Juni 16, 2021
Identitas dan Misi Pendidikan

Identitas dan Misi Pendidikan

Oleh : Fradj Ledjab

Tulisan ini merupakan adaptasi dari apa yang pernah saya sampaikan dalam sambutan Perayaan 50 Tahun SMP Frater Kendari,  tanggal 28 Januari 2020 dengan penambahan dan pengurangan seperlunya.

Pendidikan saat ini menjadi salah satu lembaga yang paling merasakan efek dan tantangan nyata dari mewabahnya  Coronavirus Disease atau Covid-19 secara global.

Pemerintah, pendidik; guru, dosen, termasuk orang tua serta generasi muda; peserta didik, mahasiswa sama-sama berjibaku  agar ‘dapur’ pendidikan terus berasap. Kreativitas dan inovasi sangat perlu dalam menghadapi situsi yang runyam demikian. Proses pembelajaran menuntut transformasi yakni dari konvensional ke digital melalui optimalisasi sarana teknologi.

Ini menjadi tantangan dan tuntutan dunia pendidikan saat ini. Namun realitas berkata lain. Pertama, haruslah jujur bahwa sarana prasarana teknologi informatika di negeri ini belum merata terutama di daerah atau wilayah 3T (Terdepan, Terluar, Tertinggal). Teknologi digital membutuhkan sarana pendukung agar adanya digitalisasi (konektivitas) dan kita yakin bahwa pemerintah terus megupayakan agar kebutuhan akan teknologi informasi dapat terkoneksi.

Kedua,  Tidak semua pelaku pendidikan melek teknologi  dalam hal ini pemanfaatan aplikasi pembelajaran yang telah tersedia dan dapat diakses dengan mudah kapan dan di mana saja karena konektivitas jaringan mendukung.

Persislah di sini mindset menjadi masalah klasik; sudah merasa nyaman dengan sebuah cara (proses pembelajaran) sehingga sulit untuk bergerak keluar dari ruang kenyamanan tersebut. Ini bisa menjadi bahaya dan jika diteruskan maka akan menimbulkan dosa kelalaian karena kenyamanan.

Ketiga, pelaku pendidikan (guru) megalami self doubt yakni ragu dan kurang percaya akan kemapuan sendiri dalam mengelolah teknologi pembelajaran karena menganggap peserta didik jauh lebih baik dan oleh karenanya akan merasa malu jika siswa tahu akan ketidaktahuannya. Ini juga dosa klasik guru yang selalu mau dilihat serba bisa, tidak boleh salah dan siswa dianggap sebagai kertas putih kosong yang perlu ‘dikotori’ dengan pengetahuan.

Nah, di sinilah kemampuan guru dalam mengelaborasi proses pembelajaran perlu mendapat evaluasi diri yang serius untuk menuju pada prinsip bahwa guru dan peserta didik adalah sama-sama pembelajar. Hal ini perlu ditanam di kepala sorang pendidik.

Covid-19 selain membawa bencana, duka, dan kecemasan tetapi dari kaca mata positip membawa berkah dan lompatan dalam dunia pendidikan sebagai shock effects terhadap proses dan cara pendidik dalam mengelolah pendidikan terlebih agar bisa beranjak keluar dari tiga kelemahan yang telah disebutkan di atas. Pendidikan tidak boleh kalah dengan apapun.

Hanya melalui pendidikan generasi bangsa terlahir menjadi generasi yang berkarakter dan kecakapan sebagai bagian dari kedalaman intelektual yang menghantarnya menuju masa depan lebih baik.

Paradoksnya adalah untuk menghasilkan out put yang unggul berkarakter diperlukan pula pendidik yang juga unggul berkarakter. Kita kenal buah yang baik jatuh dari pohon yang baik. Mengapa Kentucky Fried Chicken (KFC) sampai hari ini tetap digemari lidah global? Kita pastikan kualitas, baik menu dan orang-orang di dalamnya menjadi tuntutan yang tidak tawar menawar. KFC menjadi sebuah perusahaan yang tetap eksis karena otonom dan profesional yang bebas dari pengaruh.

Otonom untuk mengatur dirinya dan secara otonom pula memilih, menentukan orang-orang terbaik berdasarkan standar yang telah ditetapkan. Sudah pasti standarnya tinggi. Demikian pula seharusnya aras pendidikan kita.

Pendidikan yang berkualitas membutuhkan manager sekolah yang mumpuni dalam managerial, supervisi, dan kewirausahaan serta program inovatif dan solutif menjawabi tantangan pendidikan saat ini dan mendatang. Seorang managerial sekolah yang membawahi sebuah sistem dituntut memiliki kecakapan abad 21. Kualitas menjadi satu-satunya pilihan jika menghendaki majunya pendidikan.

Maka, sejatinya dunia pendidikan adalah lembaga paling otonom, merdeka, dan bebas dari pengaruh terutama pengaruh kekuasaan dan hegemoni kekuasaan. Ketika hegemoni kekuasaan merembes masuk ke dalam dunia/lembaga pendidikan maka yang terjadi adalah dinasti kekuasaan dan kualitas hanya akan menjadi sebuah retorika, ironi dan hayalan pada kaki pelangi pendidikan. Hal ini terjadi karena orang-orang terutama manager pendidikan akan mengalami kehilangan comman sense, kehilangan akal sehat sekaligus membunuh hak asasi manusianya sendiri karena tak bisa berbantah dan berteriak apalagi melawan kekangan hegemoni. Diminta melompat ke jurang dalam berbatuan pun akan dilakukan apapun konsekuensinya. Persis inilah sebuah bentuk penjajahan dan kapitalisme pendidikan yang memukul mundur kualitas dan kreativitas personal dan kematian prematur sebagai jalan sepi demi mengamankan posisi, jabatan (kepala sekolah) dengan prinsip Asal Bapak Senang (ABS).

Lembaga pendidikan terutama pendidikan formal perlu penegasan kembali akan identitas dan misi sebagai arah gerak dalam mencapai tujuan pendidikan itu sendiri.

Identitas dan misi menjadi kuat dan berkarakter apabila ditopang oleh dua pilar penting yakni kedalaman spiritual dan kedalaman intelektual. Spiritual adalah bertemunya identitas dan misi. Identitas adalah kekhasan, daya, energy, citra, brand yang melekat kuat pada diri, lembaga, yang tidak dimiliki oleh diri/lembaga lain yang terus menerus dipertahankan  sebagai eksistensi diri.

Maka, untuk tetap mempertahankan identitas itu, sebagai pendidik dituntut untuk menjadi penggerak dan sebagai peserta didik dituntut sebagai generasi pembelajar. Inilah sesungguhnya yang diharapkan untuk menciptakan dan mewujudkan ruang merdeka belajar yang sekarang ini menjadi sasaran dan cita-cita negara. Maka, ketika pendidik dan peserta didiik sama-sama bergerak untuk menciptakan ruang merdeka belajar, di situlah ada spiritualitas, ada Roh.

Dalam Konferensi Sekolah Katolik Indonesia di Yogyakarya waktu lalu, Romo Sunu, SJ yang waktu itu masih menjabat sebagai Provinsial Jesuit Indonesia, memberikan materi dan pandangan sangat mendalam tentang pendidikan dalam kerangka kedalaman spiritual dan kedalaman intelektual. Beliau menegaskan akan pentingnya kedalamaan spiritual untuk menemukan cara mendalam secara intelektual dengan 3 perangkat daya jiwa yakni nalar, rasa, dan kehendak. Kalau bahasanya guru Bangsa, Ki Hajar Dewantara adalah cipta, rasa, dan karsa. Setiap rasa selalu ada nalarnya.

Maka kata kuncinya adalah awareness (kesadaran). Kalau sudah memiliki kesadaran maka orang akan tanggap, dan memiliki daya cekatan untuk menanggapi. Pada titik inilah mereka yang memiliki kejernihan nalar dan rasa akan mempunyai kehendak yang kokoh kuat.  Inilah tantangan dan sekaligus cambuk dalam dunia pendidikan di era disrupsi sekarang ini.

Betul bahwa iptek mengalami disrupsi yang pesat namun perlu diingat adalah sehebat apapun teknologi informasi tak akan bisa menggantikan peran pendidik. Maka sebagai pendidik maupun peserta didik menjadi syarat mutlak untuk merdeka di era digital ini. Pendidik yang merdeka adalah mereka yang mempunyai kebebasan dalam berpikir, hati-hati dalam bertindak dan menyadari batasan-batasan kemerdekaan, agar ia mampu melahirkan inovasi dan kreativitas serta transformasi dalam pembelajaran.

Teknologi bukan menjadi obyek atau subyek belajar, tetapi menjadi tools yang mentransformasi proses pendidikan agar peserta didik dapat menjadi empowered learned, digital citizen, knowledge constructor, innovative designer, computational thinker, global collaboration, creative communication. Demi menunjang itu semua maka baik pendidik maupun peserta didik mau tidak mau harus memiliki kemampuan dalam literasi digital, tuntutan zaman ini dan untutan kedalaman intelektual.

Sudah saatnya dunia pendidikan untuk Berbenah-Bergerak-Berbuah. Prasyaratnya adalah kerjasama dan aliansi stratejik serta keterbukaan dan kesediaan untuk berubah. Oleh karena itu pendidik, peserta didik dan pemangku kepentingan lainnya penting untuk membangun platform jejaring kolaborasi untuk mengembangkan kompetensi kepribadian, professional, dan sosial. Dari ketiga kompetensi ini akan membuahkan kapasitas pedagogis, formatif dan transformatif. Laksana pohon;  akar (afektif) sebagai kompetensi kepribadian, daun (talenta) sebagai kompetensi professional, buah (lovely friendship) sebagai kompetensi sosial, dan batang adalah spiritualitas. Inilah kunci sebagai pendidik penggerak dan peserta didik pembelajar sebagai identitas dan misi pendidikan.

Sumber : kompasiana

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *