Pentingnya Adab dalam Membangun Tradisi Keilmuwan

OPINI

Oleh : Endri Prasetyo

Islam adalah agama yang sangat menjunjung tinggi sebuah ilmu. Antara pelajar dan pengajar memiliki kedudukan yang ilmu. Dampak positif dari seorang pengajar, bukan hanya memberikan garis vertical kepada Tuhannya, melainkan juga membuat garis horizontal kepada sesama dalam nilai-nilai kebaikan. Hal serupa berlaku bagi seorang pelajar, di mana derajatnya Allah tinggikan. Sebagaimana Allah berfirman dalam kitab-Nya.

“… Allah akan mengangkat (derajat) orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat … ” (al-Mujadalah:11)

Tujuan sebuah ilmu adalah mengamalkannya, sebab amal adalah buah dari ilmu, membuat umur berguna, dan bisa menjadi bekal di akhirat. Maka, barang siapa yang memperoleh ilmu, dia beruntung dan siapa yang kehilangan ilmu, dia merugi.

Tradisi keilmuwan dalam Islam bukan hanya mementingkan aspek kognitif saja, di mana kecerdasan menjadi priotitas dalam pembelajaran. Namun, Islam juga mementingkan aspek pembentukan akhlak yang hakiki. Tentunya, hal ini sangat berbeda dengan golongan sekularisme, di mana mereka memisahkan agama dan keilmuwan dalam tradisinya.

Dalam buku al-Majmu dijelaskan bahwa hendaknya para siswa selalu mengingatkan diri bahwa ilmu yang diraih adalah titipan Allah, bukan atas kehebatan dan kemampuannya dalam meraih pengetahuan. Maka, seorang yang dititipi tidaklah pantas merasa ujub, sombong atas hal yang bukan miliknya.

Setiap siswa juga harus menyadari bahwa Allah telah menetapkan kelebihan pada setiap hamba (sesuai hikmah kehidupan yang Dia tetapkan). Karena itu tidak perlu merasa iri atas kelebihan orang lain (karena kita pun memiliki kelebihan yang tidak dimiliki orang lain).

Peran agama sangat dominan dalam proses pembelajaran bagi setiap muslim. Setiap apa yang dimiliki dan didapatkan oleh setiap hamba-Nya, tentunya di sana ada peran-Nya. Dan ini tidak bisa dinafikan. Dengan begitu, setiap muslim harus paham bahwa niat dalam belajar harus ditujukan kepada-Nya. Bila ini telah ditanamkan dalam jiwa, sejatinya pembentukan diri yang baik, bukan hanya terjadi dari sisi pengetahuan saja, melainkan juga dari sisi spiritualitas, pengendalian diri, kepribadian, dan akhlak manusia.

Menurut Syed Naquib al-Attas, kurangnya nilai pendidikan saat ini terjadi karena hilangnya adab (the loss of adab). Al-Attas merujuk pada hilangnya disiplindisiplin raga, fikiran dan jiwa. Disiplin menuntut pengenalan dan pengakuan atas tempat yang tepat bagi seseorang dalam hubungannya dengan diri, masyarakat dan umatnya; pengenalan dan pengakuan atas tempat seseorang yang semestinya dalam hubungannya dengan kemampuan dan kekuatan jasmani, intelektual, dan spiritual seseorang.

Selanjutnya menurut al-Attas, pendidikan harus menghasilkan orang yang beradab, yakni orang yang secara penuh sadar akan tanggung jawab dirinya kepada Tuhan; memahami dan menunaikan keadilan terhadap dirinya sendiri dan orang lain dalam masyarakatnya; senantiasa meningkatkan setiap aspek dalam dirinya menuju kesempurnaan sebagai manusia beradab.

Selain itu, ulama Ibnu Hajar as Tsalaqi memberikan pandangan terkait adab. Menurutnya, adab itu meliputi empat perkara, yakni menggunakan hal-hal yang terpuji dalam ucapan dan perbuatan, memiliki akhlak yang mulia, berdiam (konsisten) bersama hal-hal yang baik, menghormati yang lebih tua dan kasih sayang pada yang lebih muda.

Dari paparan di atas, dapat diketahui bahwa nilai adab dalam tradisi keilmuwan Islam terikat sangat kuat. Hal ini yang melatarbelakangi al-Attas bahwa adab di dalam pendidikan itu disebut at-ta’dib. Istilah tersebut lebih sesuai daripada tarbiyah yang umumnya digunakan saat ini.

Menurutnya, kata ta’dib adalah: Pengenalan dan pengakuan yang secara berangsur-angsur ditanamkan kepada manusia tentang tempat-tempat yang tepat dari segala sesuatu dalam tatanan penciptaan sedemikian rupa, sehingga membimbing ke arah pengenalan dan pengakuan kekuasaan dan keagungan Tuhan.

Dari arti ini, ta’dib mencakup unsur-unsur pengetahuan (ilmu), pengajaran (ta’lim), dan pengasuhan (tarbiyah). Oleh karena itu menurutnya, tidak perlu mengacu pada konsep pendidikan Islam sebagai integrasi dari tarbiyah, ta’lim, dan ta’dib. Hal ini disebabkan karena ta’dib telah mewakili konsep pendidikan Islam.

Maka, konsep adab dalam pendidikan Islam tidak bisa dilepaskan, justru harus dilekatkan dan digabungkan. Tujuannya adalah agar terbentuk pribadi yang baik dan terimplementasikannya nilai-nilai Islam dalam prilaku. Seperti halnya ulama-ulama kerjakan, mereka belajar adab terlebih dahulu sebelum beralih ke disiplin ilmu-ilmu lainnya.

Sumber : kompasiana

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *