Yogyakarta Gelar Uji Coba PTM Secara Dua Tahap

Jawa Tengah Kampus

YOGYAKARTA: Pelaksanaan uji coba pembelajaran tatap muka (PTM) untuk jenjang SD dan SMP di Kota Yogyakarta akan dilakukan dua tahap. Tahap pertama pada akhir April dan tahap dua akan dilaksanakan usai Lebaran.

“Akan ada 10 sekolah yang mengikuti kegiatan uji coba sekolah tatap muka, dimulai pekan ini dan nanti usai Lebaran,” kata Wakil Wali Kota Yogyakarta Heroe Poerwadi di Yogyakarta, Senin, 26 April 2021.

Menurut dia, seluruh sekolah di Kota Yogyakarta siap melaksanakan kegiatan PTM karena seluruh sekolah sudah menjalani verifikasi untuk memastikan kesiapan sarana dan prasana protokol kesehatan. Verifikasi terhadap kesiapan sekolah dilakukan tiga kali, yaitu pada Januari, Maret dan April.

Namun, lanjut dia, untuk saat ini baru dilakukan uji coba atau simulasi sebagai bagian dari kebutuhan evaluasi sebelum PTM dilakukan secara menyeluruh. “Harapannya, pada tahun ajaran baru nanti sudah bisa dilakukan. Apalagi seluruh guru pun sudah divaksin,” kata dia.

Pada tahap awal, kegiatan uji coba sekolah tatap muka diselenggarakan bersamaan dengan pelaksanaan ujian akhir sekolah untuk jenjang SD dan SMP yang dilakukan pekan ini hingga 7 Mei.

Sebanyak 10 sekolah yang dilibatkan dalam kegiatan uji coba berdasarkan hasil verisikasi, adalah SD Margoyasan, SD Muhammadiyah Karangkajen, SD Lempuyangwangi, SD Tegalrejo 1, dan SD Serayu, serta SMP Negeri 1, SMP Negeri 7, SMP Negeri 8, SMP Negeri 9, dan SMP Negeri 15.

“Sebenarnya banyak yang mengajukan diri untuk melakukan uji coba sekolah tatap muka. Namun kami baru melakukannya di 10 SD dan SMP tersebut,” kata Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Kota Yogyakarta Budhi Asrori.

Pada tahap pertama, kegiatan uji coba untuk SMP diikuti siswa kelas 7 dan 8, sedangkan untuk SD diikuti siswa kelas 4 dan 5. Seluruh siswa pun diminta membawa kelengkapan protokol kesehatan, seperti memakai masker dan handsanitizer pribadi.

Siswa akan masuk tiga kali dalam satu pekan, dibagi berdasarkan siswa dengan nomor ganjil dan genap. Satu kelas maksimal diisi 12 anak dan siswa tidak dibagi dalam shift karena pergantian shift dinilai rentan terjadi kerumunan.

Mata pelajaran yang diajarkan adalah Bahasa Indonesia, Matematika, IPA, agama, dan budi pekerti. Pembelajaran dilakukan maksimal 120 menit per hari.

Sementara itu, uji coba tahap dua akan dilakukan pada 20 Mei hingga 17 Juni. Dalam kegiatan tersebut akan diikuti seluruh siswa kelas 1-6 SD dan kelas 7-9 SMP.

“Dimungkinkan juga ada penambahan sekolah yang melaksanakan uji coba, tergantung bagaimana hasil evaluasi pada tahap pertama,” ujar Budhi.

Budhi mengatakan, tujuan utama dari kegiatan sekolah tatap muka bukan pada upaya pencapaian target pembelajaran sesuai kurikulum, namun lebih ditekankan untuk membiasakan siswa mengikuti pembelajaran dengan menerapkan protokol kesehatan secara ketat.

“Tujuan terbesarnya adalah membiasakan siswa untuk kembali berinteraksi sosial di sekolah sekaligus untuk pembentukan karakter anak,” ungkap Budhi.

Selama uji coba sekolah tatap muka, Budhi memastikan pembelajaran secara daring tetap dilakukan. Izin dan persetujuan orang tua pun menjadi salah satu syarat dalam kegiatan tersebut.

Sumber : medcom.id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *