Ketika Pandemi Masih Belum Menepi, Mastery Learning Kujadikan Opsi

OPINI

Oleh : Ozy V. Alandika

Begitulah. Pandemi memang masih belum menepi. Dua hari yang lalu aku baru saja mengumpulkan data nama-nama guru SD di sekolah kami dalam rangka persiapan vaksinasi. Detail waktunya aku belum tahu. Bisa jadi akan digelar pada bulan Ramadan nanti.

Walau begitu, secara pribadi aku sungguh mengapresiasi segenap Pemda yang memberikan keleluasaan bagi sekolah untuk menggelar pembelajaran tatap muka dengan tetap mematuhi protokol kesehatan yang ketat.

Jika jalan tersebut tidak ditempuh dengan segera, bahaya. Learning loss mengancam, begitu pula dengan learning poverty. Kita cukup prihatin dengan tumbuh kembang ajar siswa. Sebentar lagi mereka lulus lho, sedangkan sebagian dari mereka bakal naik kelas.

“Kita mengambil tindakan yang cepat dan gesit untuk bisa melaksanakan lagi sekolah tatap muka,” kata Mas Mendikbud Nadiem pada akhir Februari 2021 kemarin.

Setuju dong! Bukan hanya pemerintah secara umum saja yang diminta bergerak gesit, guru, wali murid, bahkan para murid sendiri juga diharapkan cepat “ngeh” terhadap pentingnya aktivitas pembelajaran.

Di saat banyak orang menyandarkan vaksinasi sebagai harapan dibukanya tatap muka, di saat itu pula guru-guru mulai sedikit melirik banyaknya ketertinggalan materi.

Aku pula demikian. Sebagai guru mata pelajaran, ada 13-14 bab yang perlu diselesaikan selama satu tahun. Sekarang?

Barangkali baru setengahnya. Padahal di sisi yang sama kisi-kisi US dan kegiatan Ujian Praktik sudah dimulai lho. Mulai deh kejar-kejaran!

Kendati demikian, dalam dua minggu ini aku secara tidak sadar telah mengubah model mengajar dari yang sebelumnya ekspositori-inkuiri menjadi mastery learning alias belajar tuntas.

Pedekate dengan Mastery Learning

Ketika dikatakan “belajar tuntas”, rasanya banyak dari kita yang bakal mengingat kurikulum 2013. Terang saja, kurikulum yang sudah menjalani berbagai revisi dan pengembangan sejak pertengahan tahun 2013 ini sengaja dihadirkan agar siswa tidak lagi dihadiahkan banyak PR.

Terkait dengan mastery learning sendiri, sejatinya model yang dulunya dijuluki Learning of Mastery ini bukanlah hal yang baru. Tercatat, tahun 1968 Benjamin Bloom telah meluncurkan strategi pembelajaran instruksional belajar tuntas secara resmi.

Bisa dibayangkan, aku malah mundur menuju 53 tahun ke masa lalu. Tapi, ada bedanya.

Jika dulu mastery learning lebih menekankan penguasaan berbasis kompetensi serta ketuntasan atas nilai secara formatif, maka sekarang belajar tuntas bisa kita hadirkan agar siswa mampu melahap konsep dasar materi ajar.

Hal tersebut sesungguhnya merupakan perbedaan yang mencolok sekaligus menjadi kunci dari suksesnya pembelajaran penguasaan alias pembelajaran tuntas.

Detailnya, ada 3 kunci utama agar mastery learning model sukses diimplementasikan di kelas walaupun dalam kondisi terbatas.

Kunci Mastery Learning. Illustrated by newlearnerlab.com

Kunci Mastery Learning. Illustrated by newlearnerlab.com

Pertama, occurs at the formative level.

Barangkali bayangan pertama kita tentang mastery learning hanyalah berkisar pada instruksi guru, bimbingan, penjelasan, menggelar tes sumatif dan formatif, lalu dapat nilai. Sesederhana itu, bahkan sangat konvensional.

Tapi sebenarnya belajar tuntas lebih dari itu. Kita menginginkan siswa untuk menguasai materi pembelajaran, bukan malah menguasai nilai.

Secara, apalah artinya jika anak-anak menuntaskan 85-95% materi ajar tapi hanya ditilik dari segi tes. Besoknya? Bisa jadi mereka lupa.

Kedua, emphasizes foundational concepts.

Karena terbatasnya pembelajaran tatap muka maupun virtual di era pandemi, bisa jadi tidak sedikit guru yang masih mengejar setumpuk materi demi menuntaskan kurikulum.

Bagaimana tidak, hadirnya kurikulum dalam kondisi khusus yang menekankan pembelajaran berbasis esensi seakan-anak hanya mitos belaka. Mengapa aku katakan begitu? Lihat saja kisi-kisi US SD hingga SMP. Semua bab dalam buku ajar siswa dilahapnya.

Artinya, di sebalik harapan pembelajaran yang berbasis esensi, sebenarnya guru juga tertekan oleh kurikulum, kan? Jadi, tak bisa semata-mata guru yang disalahkan. Gara-garanya, kehadiran metode penugasan yang terus eksis bisa-bisa kita anggap wajar. Hahaha

Tapi tidak begitu kok. Kunci sekaligus pembeda dihadirkannya mastery learning ialah agar siswa bisa menguasai materi ajar secara tuntas, bukan sekadar menguasai nilai untuk lulus ujian sekolah maupun ujian semester. Noted!

Ketiga, Examines and Reflects on Results

Sekali lagi, pembelajaran tuntas tidak berhenti di angka 85-100 sebagai nilai penguasaan. Itu hanya nilai, bahkan siswa yang menghafal materi ajar sewaktu pembelajaran semuanya bisa dapat nilai 100.

Kalau begitu, tidak ada bedanya kita yang hari ini dengan suasana belajar pada 53 tahun lalu.

Maka darinya, agar mastery learning model sukses digelar walau dalam kondisi terbatas, penilaian guru tidak terbatas pada aspek kognitif semata melainkan juga menekankan aspek afektif.

Bagaimana hal tersebut bisa dilakukan? Ada sebuah mindset penting bahwa nilai itu tidak sekadar dicatat, melainkan juga dilacak.

Ketika guru melacak nilai, secara tidak sengaja dirinya sedang mengamati sekaligus menghargai proses siswa. Sekali lagi, apalah artinya angka-angka jika esok hari siswa lupa. Sia-sia saja kita menghabiskan hingga 14 bab materi ajar dalam waktu singkat.

Alasanku Memilih Mastery Learning Model sebagai Opsi

Pembelajaran di era pandemi yang belum segera menepi ini sangat terbatas. Itulah alasan terbesarku.

Gegaranya, aku malah berpikiran sederhana, yaitu dengan mengajarkan konsep dasar, membiarkan siswa praktik, hingga menggelar penilaian dengan menempatkan instruksi pembelajaran sebagai kunci.

Dengan cara tersebut, otomatis materi ajar jadi semakin ramping, bukan? Inilah cara jitu mengejar ketertinggalan materi. Hihihi

Meski begitu, di sini guru menjadi pribadi kunci suksesnya pembelajaran walau dalam kondisi terbatas. Ya, mau tidak mau guru perlu merevisi dan merumuskan harapan belajar siswa semanis mungkin. Manis dalam artian menyentuh esensi, ringkas, realitas, dan tuntas.

Selebihnya? Perlibatan dan perenungan masing-masing siswa juga menjadi kunci lainnya. Jadi, tiada mengapa kita memperlambat umpan balik, yang penting siswa menyadari bahwa ketuntasan belajar itu tidak sekadar tertuang dalam kalimat “Aku dapat 95, Pak. Tuntas!”

Salam.

Sumber : kompasiana  

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *