Pelatihan Jurnalis Muslim untuk Tingkatkan Profesionalisme

Jawa Barat Kampus

BANDUNG — Sebagai bentuk kepedulian terhadap peningkatan kualitas profesionalisme jurnalis muslim di Indonesia, tim dosen dari Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Islam Bandung (PKM Fikom Unisba) melaksanakan kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) bagi para jurnalis muslim yang berasal dari beberapa organisasi massa (ormas) Islam. Kegiatan ini berlangsung dalam jaringan (daring) selama tiga hari pada 8-10 April 2021.

“Kegiatan ini kami selenggarakan berangkat dari kepedulian kami atas pentingnya peran media Islam di Indonesia sementara dalam proses manajemen maupun keredaksiannya masih memerlukan peningkatan,” kata ketua Tim PKM Fikom Unisba, Arba’iyah Satriani, Sabtu (10/4).

Karena itu, kegiatan bertema “Enhancing Professionalism of Muslim Jurnalists in Handling Disinformation and Haxes in the Covid-19 Pandemic Era” ini dibagi menjadi beberapa bagian. Pertama, adalah prapelatihan berupa focus group discussion (FGD) dengan manajemen beberapa media Islam yaitu NU online, Suara Aisyiyah, Hidayatullah dan Risalah Persis. Kedua adalah kegiatan pelatihan yang dilaksanakan selama tiga hari.

Ketiga melakukan pemantauan dan pendampingan pemberitaan yang dibuat para jurnalis muslim tesebut. Selain itu, ada pula kegiatan pendokumentasian pengalaman liputan para jurnalis muslim di masa pandemi ini dalam sebuah buku.

Sementara itu, kegiatan pelatihan tiga hari diisi dengan pemberian materi selama dua hari. Hari ketiga adalah diskusi untuk membahas mengenai materi-materi yang disampaikan dalam dua hari pertama. Pelatihan hari pertama diisi oleh para pakarnya di bidangnya, yaitu Febi Dwirahmadi, SKM, MSc.PH, PhD dari Grifith Univesity yang menyampaikan materi mengenai Isu Kesehatan terkait Covid -19 di Indonesia dan Australia; Dr Septiawan Santana K, Drs., M.Si dari Fikom Unisba dengan topik Kontemporesasi Jurnalisme: Audio dan Digital serta Dr. Ross Tapsell dari The Australian National University dengan topik Praktik Jurnalistik di Indonesia dan Australia. Keterlibatan dua pakar dari Australia adalah karena program ini didukung oleh Pemerintah Australia melalui Australian Alumni Grant Scheme dan  diadministrasikan oleh Australia Awards in Indonesia ini.

Pada hari kedua, materinya adalah Ancaman Hoax dan Post Truth pada Jurnalis oleh Firmansyah, S.I.Kom., M.Si, lalu topik tentang Berita, Feature dan Penelusuran Data oleh Arba’iyah Satriani, S.Pi., M.A (Hons) serta topik  mengenai Dimensi Bahasa di Media Alternatif Indonesia oleh Andalusia Neneng P, S.Sos. M.Hum.

Pada acara hari pertama, karena dibuka untuk umum maka jumlah peserta webinar mencapai hampir 200 orang. Sedangkan kegiatan pada hari kedua dan ketiga dikhususkan untuk para jurnalis muslim dari ormas Islam sehingga diikuti oleh 30 jurnalis.

 “Kegiatan ini sangat bermanfaat bagi kami untuk bersilaturahmi dengan jurnalis dari ormas yang berbeda dan juga meningkatkan pengetahuan kami,” kata Kelik Nursetiyo, perwakilan jurnalis dari muhamadiyah-jabar.id.  

Sumber : republika.co.id  

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *