Bagaimana perkembangan pendidikan di Indonesia selama pandemi covid-19?

OPINI

Oleh : Tyas Armyutha Garlina

Wabah virus Covid-19 yang hampir menyebar keseluruh Dunia yang mengakibatkan terhambatnya seluruh kegiatan manusia. Dalam menghadapinya berbagai Negara memiliki caranya sendiri untuk mulai menjaga warganya dari paparan covid-19 ini dengan menerapkan protokol kesehatan dan bersatu untuk negaranya. Berdasarkan data perkembangan kasus covid-19 di Indonesia dari bulan Maret 2019, hingga sekarang ini menunjukkan grafik yang sangat signifikan, yaitu makin meningkatnya jumlah kasus orang yang terjangkit covid. Pemerintah mengupayakan berbagai cara untuk mencegah terjadinya penyebaran virus corona salah satunya adalah dengan social distancing atau pembatasan sosial. Semua kegiatan yang melibatkan kerumunan banyak orang dihentikan sementara untuk meminimalisir terjadinya penyebaran virus. Pemerintah pun meliburkan seluruh sekolah, kantor, dan menutup tempat hiburan maupun rekreasi. Sistem pembelajaran tatap muka diganti dengan pembelajaran jarak jauh (daring) atau secara online, yang awalnya hanya 2 minggu sebagai tindakan utama dari pemerintah untuk mencegah penularan virus. Namun, dengan semakin meningkatnya jumlah kasus yang ada maka pembelajaran secara daring diperpanjang sampai saat ini.

Dimasa pandemi ini, daring menjadi solusi untuk tetap dapat melakukan pembelajaran tanpa bertatap muka dengan menggunakan bantuan teknologi. Namun, metode pembelajaran daring belum bisa optimal dalam proses belajar mengajar. Pengajar dan siswa dituntut untuk dapat menyesuaikan diri dengan sistem pembelajaran secara daring, dalam proses belajar mengajar pun menjadi tidak optimal, karena tidak sedikit pengajar yang sudah berumur dan kurang memahami tentang teknologi atau gaptek. Dan juga turunnya kesehatan mental para siswa yang diakibatkan oleh ketidaksiapan para siswa dalam mengikuti pembelajaran secara daring. Pembelajaran secara daring dinilai kurang efektif karena dapat menurunkan kualitas pendidikan di indonesia. Para siswa dituntut untuk mandiri, aktif dan dapat memahami maupun menguasai materi yang diberikan oleh pengajar. Dalam pelaksanaan kelas daring banyaknya keluhan dari para siswa tentang banyaknya tugas yang diberikan.

Proses pembelajaran secara daring membuat semangat belajar para siswa justru malah makin merosot, karena mengalami kejenuhan dalam mengikuti kelas daring. Karena, kehilangan suasana kelas, tidak adanya interaksi langsung dan tatap muka yang dijalani selama ini. Siswa merasa pembelajaran daring hanya banyak berputar pada tugas. Dengan banyaknya tugas dan kurangnya pemahaman siswa tentang pembelajaran yang diberikan oleh pengajar membuat para siswa mengerjakannya dengan mengandalkan internet sebagai alternatif dalam menegerjakan tugas tersebut.

Pembelajaran secara daring tidak hanya dikeluhkan oleh orang tua dan siswa, namun juga dikeluhkan oleh pengajar. Kendala teknis seperti jaringan yang sering down, biaya yang dipakai untuk paket internet demi keberlangsungan pembelajaran secara daring dan mau tidak mau harus mempelajari media pembelajaran yang digunakan untuk mengajar seperti zoom dan google meet. Pengajar juga harus bekerja ekstra dalam membimbing anak didiknya, karena tidak semua siswa dapat mengikuti pembelajaran dengan baik.

Bagi masyarakat perkotaan, smartphone, laptop, atau komputer sebagai media untuk pembelajaran secara daring memang sudah tidak asing. Begitu juga dengan jaringan internet yang dengan mudah didapat dan dinikmati disetiap rumah. Namun, tidak dengan masyarakat pedesaan, minimnya infrastruktur dan jaringan internet yang menjadi kendala utama pelaksanaan pembelajaran daring bagi para siswa yang tinggal di pelosok desa yang sulit mencari sinyal untuk mengikuti pembelajaran di masa pandemi ini. Para siswa harus mencari tempat yang tinggi untuk mendapatkan sinyal internet. Minimnya bantuan dari pemerintah di pelosok daerah membuat para siswa mencari ruang publik untuk memakai wifi gratis.

Pemerintah harus lebih memperhatikan dampak dari belajar daring, seperti tindakan atau kebijakan yang telah di berikan oleh pemerintah untuk para siswa yang mengikuti pembelajaran secara daring, yaitu dengan memeberikan subsidi paket internet untuk semua jenis operator. Paket internet tersebut didaftarkan melalui sekolah atau perguruan tinggi yang bersangkutan. Untuk saat ini Pemerintah sudah memberikan subsidi kuota untuk kepentingan daring para siswa.

Peran serta dukungan dari orang tua sangatlah penting dalam kelangsungan pembelajaran secara daring ini, yaitu dengan mengontrol dan memastikan bahwa sang anak sedang benar-benar belajar daring. Memberikan dukungan semangat dan motivasi kepada sang anak agar tidak jenuh dan bosan apalagi jika kehilangan semangat untuk belajar dengan menciptakan suasana yang nyaman dan menyenangkan. Orang tua juga dapat berperan menjadi seorang teman bahkan menjadi seorang guru dengan mendengarkan keluh-kesah dan memberikan solusi tentang masalah apa yang sedang dihadapi ketika belajar secara daring. Orang tua juga harus dapat mengerti teknologi dan tetap mengawasi dan mendampingi anak agar tidak ketergantungan dengan internet. Orang tua harus dapat membangun komunikasi dan interaksi yang baik kepada sang anak.

Peran penting pemerintah dalam mengurangi masalah yang timbul dari belajar dirumah dengan memberikan solusi yang baik agar dapat di selesaikan dan direalisasikan. Dengan adanya new normal peran masyarakat indonesia juga penting untuk saling mendukung dan membantu menjaga agar tetap menerapkan protokol kesehatan untuk mencegah peyebaran virus ini. Dengan begitu sekolah dan perguruan tinggi bisa kembali dibuka.

Pemerintah pusat dapat bekerjasama dengan pemerintahan daerah untuk menyediakan sarana dan prasarana yang dibutuhkan untuk dapat membuka kembali kegiatan pembelajaran tatap muka secara bertahap dan dengan disertai protokol kesehatan yang ketat agar pembelajaran dapat berjalan secara maksimal.

Rencana new normal bagi peserta didik yang akan diberlakukan ditahun ajaran baru pada 2021, setelah selesainya tahap vaksinasi. Adapun rencana pemerintah dalam pembukaan sekolah maupun perguruan tinggi dengan menerapkan physical distancing, menurut saya cara tersebut kurang efektif dan akan tetap beresiko selama masa pandemi ini belum bisa dikendalikan. Kebijakan new normal yang dilakukan pemerintah dalam bidang ekonomi, jasa, dan transportasi, mungkin dapat direalisasikan. Namun belum siap untuk di bidang pendidikan, karena jumlah orang yang terjangkit masih sangat tinggi. Banyak hal yang harus dipertimbangkan lagi dalam new normal pendidikan.

Pemerintah sebaiknya jangan terburu-buru dalam memberlakukan pembelajaran tatap muka, bila wilayah disekitar belum steril atau terbebas dari paparan virus corona. Apakah dengan menjalankan protokol kesehatan yang ketat dapat menjamin para peserta didik dapat terhindar dari penularan virus. Karena, sekolah maupun perguruan tinggi merupakan tempat berkumpulnya banyak orang yang memiliki resiko besar sebagai salah satu tempat penularan virus.

Sumber : kompasiana  

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *