Pembelajaran Tatap Muka Akan Dibuka, Ini Pemahaman Penting bagi Murid

Program Pendidikan

Pemerintah terus bersiap diri untuk menjalankan kembali kegiatan belajar-mengajar di sekolah. Lewat surat keputusan bersama (SKB) empat menteri, kebijakan pembelajaran tatap muka (PTM) yang berlaku secara terbatas akan dilaksanakan mulai Juli 2021.

Juru Bicara Satuan Tugas (Satgas) Penanganan Covid-19 Reisa Broto Asmoro menekankan pentingnya persiapan penerapan protokol memakai masker, mencuci tangan, dan menjaga jarak (3M) pada masa PTM terbatas.

Bukan hanya pemenuhan daftar periksa fasilitas kesehatan di lingkungan sekolah dan kesiapan tenaga pengajar, juga pemahaman anak akan pentingnya menjalankan kebiasaan baru.

“Anak harus diberitahu kenapa mereka harus melakukan itu. Kalau dia tidak mengerti alasannya, dia akan asal-asalan,” ujar Reisa pada sesi webinar berjudul “Sekolah/Madrasah Tanggap Covid-19 melalui Pendekatan School of 5” yang diselenggarakan Katadata, pekan lalu.

Menurutnya, pemahaman perlu diberikan mulai dari cara penularan virus corona yang bisa terjadi melalui kontak langsung dan tidak langsung. Kontak langsung terjadi saat berbicara, batuk, bersin, bernyanyi, atau bahkan menguap sebab ada droplet yang keluar. Ada potensi virus di dalam percikan droplet yang bisa terhirup orang lain.

Sementara kontak tidak langsung mungkin terjadi ketika percikan yang keluar saat kita membuka mulut kemudian menempel ke benda lain. Jika benda tersebut dipegang dengan tangan lalu untuk memegang mata, mulut, atau hidung, penularan virus bisa terjadi.

Berdasarkan informasi awal penularan tersebut maka penjelasan untuk penerapan 3M seharusnya lebih mudah untuk dipahami. Dengan mencuci tangan misalnya, pencegahan penularan tidak langsung bisa dilakukan.

“Kita itu punya kebiasaan memegang tempat masuknya virus 20 kali dalam 1 jam. Memegang muka secara tidak sadar seperti kucek mata; memegang hidung; memperbaiki posisi kacamata, hijab, atau poni. Dengan mencuci tangan potensi penularan kontak tidak langsung bisa berkurang,” ujar Reisa.

Sementara itu, menjaga jarak perlu dilakukan untuk mencegah penularan secara langsung dengan menahan droplet bertransmisi di jarak yang dekat. Hal ini sama halnya dengan memakai masker yang dapat menyaring cairan yang keluar atau masuk dari mulut atau hidung untuk mencegah perpindahan droplet.

“Jadi apa yang kita lakukan dalam protokol kesehatan itu cuma mencegah terjadinya penularan dengan kontak langsung dan tidak langsung. Yang harus diperhatikan, jangan sampai orang menghirup atau terpercik droplet orang lain terutama di ruang kelas,” kata Reisa.

Sumber : katadata.co.id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *