Membangun Pendidikan Karakter di Tengah Pandemi

OPINI

Oleh: Neng Lati Nurlatipah

Pendidikan karakter adalah upaya mewujudkan generasi bangsa yang cerdas dan baik (smart and good citizenship) atau memiliki akhlakyangmulia dan berkepribadian yang baik. Pendidikan karakter itu dapat berhasil jika dilihat bagaimana seorang guru dalam membangun karakter pada siswa. Pendidikan karakter sangat penting apalagi ditengah pandemi  ini kita belajar melalui pembelajaran jarak jauh yang dimana harus tetap diawasi oleh guru.

Pandemi covid-19 membuat banyak sektor menjadi dampak akibat covid-19 salah satunya sektor pendidikan. Hal ini tentu menjadi tantangan guru dalam upaya membangun pendidikan karakter anak bangsa. Di sisi lain, kondisi seperti ini memberikan kesempatan bagi siswa dalam membangun nilai-nilai karakter dimasyarakat dalam upaya mengatasi penanggulangan Covid-19 misalnya anak dapat mematuhi periku 3M guna memutus rantai penyerbaran virus, yakni memakai masker,mencuci tangan dan menjaga jarak, selain itu anak diminta juga sadar diri untuk menghidari keramaian dan selalu mematuhi protocol kesehatan.

Pandemi Covid-19 membuat dunia Pendidikan yang semula terencana terpaksa harus disesuaikan dengan keadaan. Kondisi tersebut membuat pemerintah terpaksa mengeluarkan kebijakan dalam menangani Covid-19 yaitu membuat system pendidikan jarak jauh. Pemerintah juga terus berupaya dalam menghadapi Covid seperti diberlakukanya New Normal, lalu aturan PSBB maupun physical distancing dan saat ini pemerintah juga berupaya melakukan vaksin. Walaupun pemerintah sudah mengeluarkan kebijakan New normal yang tujuan utamanya untuk menghidupkan kembali sector perekonomian yang sudah menurun akibat dampak dari Covid-19, namun sector pendidikan terutama pembelajaran disekolah belum sepenuhnya dibuka, hal ini disebabkan karena menghindari terjadinya penyebaran virus tersebut. Saat ini siswa belajar melalui pembelajaran daring yang sifatnya jarak jauh. Dan menjadi tantangan bagi guru dalam membangun karakter siswa pada masa pandemic ini.

Ketika berbicara tentang pendidikan karakter maka berhubungan dengan dua hal, yakni pendidikan dan karakter. Tujuan pendidikan adalah memanusiakan manusia yang selanjutnya mampu melakukan kegiatan-kegiatan yang mendorong terciptanya nalar yang lebihbaik, kritis, dan peka terhadap lingkumgam sekitar. Pendidikan bermakna untuk meningkatkan kualitas hidup manusia sehingga mereka mampu menjadi makhluk rasioanal dan beradab yang selalu bekerja dalam pembangunan. Sementara karakter, ini tentu berkaitan erat dengan sikap seseorang, apakah ia berperilaku baik atau tidak.

Sementara menurut Martin Loeb, orang yang memiliki karakter yangbaik adalah ketika ia melakukan sesuatu hal pada waktu yang tepat, dan tidak melanggar aturan ketika ia dihadapkan pada godaan internal. Lickona kemudian mmberikan sebuah fondasi awal tentang pendidikan karakter terdiri dari tiga komponen, yakni moral knowing atau pengetauan tentang moral, moral feeling atau perasaan tentang moral, dan moral action atau tidakan moral.

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) memberikan pijakan dasar terkait pendidikan karakter yakni, (1) Religius, (2) Jujur, (3) Toleransi, (4) Disiplin, (5) Kerja keras, (6) Kreatif, (7) Mandiri, (8) Demokratis, (9) Rasa ingin tahu, (10) Semangat kebangsaan, (11) Cinta tanah air, (12) Menghargai prestasi, (13) Bersahabat/komunikatif, (14) Cinta damai, (15) Gemar membaca, (16) Peduli lingkungan, (17) Peduli sosial, (18) Tanggungjawab. Tentunya, mengamati 18 nilai pendidikan karakter sebagaimana yang dimaksud oleh Kemdikbud, maka menjadi sesuatu yang penting untuk disampaikan secara kolektif bahwa pendidikan karakter memiliki peran penting dalam pembangunan karakter bangsa yang kuat. Pembangunan karakter bangsa menjadi sebuah tanggung jawab bersama dalam meningkatkan kualitas kehidupan berbangsa serta bernegara. Karena pendidikan karakter berbicara tentang nilai-nilai, maka ini bertujuan mengembangkan nilai-nilai yang membentuk karakter bangsa yaitu Pancasila, yaitu: (1) mengembangkan potensi siswa agar menjadi manusia yang berhati baik, (2) membangun bangsa yang berkarakter Pancasila, (3) mengembangkan potensi warganegara agar memiliki sikap percaya diri, bangga pada bangsa dan negaranya serta mencintai umat manusia.

Sumber : kompasiana

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *