Melihat SMAN 1 Kota Yogyakarta, Sekolah yang Masuk 10 Besar Se-Indonesia

Jawa Tengah

YOGYAKARTA – SMAN 1 Kota Yogyakarta menjadi satu dari tiga sekolah negeri di Indonesia yang masuk 10 besar se-Indonesia. Penilaian ini berdasarkan dari Ujian Tertulis Berbasis Kompetensi (UTBK) tahun 2020. Lalu, bagaimana kiat SMAN 1 Kota Yogyakarta mendapat predikat sebagai salah satu sekolah favorit tersebut?

Hening. Itulah gambaran sekolah di masa pandemi saat ini. Begitu pun di SMAN 1 Kota Yogyakarta yang masih menerapkan sekolah daring. Hanya beberapa siswa yang memiliki keperluan penting saja yang berangkat ke sekolah.

“Tunggu dulu nak. Atau mau jamaah dzuhur nanti ke sini lagi nak,” kata sekolah staf Tata Usaha SMAN 1 Kota Yogyakarta kepada salah seorang siswa saat detikcom menyambangi SMA Teladan ini, Kamis (27/5/2021).

Sapaan santun seorang staf TU tersebut seperti penanda hubungan guru dan murid di SMAN 1 Kota Yogyakarta. Bagaimana memposisikan anak didik seperti anak sendiri.

Wakil Kepala Sekolah Urusan Kehumasan Subadiyana menjelaskan, ada aturan yang sudah menjadi kultur di SMAN 1 Kota Yogyakarta. Yaitu, wajib menghargai anak didik.

“Itu hanya salah satunya,” katanya.

Ia menjelaskan, pendidikan karakter merupakan salah satu keunggulan SMAN 1 Kota Yogyakarta. Guru wajib bisa berperan sebagai teladan dan teman.

“Coba lihat apakah ada alumnus SMA Teladan yang menjadi publik figur atau politisi. Tidak ada, karena kami memang mengembangkan pendidikan karakter seperti mindfullnes. Biasanya ahli-ahli di bidangnya,” jelas Badiyana.

Fokus dengan tujuan itulah yang mereka terapkan saat masuk dalam 10 besar se-Indonesia. Meski saat itu UTBK mereka lakukan dengan kondisi pandemi, SMA Teladan menerapkan sekolah daring seperti sekolah biasa.

“Jika biasanya kami selesai itu pukul 15.30 WIB, sekolah daring maju sampai pukul 13.30. Sejak pagi 07.30 sampai pulang, full kami ngajar dengan video call seperti zoom seminar. Jadi guru dan murid bisa saling mantan,” jelasnya.

Kesuksesan sekolah negeri menembus dominasi sekolah swasta saat sistem masuk sekolah zonasi, lanjut Badiyana, memang ada strategi khusus. Sebab, dengan zonasi otomatis ada perbedaan kualitas siswa.

“Ya itu tugas BK (Bimbingan Konseling) dan guru. Biasanya kalau ada siswa yang tertinggal, guru memberikan pendalaman materi. Masuk jam 06.30 sampai 07.30,” ujarnya.

Dengan pendampingan ekstra guru, kata Badiyana, siswa pasti akan muncul motivasi. Tinggal menjadi tugas guru untuk mengarahkan,” katanya.

Tak hanya guru, alumni juga memiliki tugas membimbing adik-adik kelasnya. Mereka yang sudah masuk perguruan tinggi atau ahli, banyak yang membimbing belajar bersama.

“Seperti beberapa waktu yang lalu, alumni sini sudah jadi ahli membimbing adik kelasnya belajar salah satu mata pelajaran,” jelasnya.

Tapi khusus prestasi menembus 10 besar itu, guru di SMA N 1 Kota Yogyakarta meminta siswa fokus di UTBK. Karena, saat itu UTBK sebagai fokus utama.

“Siswa belajar untuk mengejar UTBK agar bisa melanjutkan di perguruan tinggi yang mereka inginkan,” katanya

Sumber : detik.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *