Sekolah Tatap Muka Singapura: Sekolah dari Rumah Jadi Alternatif Terakhir

Internasional

JAKARTA – Singapura menjalani circuit break atau lockdown parsial fase 2 (heigtened alert) sejak 16 Mei 2021 hingga 13 Juni 2021. Pada circuit break fase 2, diberlakukan pembatasan yang lebih ketat, termasuk penerapan Home-Based Learning (HBL) atau sekolah dari rumah.

Sebelumnya, Singapura menjalani fase 3 sejak 28 Desember 2020 hingga 15 Mei 2021. Kendati menjalani masa pemberlakuan circuit break, pelaksanaan sekolah tatap muka tetap diutamakan.

Hal ini disampaikan Heri Prasetyo, salah satu guru Sekolah Indonesia Singapura dan anggota Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI) dalam diskusi publik “Kelayakan PTM Terbatas di Tahun Ajaran Baru 2021”, Senin (7/6/2021).

Salah satu sekolah yang menjalankan HBL sesuai peraturan pemerintah Singapura yakni Sekolah Indonesia Singapura (SIS/SILN Singapura). Heri menuturkan, pembelajaran HBL di sekolahnya dilakukan melalui beragam platform. Di antaranya yaitu Zoom, Google Classroom, WhatsApp, Quiziz, Kahoot, Moodle, Ruang Guru, dan lain-lain.

Ia menambahkan, di sisi lain, HBL dijadikan sebagai alternatif terakhir untuk proses belajar mengajar di Singapura.

“Menteri Pendidikan Singapura berusaha agar pembelajaran tatap muka sedapat mungkin tetap dilaksanakan di sekolah dengan berbagai tindakan pencegahan dan manajemen risiko. HBL merupakan alternatif terakhir,” kata ia dalam siaran diskusi publik “Kelayakan PTM Terbatas di Tahun Ajaran Baru 2021”, Senin (7/6/2021).

Heri menuturkan, pemerintah Singapura tidak menutup sekolah secara total meskipun di masa circuit break (CB).

“PTM (pembelajaran tatap muka) sedapat mungkin dilaksanakan di sekolah, hanya saja pencegahan dan manajemen risiko sangat diperhatikan, karena dendanya luar biasa, kalau tidak diterapkan bisa dipenjara. Pertimbangannya karena penelitian menunjukkan tidak ada penurunan kasus dengan HBL. Dan HBL tidak mencapai tujuan pembelajaran,” jelas Heri.

Selama circuit break, tercatat ada 4.000 siswa sekolah dasar, sekolah menengah, dan junior college yang tetap masuk dan melaksanakan sekolah tatap muka.

“Sekolah melakukan penjadwalan guru yang piket di sekolah untuk menemani para siswa ini bersekolah,” kata Heri.

Ia menjelaskan, sekolah tetap buka untuk memfasilitasi sekelompok kecil siswa dari kelompok yang rentan, siswa dengan orang tua yang tidak punya alternatif pengasuhan lain, atau siswa dengan orang tua dengan kondisi rumah tidak kondusif untuk pembelajaran.

Heri menuturkan, saat sekolah tatap muka, murid menerapkan cuci tangan, jaga jarak, menggunakan masker, dan menghindari kerumunan. Setiap satu mata pelajaran usia, siswa mengelap permukaan meja dan peralatan yang ia gunakan, lalu mencuci tangan, sebelum meninggalkan ruangan kelas. Sementara saat bermain, anak-anak menggunakan ruang kelas dan dianjurkan mencuci tangan dengan sabun dan air setelah bermain.

Ia menambahkan, saat olahraga, siswa tidak mengenakan masker. Adapun olahraga yang diizinkan yakni olahraga dengan jarak berjauhan, seperti bulu tangkis dan tenis. “Yang dekat tidak boleh,” kata Heri.

Heri mengatakan, adapun saat istirahat makan di kantin, siswa menerapkan jaga jarak sesuai markah yang diberikan di area lantai kantin. Anak-anak didorong juga untuk menggunakan face shield di kantin selama makan dan minum. Ia menambahkan, permukaan area umum sekolah seperti kantin dan area lainnya juga rutin dibersihkan sebagai pencegahan risiko.

Mendukung upaya murid dan staf di sekolah, Heri mengatakan, pencegahan dan manajemen risiko juga dilakukan dengan koordinasi antar instansi dan stakeholder yang efektif dan transparan. Harapannya, upaya ini dapat memutuskan kebijakan dengan cepat dan adaptif untuk bidang pendidikan.

Heri mengatakan, adapun strategi pemerintah Singapura saat ini salah satunya untuk mendukung pendidikan yakni dengan meningkatkan testing, tracing, dan memperbanyak vaksinasi.

“Nah di sekolah, semua staf sekolah divaksinasi, guru, sampai staf kantin divaksinasi,” kata Heri.

Dikutip dari The Strait Times, per 31 Mei 2021, 40% populasi Singapura sudah mendapat setidaknya vaksinasi 1 dosis, yakni sebanyak 2,28 juta orang. Adapun sebanyak 31% populasi Singapura atau sekitar 1,776 juta orang sudah mendapat vaksinasi lengkap.

“Termasuk warga asing seperti saya sudah melakukan vaksin,” terang Heri.

Heri mengatakan, setelah memberikan vaksinasi kepada 50 ribu guru dan staf sekolah, saat ini sedang berjalan vaksinasi kepada anak usia 12-15 tahun untuk mendukung sekolah tatap muka.

“Vaksinasi kepada anak menggunakan vaksin Pfizer-BioNTech. Pemberian vaksinasi ini ditargetkan untuk lebih dari 400 ribu siswa di Singapura,” kata Heri.

Sumber : detik.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *