Juni 16, 2021
Ki Hajar Menghamba pada Murid

Ki Hajar Menghamba pada Murid

Oleh : Suparmin

Refleksi Pemikiran Ki Hajar Dewantara

Refleksi ini saya tulis setelah mengikuti materi melalui zoom yang disampaikan oleh Ki Prio Dwia. Beliau menyampaikan materi dalam kegiatan Program Guru Penggerak Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Senin, 26 April 2021. Jika ada kekeliruan, itu berasal dari kekurangpahaman saya.

Ki Prio berkisah sewaktu diajar oleh Ki Hajar. Ki Hajar mengajar ilmu bumi atau geografi dengan menyuruh peserta didik membuat peta dari seonggok pasir yang ada. Ki Hajar mengajar peserta didik dengan memahami bahwa kodrat peserta didik itu bermain. Main-main itu tidak boleh dimatikan, tidak boleh dilarang, tetapi harus  diarahkan. Anak kecil yang memecahkan gelas di rumah adalah hal biasa, tugas kita bukan memarahi, tapi mengarahkan bagaimana memperlakukan gelas sesuai fungsinya.

Ki Hajar mengajar dengan sistem among, kemerdekaan anak lahir dan batin. Jiwa merdeka dibentuk sejak dini. Semuanya diberi muatan bermain. Abjad dipelajari dan dihapal dengan lagu. A-B-C-D….dengan tembang yang menarik (Ki Prio mendendangkan pelajaran yang telah dilaluinya puluhan tahun yang lalu). “Sulawesi seperti huruf K, Halmahera seperti Sulawesi tapi lebih kecil. Kalimantan seperti semar, yang seperti gambar burung itu, Papua.” Begitulah Ki Hajar mengajar peserta didik.

Ki Hajar mengutamakan kodrat. Manusia bisa maju jika sejajar dengan kodrat alam. Kodrat alam itu sudah ajeg. Anak pun demikian. Tidak bisa melambat, kita harus mengikuti kodrat kuasa Tuhan, kuasa Allah.

Tahun 1900-1920, K.H. Ahmad Dahlan telah mendirikan perguruan, Ki Hadjar saat itu masih bergumul. Ketika Ki Prio ditanya mengenai hal ini, beliau menjawab dengan penjelasan berikut.

Ki Hajar sifatnya multi kultur. Ki Hadar juga berkonsultasi dengan K.H. Ahmad Dahlan. Ahmad Dahlan menginginkan Ki Hajar mendirikan perguruan nasional. Di Eropa, Ki Hajar belajar sistem pendidikan yang memerdekakan. Dosen tidak boleh top down, tapi harus button up. Inilah reformasi pendidikan. Tapi hal ini diyakini oleh Ki Hajar sudah ada yakni, salah satunya Tut Wuri Handayani. Ilmu Ki Hajar lebih universal. K.H. Ahmad Dahlan menitipkan agar Ki Hajar mendirikan perguruan nasional. Karena orasi yang dianggap menentang penjajah, Ki Hajar harus dibui di Pekalongan. Nah, tahun 1922, lahirlah Taman Siswa. Ratih Tarbiyah sebagai nama anaknya yang juga menjadi simbol pendirian taman siswa.

“Kodrat alam, kemerdekaan lahir batin, kemerdekaan diri, kemerdekaan bangsa, melestarikan kemanusiaan umat seluruh dunia.” Salah satu seri pemikiran Ki Hajar. Lebih lanjut, Ki Prio mengatakan bahwa sistem pamong, ikhlas tanpa pamrih, mengabdi kepada anak menjadi hakikat pamong. Semua guru/pamong harus berserah diri pada sang anak, ikhlas tidak menuntut apa pun. Semua ide dan refleksi pemikiran ini dilahirkan berdasarkan kisah Ni Asti. Dari situlah juga sehingga beliau melahirkan pendidikan dengan asas kekeluargaan. Semua pamong harus memegang asas kekeluargaan. Itulah mengapa setiap sekolah taman siswa pasti ada pamong yang bermukim di sekolah.

Ketika Ki Prio ditanya apakah pemikiran Ki Hajar masih relevan dengan kondisi pendidikan saat ini? Mari simak jawabannya.

Metode Ki Hajar berlaku sepanjang masa. Pemikiran brilian beliau jauh melampaui zamannya. Beliau telah memprediksi berbagai hal yang memang terjadi kemudian. Salah satunya “kita banyak berpikir tentang sesuatu yang baik, padahal itu ternyata hanya baik untuk negara lain.” Ki Hajar menginginkan kita lahir secara pribadi. Kita maju, tapi kita harus paham tentang kemerdekaan secara internasional. Kodrat alam dan kodrad zaman mesti berjalan maju, bukan mundur. Pemikiran Ki Hajar berlaku sepanjang zaman.

Di sekolah, kita harus memahami bahwa Ki Hajar anti teori TABULARASA. Ki Hajar sadar betul bahwa kita harus sesuai kodrat alam. Sang anak sejak lahir memiliki talenta. Kewajiban pamong/guru mengetahui minat anak. Kita harus menghargai kemerdekaan sang anak. Pamong harus taat pada talenta anak, selama itu hal positif. Jika negatif, di situlah pamong harus berperan memandu ke arah yang lebih baik. Pamong dengan asas kekeluargaan menginginkan pamong mengembangkan sang anak sesuai apa kodrat yang digariskan Tuhan Yang Maha Esa.

Setelah Orde Baru, trilogi Ki Hadjar Dewantara dipahami dalam trilogi kepemimpinan. Padakal, Ki Hajar menginginkan bahwa trilogi itu bukan hanya dalam kepemimpinan, tetapi juga pendidikan.  Ketika Tut Wuri Handayani menjadi slogan dan hal itu ditanyakan kepada beliau, dia legowo dengan mengatakan selama itu memberikan manfaat, maka tidak ada masalah. Dalam Tut Wuri, sebenarnya, peserta didik harus aktif mencari tahu bukan sekadar menunggu info dari sang guru. Jadilah peserta yang aktif, bukan pasif.

Jika berbicara pada konteks guru penggerak, seorang guru penggerak harus semangat menghasilkan hal yang positif dan menghasilkan sesuatu yang bermanafaat bagi bangsa. Jika bekal cukup, jadilah teladan untuk sesama pendidik dan seluruh anak bangsa.

Sebagai penutup Ki Prio mengatakan bahwa sekarang, pendidikan di negara kita, banyak sekali mengambil sistem pendidikan yang tidak asli dari tanah air. Padahal, tokoh-tokoh dari luar itu datang ke taman siswa untuk berdiskusi kepada Ki Hajar Dewantara.  Trikon, konvergensitas, mengambil dan memilah pengetahuan dari luar. Konsentrisitas pada budaya luhur kita, musyawarah mufakat, gotong royong, dan lain sebagainya. Bagian tersebut diolah secara kontinuitas dari periode ke periode, dari generasi ke generasi. Hasil-hasil budaya harus dipertahankan secara berkelanjutan.

Sumber : kompasiana

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *