Pengorbanan Setiap Anak Sulung Demi Pendidikan Adik-adiknya

OPINI

Oleh : Frederikus Suni

Sebagai anak sulung, mengenyam pendidikan hingga Perguruan Tinggi adalah hal yang sangat membanggakan. Namun, karena kehadiran adik-adik, seorang anak sulung merelakan dirinya untuk berhenti kuliah dan meninggalkan kenyamanannya demi pendidikan adik-adiknya.

Sebelum memutuskan untuk berhenti kuliah, saya sudah mengkalkulasikan risiko di depan. Orangtua sangat kecewa dengan keputusan saya kala itu. Namun, karena orangtua sudah memasuki usia renta, ditambah lagi adik-adik mulai memasuki dunia pendidikan menegah ke atas, terpaksa saya mengalah demi masa depan mereka.

Inspirasi awal saya menulis novel ini bermula dari salah satu raja asuransi dunia yakni Paul Meyer. Di mana saya melihat adanya kesamaan di antara kami yakni sama-sama berhenti kuliah, gegara ekonomi keluarga.

Saat saya membaca biografinya, jiwa dan tubuh saya dipacu untuk terus bangkit setelah putus kuliah. Paul Meyer terjun ke dunia asuransi untuk menyambung hidup. Seirama saya terjun ke dunia kepenulisan untuk menyambung hidup di tanah rantau. Terutama menyelamatkan pendidikan adik-adik tercinta dan tetap melihat senyuman orangtua.

Novel Terjebak adalah karya perdana saya selepas meninggalkan dunia perkuliahan tahun 2019. Gegara sistem drainase perekonomian kelaurgaku tak mendukung untuk mengakomodir pendidikan adik-adikku.

Secara umum, novel ini bercita rasa humanisme. Apa yang saya rasakan dan alami, saya tuangkan dalam setiap diksi-diksi keabadian. Lalu apa yang saya khayalkan setapak demi setapak menumpuk dan menjadi satu karya nan sederhana.

Novel Terjebak adalah karya solo pertama saya. Karena sebelumnya saya selalu menulis di majalah dan buku Antologi Lintas Budaya yang menjadi laris manis hingga saat ini.

Bila anda adalah seorang anak sulung, cobalah untuk mengingat kembali tanggung jawab apa yang masih disematkan dipundakmu! Perasaan dilema terus mengejar kita sebagai anak sulung. Namun hanya karena masa depan adik-adik juga terjamin, kita pun mengalah untuk mereka.

Bahkan kita merelakan kesenangan kita, masa depan kita demi keceriaan adik-adik tercinta. Jujur saat saya menulis novel ini, air mata adalah teman setia saya setiap tengah malam di salah satu Panti Jompo.

Di salah satu pojok Panti Jompo, saya memanfaatkannya untuk menulis novel ini. Tebalnya hanya 146 halaman. Durasi yang saya butuhkan untuk menulis novel ini tak sampai sebulan.

Terakhir saya mengutip salah satu quotes di novel saya yakni,”Jangan menyerah karena cinta. Berjuanglah untuk terus mencintai.”

Karena hidup adalah perjalanan bukan perlombaan. Mari menikmati setiap langkah kaki kita dalam menelusuri lorong-lorong tersempit kehidupan untuk membahagiakan orang-orang terdekat kita.

Sumber : kompasiana

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *