Juni 16, 2021
Keterampilan Mengajar dan Implementasinya

Keterampilan Mengajar dan Implementasinya

Oleh : Afina Syahirah

Pendidik sebagai pelaksana pendidikan, maka hendaklah memiliki nilai-nilai budi di dalam dirinya, yaitu beriman, bertakwa, dan berakhlak mulia, sehingga mampu menjadi contoh yang baik bagi peserta didiknya. Pertama-tama, ia harus menguasai pelajaran yang diajarkan. Kedua, tidak cukup dengan pelajaran, ia juga harus memahami metode yang tepat untuk mengajar. Ketiga, seorang guru harus memiliki keterampilan mengajar yang baik.

A. Keterampilan menjelakan dengan alat peraga/bantuan (wasailu-l-idhoh).

Alat peraga dibutuhkan guru untuk menjelaskan pelajaran yang kurang dimengerti peserta didik dan menghilangkan hal yang kurang dipahami peserta didik. Wasailu-l-idhoh di sini dibagi menjadi 2, yaitu dengan metode menggunakan alat dan metode menggunakan Bahasa atau lisan.

implementasi menggunakan bahasa : Contohnya seperti saat guru mengajar kosakata Bahasa arab, inggris, atau Bahasa asing lainnya, maka guru memerlukan cara agar peserta didiknya mampu memahami maknanya. Maka cara yang dilakukan adalah membuat kosa kata itu menjadi sebuah kalimat agar peserta didik dapat berusaha berfikir untuk menemukan jawabannya dengan perantara bahasa.

Implementasi menggunakan alat peraga :Cara ini bisa berpengaruh dalam menguatkan akal peserta didik dengan perantara benda, gambar, dan lain sebagainya.

B. Keterampilan Bertanya.

Keterampilan bertanya sangat penting dikuasai oleh guru. Bertanya merupakan sarana untuk mengembangkan dan merperluas percakapan atau interaksi antara peserta didik dan gurunya. Pembelajaran yang berjalan baik, juga didukung pleh pertanyaan yang dinamis yang dilontarkan oleh guru pada peserta didiknya. Dampaknya peserta didik bisa mengatasi beberapa masalah, berfikir luas, dan dapat meningkatkan kemampuan fikirannya yang kritis dan kreatif.

Implementasinya : Saat memberi pertanyaan pada pesertadidik, berikan mereka waktu untuk berfikir. Karena pemberian waktu berfikir untuk menjawab petanyaan akan membuat peserta didik menemukan dan Menyusun jawaban yang akan dijawabnya. Pertanyaan ditujukan kepada semua peserta didik tanpa terkecuali. Setelah guru memberi waktu untuk berfikir, maka guru mencoba untuk menunjuk salah satu dari mereka untuk menjawab, dan bergilir dengan yang lainnya. Waktu yang diperlukan harus bervariasi sesuai tingkat kesulitan pertanyaan yang diberikan.

C. Keterampilan Memberi Penguatan.

Penguatan pada peserta didik bisa dilakukan dengan cara pujian, senyuman, penghargaan, dan lain sebagainya. Meskipun sederhana tetapi hal ini bisa mempunyai arti sendiri bagi peserta didik. Seperti itulah peserta didik, jika diberi penghargaan oleh gurunya, mereka akan menunjukkan kemampuannya, dan akan merasa bangga bahkan akan muncul dorongan yang kuat untuk meningkatkan prestasinya.

Implementasinya : Peserta didik yang berprestasi dalam perlombaan atau bidang pelajaran tertentu diberi penghargaan atau reward sebagai apresiasi atau penguatan dari guru atas kerja keras dan usahanya untuk mencapai itu. Memberi senyuman dan menjawab salam pada peserta didik yang memberi salam saat perpapasan atau bertemu di jalan. Bisa juga dengan membubuhkan bintang atau tanda centang pada pekerjaan yang jawabannya benar.

D. Keterampilan Membimbing Diskusi.

Disini guru berperan sebagai pemimpin jalannya diskusi antar kelompok kecil dalam kelas. Dari saling diskusi antar kelompok ini, peserta didik akan berbaur dan bercakap dengan sebelah-sebelahnya tentang tugas yang dikerjakannya. Peserta didik juga bisa bertanya dan meminta bantuan pada temannya atau bisa juga pada gurunya. Maka, interaksi antara guru dan peserta didik bisa berjalan efektif dan pahala juga akan mengalir, karena mereka saling berdiskusi akan kebaikan dan saling menyebarkan ilmu antar sesamanya. 

Implementasinya : 1) Guru membagi kelas menjadi beberapa kelompok. 2) Memberikan materi pada setiap kelompok yang akan dikerjakan. 3) Saat diskusi berlangsung, guru jangan duduk di kursi guru melainkan berkeliling ke seluruh kelas untuk memperhatikan jalannya diskusi dan berhenti saat ada peserta didik yang bertanya. (dari sini peserta didik akan merasa bahwa mereka tidak diabaikan oleh gurunya). 4) Memperbolehkan untuk bertanya pada sesamanya. Selain untuk berinteraksi juga untuk saling berbagi ilmu. 5) Menegur atau membetulkan pesrta didik yang bebuat kesalahan. Boleh dimarahi tetapi jangan dibentak, melainkan dengan nasehat secara  face to face agar peserta didik dapat menyadari kesalahannya dan tidak akan mengulanginya lagi.

E. Keterampilan Mengelola Kelas.

Salah satu cara mengelola kelas yaitu membuat peserta didik dan guru terlibat dalam pembelajaran yang efektif dan semangat dalam menjalankannya. Jika Gurunya bersemangat dalam menyampaikan pelajaran, maka Peseta didiknya juga kana semangat sebab tesetrum oleh semangat gurunya. Sebaliknya jika guru tidak semangan dan mals saat mengajar, maka peserta didik juga akan malas dan tidak bertenaga, lebih parahnya lagi ngantuk dan tertidur. Pelajaran yang diajarkan juga mudah ditangkap dan diingat karena anak akan meningat dari apa yang didengar dan dilihatnya saat itu.

Implementasinya : guru harus menciptakan keantusiasan, menciptakan tantangan dan menumbuhkan hal positif. seperti contoh dalam menghafal kosakata bahasa inggris misalnya, maka guru mengucapkan kosakata diikuti peserta didik. seperti itu dengan semangat agar peserta didik dapat cepat menghafal dan melekat di dalam kepala.

F. Keterampilan Mengajar Kelompok dan Perorangan.

Individu adalah makhluk yang unik. Setipa peserta didik memiliki karakter yang berbeda masing-masingnya. Bahkan peserta didik kembar pun tidak akan mempunyai kesaamaan yang persis. Perbedaan seperti fisik, bakat, minat kemampuan dan lain sebagainya. Maka guru mengelompokkan golongan apeserta didik sesuai kemampuannya. Sebelum itu guru harus mengenal dengan baik bagaimana karakter, keadaan mental, lingkungan juga keadaan keluarganya. Karena hal-hal itu dapat berpengaruh pada keadaan pembelajaran.

Implementasinya : 1) Guru mengajar di 1 kelas sampil memperhatikan setiap individu yang ada. 2) Setelah memperhatiakan, guru mengelompokkan peserta didik. Mana yang lambat, cepat dalam memahami pelajaran, mana yang cepat Lelah, dan sebagainya. 3) Setelah itu diadakan pembelajaran tambahan atau privat. Jika sempat bisa dilakukan setelah pembelajaran, jika tidak bisa dilakukan di luar kelas, seperti waktu luang. 4) Peserta didik yang lambat dalam menangkap pelajaran, ditanya mana yang tidak dipahami lalu diulang secara perlahan agar bisa tetap diingat. Dan bagi anak yang cepat menangkap pelajaran diharap untuk membantu temannya yang masih kurang menangkap pelajaran di kelas. 5) Peserta didik yang mudah Lelah/ sakit bisa diberi keringanan untuk boleh minum air putih untuk menambah tenaga dan oksigen dalam otak. 6) Peserta didik yang memiliki masalah pada keluarga atau lingkungannya, hendaknya diberi perhatian dan jadilah tempatnya untuk mencurahkan isi hati, karena individu yang memiliki masalah tersebut kebanyakan bingung untuk mencari tempat bersandar. Maka yang dibutuhkannya adalah tempat untuk kembali. 7) Jangan lupa untuk guru untuk selalu sabar dan ikhlas dalam keterampilan mengajar kelompok dan perorangan ini karena memang setiap individu itu berbeda, ada yang sudah baik dan ada yang tidak, ada yang memiliki masalah dan juga ada yang tidak. Semua harus dijalani sepenuh hati untuk kesuksesan peserta didik kelak.

G. Keterampilan Mengajar Variasi.

Pentingnya guru dalam memiliki keterampilan menciptakan variasi dalam pembelajaran untuk meningkatkan potensi yang dimiliki peserta didik sehingga pembelajaran semakin efektif. Selain untuk menghilangkan kebosanan dalam belajar juga meningkatkan motivasi dan perhatuan peserta didik selama proses pembelajaran. Hal itu menjadi tantangan bagi guru untuk berupaya supaya mengembangkan keterampilan dalam mengadakan variasi selama proses pembelajaran.

Implementasinya : bisa dilakukan dengan mengadakan kuis atau sejenis game yang berhubungan dengan pelajaran yang berlangsung. Kuis atau game bisa dilakukan saat pembelajaran akan berakhir jadi, setelah guru selesai menjelaskan materi dan tanya jawab, guru bisa mengadakan kuis. Selain untuk menghilangkan kebosanan, guru juga bisa mengetahui mana peserta didik yang aktif dan mana yang hanya diam, mana yang sudah memahami isi pembelajaran dan mana yang belum memahami isi pembelajaran.

I. Keterampilan Memecahkan Masalah.

Keterampilan ini bersandarkan pada cara berfikir ilmiah, dimana guru harus berfikir secara mendalam untuk memcahkan pesroalan yang terjadi antara peserta didik[1].  Sebelum memecahkan masalah, guru harus menelusuri apa sebab dari permasalah tersebut, lalu mencoba untuk menasehati peserta didik yang bermasalah.

 Implementasinya : contoh seorang anak yang memiliki masalah keluarga dan sering membuat onar di kelas. Di sini guru mencari tahu apa sebabnya, dan itu disebabkan karena peserta didik kurang kasih saying dari orangtuanya karena permasalahan keluarga. Maka guru harus mendekatinya, menasehatinya dan memberi pengertian lebih padanya. Berabgsur-angsur peserta didk itu akan mengerti dan seolah ada tempat untuk dia berkeluh kesah. Dan peserta didik akan mengikuti pembelajaran dan sejenak melupakan permasalahan yang sedang terjadi dalam keluarganya. Proses ini butuh waktu yang agak lama karena berurusan dengan mental dan psikis peserta didik. Jadi, guru harus bersabar menghadapi peserta didik yang mengalami hal seperti itu sekaligus juga untuk melatih kesabaran dan keikhlasan dalam mengajar.

Ada baiknya bagi guru untuk ujian mengajar atau practical teaching agar dapat mengfajar dengan baik.

Sumber : kompasiana

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *