Juni 16, 2021
Guru Pembangun Insan Cendekia

Guru Pembangun Insan Cendekia

Oleh : Bebet Rusmasari

Tidak banyak yang tahu bahwa lagu ‘Hymne Guru’ pada bait terakhirnya sudah berubah yaitu :

“Engkau patriot pahlawan bangsa

Tanpa tanda jasa…”

kata-kata ‘tanpa tanda jasa’ diganti menjadi ‘pembangun insan cendekia’. Jadi bait terakhir tersebut berbunyi :

“Engkau patriot pahlawan bangsa…

Pembangun insan cendekia…”

Perubahan lirik lagu Hymne Guru pada kalimat terakhir telah disepakati dan ditandatangani pada tanggal 27 November 2007, disaksikan oleh Dirjen PMPTK Depdiknas dan ketua pengurus besar Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI). Hal itu juga diperkuat dengan surat edaran Persatuan Guru Republik Indonesia Nomor 447/Um/PB/XIX/2007 tanggal 27 November 2007.

Bukan tanpa alasan, hal itu memang benar. Dulu, guru dikatakan tanpa tanda jasa karena terkesan bekerja tanpa pamrih. Hal ini seolah-olah mengerdilkan profesi guru. Mengingat apresiasi terhadap guru pada jaman itu tidak sesuai dengan pengabdiannya dalam mewujudkan cita-cita perjuangan nasional yakni mencerdaskan anak bangsa, terutama dalam hal kesejahteraannya. Tidak heran pula jika guru mendapat julukan ‘Oemar Bakri’ yang lahir dari keresahan penyanyi Iwan Fals akan mirisnya nasib guru jaman dulu.

Saya masih teringat awal-awal perjuangan saya menjadi guru tahun 2005 silam. Gaji yang saya terima sekitar 700an ribu. Bersih sudah dipotong pajak, dipotong asuransi kesehatan, dipotong iuran-iuran organisasi guru dan organisasi pegawai. Itupun sudah termasuk tunjangan fungsional dan tunjangan beras. Ada pula insentif dari pihak sekolah yang diberikan setiap tiga bulan karena waktu itu masih ada iuran komite yang dibayarkan oleh siswa.

Namun, dengan pendapatan segitu, saya merasa lebih dari cukup. Bahkan untuk keperluan pengembangan materi ajar, waktu itu saya membiayai sendiri alat tulis dan buku-buku referensi saya. Anak-anak juga hampir tiap sore datang ke rumah untuk bimbingan tanpa saya pungut bayaran.

Tahun 2009 hingga kini nasib guru baik dalam hal kesejahteraan dan pengembangan keprofesian sudah semakin diperhatikan dan difasilitasi dengan sangat baik oleh pemerintah maupun lembaga swasta yang berkecimpung di bidang pendidikan.

Dengan adanya sertifikasi guru, guru jaman now bisa menikmati tambahan penghasilan berupa tunjangan profesi yang setara dengan satu kali gaji pokok. Ditambah lagi dengan adanya tunjangan lauk pauk, tunjangan penghasilan pegawai, kemudian saat hari raya ada lagi tunjangan hari raya. Nah, terakhir ada gaji 13 yang bisa digunakan untuk keperluan sekolah anak-anak.

So, what stops us from being great teachers?? Di awal tahun ajaran dan masa belajar efektif, saya tidak punya banyak waktu luang. Masuk jam 7.15 dan pulang jam 3 sore. Mengajar non stop ditambah ekstrakurikuler selepas jam mengajar, rasanya sebanding dengan kenikmatan saat menyaksikan keberhasilan anak-anak didik saya, tanpa perlu memikirkan apakah harus bekerja sambilan menambah penghasilan.

Yang saya butuhkan adalah waktu. Waktu untuk sekedar mengelap keringat. Waktu untuk sekedar menyapa keluarga saya walau hanya via telepon. Waktu untuk sekedar menghela nafas saat proses belajar tidak sesuai dengan perencanaan, bahkan kadang berakhir dengan tidak terduga. Tapi…pada saat yang tepat, semua akan terbayar di akhir semester. Saat anak-anak libur, guru juga libur. Disitulah kenikmatan yang hakiki saya peroleh sebagai guru.

I deserve that! Saya pantas mendapatkannya. Semua guru pantas mendapatkannya. Libur and do whatever they want to do, not at school. Including by doing nothing๐Ÿ˜ƒ.

Well, di tahun ke 16 saya mengajar, dengan perhatian dari seluruh stake holder pendidikan yang begitu besar terhadap nasib guru, ada satu hal yang patut saya banggakan. Hal yang menjadi kemewahan yang tidak mampu terbeli oleh gaji dan tunjangan apapun. Kekayaan yang hanya bisa dipamerkan oleh seorang guru.

Harta yang tak ternilai itu adalah anak-anak didik saya. Anak-anak didik adalah benih yang diamanahkan oleh Yang Maha Kuasa kepada orangtuanya dan dititipkan kepada guru. Seiring waktu, mereka menunjukkan kematangan dan kedewasaan untuk menghadapi kehidupan. Mereka menciptakan ruang dan waktu mereka sendiri dengan takaran sukses yang mereka berani tentukan sendiri. Mereka adalah benih insan-insan cendekia. Mereka adalah anak-anak saya….๐Ÿ˜๐Ÿ˜๐Ÿ˜

Sumber : kompasiana ย 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *