Juni 16, 2021
Sekolah Bakal Tatap Muka Juli, Pemprov DKI Jakarta Ingatkan Hal Ini

Sekolah Bakal Tatap Muka Juli, Pemprov DKI Jakarta Ingatkan Hal Ini

JAKARTA – Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Mendikbudristek) Nadiem Makarim bersikeras mendorong sekolah untuk segera memulai pembelajaran tatap muka (PTM) terbatas Juli 2021. Pemerintah provinsi (Pemprov) DKI Jakarta pun mengingatkan suatu hal kepada para guru. Apa itu?

Penasihat Kebijakan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta Totok Amin Soefijanto mengimbau agar para guru tetap kreatif, dinamis, dan menyenangkan murid meski dalam keadaan pandemi saat ini. Sebab, semua kunci keberhasilan pendidikan berada di tangan sang Guru.

“Jangan pernah menjadi otomatis, tetapi jadilah guru yang kreatif, dinamis, dan menyenangkan murid. Benar teknologi membantu kita, (tetapi) kuncinya tetap ada di guru (berdasarkan) sisi kebutuhan,” ujar Totok dalam webinar Binging Hybrid Classroom to Life: Strategi Sukses Pembukaan Sekolah Kembali di Indonesia bersama Lenovo Indonesia via zoom, Jumat (4/6/2021).

Totok juga menekankan pada para guru agar tidak mudah didikte oleh teknologi, bahkan hingga tergantikan perannya oleh teknologi. Mengingat kondisi pembelajaran saat ini yang sangat mengandalkan peran kecanggihan teknologi.

“Jadi, guru yang researchful (banyak belajar), dia akan survive (bertahan),” imbuhnya.

Selain itu, Totok juga menyebut persiapan yang perlu dilakukan dari pemprov DKI Jakarta dalam pembelajaran tatap muka terbatas. Hal tersebut antaranya diperlukan pelatihan bagi para guru, khususnya guna beradaptasi dengan sistem pembelajaran yang baru.

“Kita perlu melatih guru untuk mengajar lagi. Re-learn. Pemerintah perlu menyiapkan panduan yang relevan dengan zamannya. Perlu (juga) melatih guru ke pembelajaran baru, seperti (sistem pembelajaran) student centered learning (atau) lebih dinamis,” kata dia.

Sementara itu, Ketua Perkumpulan Sekolah SPK Indonesia (PSSI) Haifa Segeir juga menyebut untuk mencapai hasil yang sesuai dari pembelajaran hybrid atau campuran daring dan luring, diperlukan ekosistem yang terjaga antara guru, orang tua, dan pemerintah.

“Untuk hybrid learning, ekosistem harus terjaga. Tidak hanya guru, orang tua juga harus belajar. (Terutama) untuk anak di bawah umur, dukungan orang di rumah penting. Antara support pemerintah dan sekolah juga harus baik,” tutupnya.

Sumber : detik.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *