Juni 16, 2021
Realita Sistem Pendidikan Indonesia, Pembelajaran Daring Bikin Pusing?

Realita Sistem Pendidikan Indonesia, Pembelajaran Daring Bikin Pusing?

Oleh : Raihanah Najla Putri

Isu Pendidikan merupakan satu hal yang ramai diperbincangkan saat ini. Terkait penerapan sistem pendidikan baru akibat adanya pandemi Covid-19. Sistem Pendidikan ini banyak menuai pro dan kontra dari berbagai pihak.

Hal tersebut karena adanya pandemi Covid-19. Hal ini membuat kita mendapat gambaran bagaimana sistem Pendidikan berbasis teknologi kedepannya. Teknologi dibuat untuk memudahkan manusia dan teknologi akan terus berkembang. Namun permasalahannya adalah pandemi memaksa semua orang untuk mempercepat pemanfaatan teknologi. Sementara belum diimbangi dengan kesiapan mental dan kapasitas sumber daya manusia yang cukup.

Apakah semua orang memiliki kemampuan beradaptasi di level yang sama? Apakah semua orang memiliki mindset serta keinginan untuk segera beradaptasi? Apakah hal ini adil bagi seluruh lapisan masyarakat? Apakah sistem pembelajaran seperti ini tidak membuat kesenjangan sosial semakin terlihat?. Pertanyaan-pertanyaan seperti ini seolah menjadi tantangan dalam pengaplikasian sistem pembelajaran daring.

Bagi orang-orang yang tidak kesulitan dalam beradaptasi. Hal ini dapat menjadi sesuatu yang baru dan menarik untuk dikembangkan namun bagi pihak lain tentunya mengalami berbagai kendala. Namun, kita tidak dapat mengetahui kapan pandemi ini akan berakhir.

Dalam situs https://www.un.org/sustainabledevelopment/youth/ menyampaikan bahwasannya dampak pandemik terhadap pendidikan sangat tinggi.

Sebagian besar negara mengumumkan penutupan sementara sekolah,sehingga berdampak pada lebih dari 91 persen siswa di seluruh dunia.Tentunya hal tersebut menjadi perhatian masyarakat dan tenaga pendidik di seluruh dunia. Begitu pula banyak anak putus sekolah karena dampak pandemi.

UNICEF menemukan 938 anak di Indonesia putus sekolah akibat pandemi covid-19. Dari jumlah tersebut 75 persen di antaranya tidak dapat melanjutkan pendidikan karena terkendala biaya.

Perwakilan UNICEF Indonesia, Debora Comini mengatakan hal tersebut terjadi karena orang tua siswa banyak yang kehilangan pendapatan dan pekerjaan sejak virus corona masuk ke Indonesia.

Kemudian, berdasarkan data PISA (Programme for International Student Assessment). Indonesia berada di peringkat 6 terbawah dari 77 negara di dunia dalam hal sistem pendidikan. Mengapa hal tersebut dapat terjadi di Indonesia yang notabene nya negara yang kaya namun masih saja masuk dalam negara berkembang? Salah satu sebabnya adalah sistem Pendidikan yang masih belum optimal jika dibandingkan dengan negara-negara lainnya.

Pendidikan merupakan satu hal penting dalam pembentukan kualitas serta pengembangan sumber daya manusia. Pendidikan merupakan kunci untuk keluar dari kemiskinan.

Dapat kita lihat negara-negara yang maju memiliki tingkat literasi serta Pendidikan yang terjamin oleh pemerintahnya. Contoh negara-negara tersebut adalah Jepang, Finlandia, dan Amerika yang memiliki sistem pembelajaran terbaik di dunia. Menunjukan bahwasannya suatu negara dapat dikatakan negara yang maju jika sumber daya manusianya memiliki sistem Pendidikan yang baik.

Mengapa negara tersebut memiliki sistem Pendidikan yang baik?. Tingkat literasi masyarakat yang tinggi pada negara-negara maju, membentuk suatu sistem Pendidikan semakin berkembang. Literasi dalam bahasa Latin disebut sebagai literatus, yang berarti orang yang belajar. Semakin banyak seseorang belajar maka kemampuan serta keterampilan kognitif baik membaca,menulis,berbicara,bahkan pada pemecahan masalah akan semakin baik.

Sebagai salah satu contoh terkait literasi. UNESCO menyebutkan      minat baca masyarakat Indonesia sangat memprihatinkan. Hanya 0,001%. Artinya, dari 1,000 orang Indonesia, hanya 1 orang yang rajin membaca. Memangnya kenapa kalau minat baca rendah?. Membaca merupakan kunci meningkatnya pengetahuan. Bagaimana suatu negara dapat terus berkembang, jika SDMnya kurang menggali pengetahuan dengan membaca.

Hasil pengamatan World’s Most Literate Nations Ranked yang dilakukan oleh Central Connecticut State University pada Maret 2016 , Indonesia dinyatakan menduduki peringkat ke-60 dari 61 negara soal minat membaca, persis berada di bawah Thailand (59) dan di atas Bostwana (61).

Padahal, literasi merupakan kunci utama berkembangnya ilmu pengetahuan.Sistem Pendidikan yang berubah akibat pandemik membuat kesenjangan sosial semakin terlihat. Karena banyaknya siswa yang tidak memiliki perangkat memadai atau lingkungan yang kurang mendukung dalam menuntut pengetahuan.

Dalam wawancara (10/02/2021) bersama Ayu Putri mahasiswi salah satu universitas di kabupaten Bekasi mengatakan; “Kegiatan belajar daring terasa membosankan. Berdiam di tempat duduk sembari memperhatikan pengajar,banyaknya tugas yang harus segera diselesaikan, belum lagi berbagai aktivitas di luar rumah membuat sistem pembelajaran ini terasa kurang efektif”Namun, kita juga tidak tahu kapan Covid-19 ini akan hilang.

Oleh karena itu dari hasil wawancara tersebut membuktikan bahwasannya diperlukan pembelajaran menarik ,menyenangkan,dan informatif agar pembelajaran ini dapat berjalan efektif.

Lalu bagaimana cara nya? Proses kegiatan belajar mengajar di era new normal akan mengalami adaptasi. Menurut pengamat Pendidikan di lampung yakni Prof.Karwono  mengatakan bahwasannya kegiatan belajar mengajar di era new normal harus mampu dilakukan dengan blended learning. Artinya kegiatan belajar mengajar yang dilakukan merupakan penggabungan antara pembelajaran tatap muka dan virtual.Hal ini merupakan suatu alternatif sistem yang memadukan kegiatan belajar face to face dengan sistem belajar online.

Menurut Jared M. Carmen dalam Charles & Graham (2005: 2), seorang President Aglint Learning. Mengungkapkan bahwa terdapat lima kunci untuk melaksanakan pembelajaran dengan sistem  blended learning,yaitu :

  • Live event. Pembelajaran langsung atau tatap muka secara sinkronis dalam waktu dan tempat yang sama.
  • Self-Paced Learning. Mengkombinasikan dengan pembelajaran mandiri yang dapat diakses dimana saja baik dalam bentuk bacaan maupun pembelajaran multimedia.
  • Collaboration.Seorang pendidik maupun peserta didik dapat melakukan proses pembelajaran berbasis lintas sekolah.
  • Assessment. Guru mampu merancang kombinasi penilaian baik tes maupun non tes.
  • Performance support materials. Harus memperhatikan kesiapan sumber daya untuk mendukung implementasinya.

Oleh karena itu peran tenaga pendidik serta orang tua dalam men-support siswa sangat besar. Tentu kejadian seperti ini menuntut peserta didik juga tenaga pendidik harus belajar dan melakukan pembelajaran secara online atau daring tetap dilaksanakan tetapi dengan ketercapaian dan tujuan Pendidikan yang tetap berkualitas dan bermutu (Syaharudin, S. (2020)).

Dari penyampaian tersebut didapatkan informasi bahwa penting adanya keterkaitan antara  pengajar,orang tua serta siswa untuk bersinergi serta diperlukannya fasilitas memadai agar tidak terjadi kesenjangan akses terhadap Pendidikan berkualitas. Jikalau sistem pembelajaran hanya sekedar memberikan penjelasan kemudian tugas-tugas yang bertumpuk maka hal tersebut kurang efektif karena diperlukan penggunaan metode yang inovatif dan kreatif untuk menumbuhkan semangat siswa dalam belajar demi kemajuan generasi emas bangsa ini.

Sumber : kompasiana

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *