalah sesuatu yang harus dan dapat memberikan kebebasan terhadap diri agar setiap diri dapat meninterprestasikan apa yang menjadi bakat dan talenta, sehingga Pendidikan menjadi hal yang di senangi, bukan menjadi suatu hal yang membebani.

Sumber : kompasiana

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *