Juni 16, 2021
Cukup Sampai di Sini Saja Kesalahanku dalam Pendidikan

Cukup Sampai di Sini Saja Kesalahanku dalam Pendidikan

Oleh : Priesda Dhita Melinda

Ki Hadjar Dewantara merupakan bapak Pendidikan Nasional Indonesia, semua orang terutama guru sudah paham tentang hal ini. Tetapi tidak semua guru mengerti tentang pemikiran-pemikiran beliau tentang pendidikan, terutama bagaimana  mendidik siswa yang sebenarnya. Termasuk saya pun yang sudah menjadi guru, tidak mengerti tentang pemikiran beliau ini.

Beruntung saya berada dalam Pendidikan Guru Penggerak ini sebagai Calon Guru Penggerak, saya mendapat kesempatan untuk belajar mengenai pemikiran beliau.

Sungguh indah dan mengena sekali pemikiran-pemikiran beliau tentang pendidikan. Berikut saya akan berbagi dasar pemikiran Ki Hadjar Dewantara:

1. Guru itu Menuntun

Mungkin banyak yang berpikir tugas seorang guru itu mengajar dan mendidik siswa untuk menjadi sesuatu yang dapat membanggakan orang tua dan bahkan bangsa.

Tapi ternyata bukan sekedar itu, jika hanya mengajar dan mendidik, ada kemungkinan guru itu akan menuntut anak melakukan sesuatu yang mungkin saja tidak dapat dilakukan oleh anak tersebut.

Ki Hadjar Dewantara mengatakan guru itu menuntun bukan menuntut. Artinya guru mengarahkan anak untuk mencapai keselamatan dan kebahagiaan mereka setinggi-tingginya baik sebagai manusia maupun anggota masyarakat. Guru menuntun siswa untuk melakukan sesuatu sesuai dengan kemampuan dan potensi mereka, bukan memaksakan apa yang tidak dapat mereka lakukan.

2. Guru itu Ibarat Seorang Petani

Ki Hadjar Dewantara mengatakan guru itu ibarat seorang petani yang menabur benih di lading, kemudian merawatnya dengan baik, menyiram dan memberikan pupuk. Tak dapat menuntut tumbuhnya tanaman itu seperti apa, melainkan menuntun tumbuhan itu untuk hidup dengan baik dengan merawatnya.

Benih jagung yang ditabur tak bisa diharapkan untuk tumbuh menjadi kacang, atau sebaliknya. Sama-sama benih jagung pun, pertumbuhannya berbeda, ada yang cepat dan ada yang lambat.

Nah, seperti itu pula guru, guru tak bisa menuntut anak untuk dapat jago matematika padahal dia memiliki bakat bahasa. Ada anak yang cepat menangkap pelajaran, tetapi ada juga yang lambat, hal ini juga dapat menyalahkan siswa, karena siswa memang memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing.

Guru menuntun mereka untuk bertumbuh dengan baik sesuai dengan kemampuan masing-masing dan merasa senang dalam mengikuti proses yang ada.

3. Pendidikan Budi Pekerti

Pendidikan bukan hanya sebatas pengetahuan dan keterampilan saja, melainkan juga budi pekerti. Di mana dalam budi pekerti anak dituntun untuk berperilaku yang baik. Meskipun di atas dijelaskan bahwa anak seolah bebas dalam belajar dan mengembangkan kemampuannya, tetapi tetap guru menuntun mereka jika mereka melakukan kesalahan.

Menegur dan memberi tahu apa kesalahannya, tentu saja dengan cara yang baik. Guru memberi teladan yang baik untuk siswanya. Termasuk di dalamnya motivasi, semangat, ketulusan, dan lain sebagainya. Ketika guru memberi pendidikan dengan semangat dan tulus, maka hal ini akan menular pada anak.

4. Bermain

Siapa yang tak suka bermain ? Apalagi anak-anak yang memang kodrat mereka adalah bermain. Dalam belajar juga ada bermain, tapi tak melulu harus bermain-main.

Maksud dari bermain ini di sini, memang bisa saja dalam belajar ada permainan terlebih dahulu, tetapi lebih dalam maksudnya adalah dalam belajar anak harus merasa senang dan bebas tanpa ada tekanan.

Di sini guru harus dapat menciptakan suasana yang menyenangkan. Tentu saja dimulai dari guru yang bahagia terlebih dahulu, supaya  menular pada siswanya. Belajar yang menyenangkan tanpa tekanan tentu saja akan membuat anak dapat memahami apa yang disampaikan oleh guru.

5. Menghamba pada Anak

Di sini maksudnya adalah pendidikan itu harus berpihak pada anak. Semua yang dilakukan dalam pendidikan harus berorientasi pada anak, tujuannya tentu saja untuk anak.

Sebenarnya kalimat ini diungkapkan oleh Ki Hadjar Dewantara sebagai bentuk penyesalannya terhadap anaknya. Saat itu beliau sedang ada pekerjaan dan sangat sibuk, anaknya menangis terus dan mengganggu beliau. Karena merasa terganggu, akhirnya beliau membawa anaknya keluar rumah lalu mengunci pintu rumahnya. Ketika melihat salju yang turun, beliau sadar bahwa anaknya ada di luar rumah, ketika beliau keluar, anaknya sudah membiru.

Pengalaman ini yang pada akhirnya menjadi salah satu teori pendidikan. Dari pengalaman beliau ini sebenarnya beliau mengajak guru untuk melakukan yang terbaik untuk anak, baik dalam membuat perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran, jangan sampai ada penyesalan karena ada kesalahan yang dilakukan. Semua yang dilakukan untuk anak atau siswa.

Dari pemikiran-pemikiran di atas saya seperti terpukul rasanya, ternyata saya salah memperlakukan siswa saya selama ini. Banyak kekeliruan dan kesalahan yang tidak saya ketahui bahwa itu salah, selama ini hampir sering saya menuntut siswa untuk melakukan sesuatu demi mendapatkan hasil yang terbaik, karena saya juga mendapat tuntutan dari sekolah dan orang tua.

Tapi saya tidak mau menyalahkan siapa pun, harusnya saya yang menuntun mereka untuk merasa senang saat belajar supaya mereka tetap dapat mencapai tujuan yang sudah ditetapkan.

Suatu kelas sebenarnya terdiri dari keberagaman baik itu dari jenis kelamin, suku, agama, warna kulit dan lain sebagainya. Tetapi sebenarnya dari keragaman ini ada keunikan tersendiri dan ini merupakan kekuatan. Seorang guru harus memahami adanya hal ini, karena memang “benih” yang ada berbeda-beda tetapi mereka butuh dirawat.

Maka di dalam pembelajaran perlu adanya variasi dalam belajar, bermain bersama supaya kegiatan belajar menyenangkan. Membagi kelompok dengan menyertakan semua perbedaan yang ada dan menjadikan perbedaan itu bukan suatu halangan melainkan kekuatan.

Siswa seperti gelas kosong yang pada awalnya tidak memiliki pengetahuan apa-apa, maka tugas guru di sekolah adalah “mengisi” dengan pengetahuan dan keterampilannya. Tetapi sebenarnya saya percaya sebenarnya siswa adalah seorang anak yang sebenarnya memiliki kemampuan dan keunikan masing-masing, ini harus dikembangkan dengan baik sesuai dengan cara yang ada dan baku. Hanya terkadang karena adanya tuntutan ini dan itu, saya lupa untuk menuntun mereka, saya lebih “mengisi” mereka supaya mereka memiliki sesuatu sesuai dengan tuntutan.

Saya belajar bahwa setiap anak itu berbeda, guru itu penuntun bukan penuntut, guru adalah petani yang merawat benih bukan menumbuhkan benih, guru menjadi teladan dan semua itu harus dilakukan dengan maksimal.

Awalnya saya merasa berat melakukan semua ini, seolah menjadi tuntutan untuk saya dan bertambah saja tugas saya. Seiring berjalannya waktu saya mencoba menikmati ini, saya belajar untuk melakukan sesuatu dengan bahagia dan tidak ada tuntutan, belajar untuk berpikir lebih terbuka sehingga saya dapat memahami orang lain.

Ketika anak saya menjatuhkan gelas dan menumpahkan isinya saat dia akan menaruh gelas tersebut, ada dorongan untuk memarahi dia karena air yang tumpah itu harus saya lap dan tentu saja menjadi pekerjaan baru saya, tetapi ada dorongan juga untuk tidak memarahinya melainkan mengajari dia menaruh gelas yang baik, saya perlu memahami bahwa wajar saja anak usia 5 tahun seperti itu.

Beruntung saya memilih dorongan yang kedua yaitu tidak memarahi anak saya, melainkan saya memberitahu cara meletakkan gelas dan meminta dia untuk mengambil lap. Anak saya merasa baik-baik saja dan tentu saja dia belajar sesuatu. Kalau saja saya memilih untuk marah, tentu anak  saya akan sedih, menangis dan lebih parah akan ada luka di hatinya karena saya memarahi dia.

Begitu pula yang akan terjadi dengan siswa saya, kalau saya marah dan menghukum, akan menimbulkan luka di hatinya. Tetapi jika saya mengarahkan kesalahannya untuk diperbaiki, maka dia akan bertumbuh menjadi lebih baik. Saya belajar untuk memahami kondisi dan keadaan anak, supaya saya tahu bagaimana saya harus memperlakukan dan menuntun mereka.

Saat pembelajaran berlangsung, tentunya saya akan membuat pembelajaran yang menyenangkan, memperhatikan kondisi anak adalah langkah yang akan saya lakukan. Meskipun saya mendapat tuntutan dari beberapa pihak, tetapi saya berusaha untuk menuntun mereka mencapai tuntutan itu tanpa harus menuntut mereka.

Bagaimana caranya? Tentu saja, saya harus bekerja sama dengan rekan saya dan orang tua. Saya akan membuka pemikiran mereka untuk berorientasi pada anak dan menuntun sesuai dengan kodrat mereka. Pada intinya apa yang saya lakukan haruslah maksimal dan semua dilakukan untuk kebahagiaan dan keselamatan anak.

Salam guru penggerak.

Sumber : kompasiana

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *