Emosi Orang Dewasa dan Kekerasan pada Anak

OPINI

Oleh : Azzahra Abdillah

Kekerasan pada anak menjadi sebuah fenomena yang hingga kini menjadi isu perbincangan di berbagai tempat. Hal yang menjadi dugaan terbesar mengapa kekerasan terjadi adalah karena luapan emosi dari pelaku yang tidak terbendung. Meski begitu, tentu saja perilaku tersebut tidak muncul begitu saja. Lingkungan menjadi faktor penting mengapa kekerasan pada anak marak terjadi. Sebagai sebuah kesatuan terkecil dalam lingkup masyarakat, keluarga diharapkan mampu menjadi benteng kokoh yang mampu melindungi anak dari perlakuan kekerasan. Namun, tidak sedikit kasus kekerasan pada anak yang ternyata dilakukan oleh orang terdekat korban, termasuk orang tua. 21 April 2021 lalu, Polres Tangerang Selatan menetapkan FU sebagai tersangka dalam kasus penganiyaan anaknya yang berusia 14 tahun. Dengan dalih spontanitas, istri FU mengungkapkan hal sebaliknya, bahwa bukan hanya sekali dua kali suaminya melakukan kekerasan dalam rumah tangga mereka. Beberapa bulan sebelumnya juga terjadi penganiayaan anak oleh orang tua karena kesal lantaran anaknya tidak mampu mengikuti pembelajaran online dengan baik di daerah Bendungan Hilir (Benhil). Situasi dan kondisi hari ini sebagai dampak pandemi yang memerlukan adaptasi dari seluruh masyarakat tentu juga dirasakan oleh siswa SD. Namun, peran orang tua untuk membimbing dan mencurahkan kasih sayang kepada anak tentu tetap menjadi yang utama dalam setiap kondisi.

Orang tua sebagai lingkungan pertama tempat tumbuh dan kembang anak tentu dituntut untuk mampu menjadi sosok yang mampu mengayomi dan melindungi anak. Kendali dan pengondisian yang diterapkan di keluarga menjadi benteng bagi anak agar mampu berinteraksi dan beradaptasi dengan lingkungan yang lebih luas. Namun, hari ini kita dikelilingi oleh berbagai kejadian dan peristiwa yang memberitakan anak sebagai korban kekerasan dari orang tua. Ketidakstabilan emosi dari penyelesaian masalah yang dihadapi kerap menjadi alasan sampai akhirnya anak menjadi korban kekerasan. Tentu saja darurat kekerasan pada anak merupakan fenomena yang kita amati hari ini.

Kekerasan pada anak adalah setiap perbuatan yang dilakukan pada anak dan menyebabkan anak sengsara baik secara fisik, emosional, seksual atau penelantaran. Fenomena ini dapat terjadi pada berbagai kelompok ras, suku, ekonomi dan budaya. Melalui data dari Departemen Kesehatan, sebagian besar pelaku kekerasan diduga adalah orang yang dekat dengan anak atau dengan keluarga. Perlindungan yang tepat tentu harus dilakukan oleh orang tua, walaupun dalam banyak kasus justru orang tua yang berperan menjadi pelaku kekerasan.

Bukan hanya fisik, kekerasan juga dapat dilakukan dalam berbagai bentuk, diantaranya adalah kekerasan emosional, seksual, atau penelantaran. Kekerasan fisik adalah perlakuan yang menyakiti dan menyengsarakan anak dalam bentuk tindakan fisik dan meninggalkan luka pada tubuh anak dan hal membahayakan lainnya seperti cedera, penyakit serius hingga kematian. Terkadang, dalih pendisiplinan menjadi alasan yang dilontarkan sebagai pembenaran atas kekerasan yang dilakukan. Tindakan memukul, mencekik, menyiram air panas, melempar barang dan menyundut benda panas pada anak termasuk dalam kekerasan fisik. Membiasakan anak melakukan sesuatu tanpa tindakan fisik yang menyakitkan seharusnya dapat dilakukan orang tua, alih-alih dengan menyakiti anak.

Adapun kekerasan emosional adalah tindakan yang dilakukan oleh pelaku yang menyakiti mental anak sehingga membahayakan psikis dan perkembangan emosi. Agaknya setiap perlakuan yang menyakiti anak akan mengganggu kesehatan mental anak. Ucapan yang menyakitkan, meremehkan, mengancam, mempermalukan, dan tidak menunjukkan kasih sayang menjadi hal yang menyakitkan bagi anak. Penghargaan menjadi salah satu kebutuhan anak atas keberadaannya di dunia, sehingga perkembangan emosinya akan berkaitan dengan ucapan dan tindakan yang ia dapatkan.

Jika fisik berkaitan dengan kondisi tubuh dan psikis mengenai perkembangan emosi, kekerasan seksual dilakukan dengan tindakan dengan segala aktivitas seksual dengan anak, baik itu kontak seksual dengan anak, memaksa anak mengambil atau memperlihatkan video porno, menunjukkan alat vital pada anak, dan lain sebagainya. Ini menjadi hal yang juga sering terjadi, betapa menyedihkan melihat anak menjadi sasaran aktivitas seksual orang dewasa. Lambat laun, pengalaman yang menyakitkan ini akan berpengaruh terhadap perkembangan anak di masa depan. Selain itu, penelantaran dan ketidakpedulian juga dapat dikategorikan sebagai kekerasan pada anak. Tidak adanya pemenuhan kebutuhan dasar anak seperti sandang, pangan, papan, atau meninggalkan anak dalam waktu lama.

Berbagai perilaku yang tercacat dalam kekerasan pada anak tentu akan berdampak pada kondisi anak, baik secara fisik ataupun psikis. Kebutuhan anak akan dunianya yang penuh dengan ketenangan dan kehangatan seolah berubah menyeramkan dan perasaan tersakiti yang dirasakan olehnya menjadi pengalaman yang tidak menyenangkan. Orang tua sebagai lapisan pertama dari keluarga sudah seharusnya mampu mencukupi dan menyediakan kenyamanan serta keamanan bagi anak. Ketika anak mengalami kekerasan, beberapa dampak yang akan terjadi adalah hilangnya rasa percaya diri, cenderung menutup diri dan sulit mempercayai orang lain, trauma, merasa tidak berharga, dan bersikap agresif hingga mengalami resiko kematian. Hal-hal tersebut bukan tidak mungkin akan bertahan dalam diri anak sampai dewasa. Sebagai rantai hubungan dan pola terulang, ada kalanya pelaku kekerasan merupakan korban di masa kecilnya. Namun, tentu saja rantai kekerasan ini harus dihentikan.

Salah satu faktor yang menyebabkan anak mendapat kekerasan adalah tidak stabilnya pengaturan emosi orang dewasa, baik itu orang tua, orang terdekat lainnya, atau orang asing. Ketidakmampuan mengatur emosi dalam diri membuat pelaku meluapkan emosinya tersebut kepada anak dengan berbagai dalih dan bermacam alasan. Ini merupakan hal menyeramkan yang perlu kita perhatikan bersama. Emosi terpendam dari dalam diri seseorang baik itu hasrat untuk melakukan tindakan meyakitkan atau melampiaskan hasrat seksual bukanlah hal yang pantas untuk diluapkan kepada anak yang tidak mengetahui apapun. Dalam sebuah keluarga, Ibu dan Ayah dituntut untuk mampu menyelesaikan permasalahan keluarga dengan kepala dingin dan tenang agar tidak berakhir dengan pelampiasan emosi kepada anak. Kemapanan hati dan kestabilan emosi bagi orang dewasa inilah yang perlu menjadi perhatian dan usaha penerapan bersama. Tentu saja, sebagai orang dewasa yang mampu berpikir jauh dan mempertimbangakn banyak hal akan menahan segala perbuatan tidak pantas yang hanya menyakiti orang lain, termasuk anak. Kesadaran ini merupakan hal yang harus ada dalam setiap diri manusia dewasa, bahwa menuruti hawa nafsu dan menuruti emosi dalam diri tidak akan menyelesaikan permasalahan yang tengah dihadapi, selain hanya akan menunjukkan sejauh mana kedewasaan yang ada ada dalam diri dalam menyikapi sesuatu.

Sebagai langkah antisipasi, sebelum membangun rumah tangga dan memiliki anak, salah satu hal yang harus selesai adalah urusan kita dengan diri sendiri. Apa yang sekiranya memicu emosi negatif, bagaimana cara kita menyelesaikan permasalahan yang ada, dan apa yang kita lakukan ketika memiliki masalah dengan pasangan. Hal-hal seperti itu menjadi perhatian yang perlu diperhatikan, sebelum akhirnya melahirkan dan mendidik anak dengan pola asuh yang baik. Kesadaran diri menjadi pintu pembuka agar kita menyadari bahwa tidak seluruh emosi yang ada perlu untuk diteruskan kepada orang lain, termasuk kepada anak. Selain itu, menentukan pola asuh tanpa menekan perasaan anak juga menjadi hal penting, bagaimana peran orang tua membimbing dan berperan baik sesuai dengan kebutuhan yang anak miliki, termasuk dengan melindungi anak dari orang-orang yang berpeluang melakukan kekerasan kepadanya. Tanpa kesadaran dan kematanagn emosi yang baik bagi dewasa, agaknya sulit memutus rantai kekerasan pada anak yang membutuhkan ruang tumbuh dan kembang yang nyaman.

Sumber : kompasiana

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *