Dosen UNS Buat Gerabah Hand Sanitizer

Kampus

SOLO – Pakar Lingkungan dari Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo, Pranoto, membuat inovasi hand sanitizer alami dalam bentuk gerabah. Bakteri atau virus bisa terbunuh ketika mencuci tangan tanpa sabun dengan air yang dialirkan dari gerabah tersebut.

Pranoto menjelaskan, gerabah tersebut dibuat dari tanah yang mengandung lempung ajaib alofan. Alofan merupakan satu kandungan yang ada di tanah andisol di gunung vulkanik.

Dari hasil penelitiannya, pada alofan terdapat gugus silanol dan aluminol. Dua komponen tersebut bisa menyerap logam berat, memecahkan zat warna, dan membunuh bakteri dan virus karena memiliki Ph tinggi lebih, yakni di atas 11. Ketika ada virus lewat di gerabah itu, maka virusnya mati.

Penelitian dilakukan menggunakan air dari Kali Pepe, Bengawan Solo dan Kali Jenes yang memiliki kandungan bakteri E-coli. Setelah airnya didiamkan dan dialirkan dari gerabah, ternyata bakterinya mati.

“Kalau air dialirkan di gerabah itu kan airnya suasana sudah ada alofannya, jadi kalau untuk cuci tangan yang kena bakteri atau virus itu virusnya akan mati,” kata Pranoto, Jumat (2/4).

Pranoto menyebut, cara menggunakan gerabah tersebut untuk mencuci tangan tanpa sabun. Melainkan cukup air biasa didiamkan selama 30 menit di dalam gerabah.

“Air mengalir itu sudah menghilangkan bakteri. Sehingga saya katakan hand sanitizer alami, jadi tidak usah gunakan sabun, cukup air biasa,” ungkapnya.

Penelitian gerabah hand sanitizer tersebut dilaksanakan pada 2020 dengan anggaran hibah dari Kemenritek/BRIN. Meski demikian, penelitian soal alofan sudah dilakoni Pranoto sejak 2014. Berbagai produk telah dihasilkan dari alofan, seperti penjernih air hingga gerabah hand sanitizer.

Alofan tersebut dapat diperoleh dari gunung vulkanik, seperti Gunung Lawu, Papandayan, Galuggung, Sindoro, Sumbing, Slamet, Wilis, bahkan di kawasan selain gunung vulkanik, seperti di Mojolaban Kabupaten Sukoharjo dan Banyumas. Tanah tersebut mirip seperti tanah-tanah yang biasa digunakan untuk kerajinan genteng dan batu bata.

“Proses pembuatannya sama kayak gerabah biasa, hanya kandungan tanah yang berbeda.

Bisa jadi yang dibuat pengrajin sudah ada kandungan alofannya cuma kadarnya berbeda,” imbuh Guru Besar Kimia Lingkungan Air Fakultas MIPA UNS tersebut.

Pranoto menyatakan, penemuan alofan tersebur telah mengantongi Hak atas Kekayaan Intelektual (HAKI). Sedangkan gerabah hand sanitizer alami masih proses mengajukan Hak Cipta.

Saat ini, dia gencar menyosialisasikan penemuan gerabah hand sanitizer tersebut kepada masyarakat Solo Raya, termasuk civitas akademika dan alumni UNS.

“Sudah ada rencana produksi massal. Sudah ada kerja sama, masuk hilirisasi yang komersial. Kami kan sudah punya jaringan dengan dunia usaha dan dunia industri (DUDI) yang menggarap. Kami sudah siap produksi massal kalau ada yang pesan,” pungkasnya.

Sumber : republika.co.id  

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *