Robot Inovasi Kurikulum, Konsekuensi Kemunduran Proses Pendidikan!

OPINI

Oleh : Muhammad izha

Di era globalisasi hari ini, seringkali kita mendapatkan informasi yang tidak terverifikasi kebenarannya sehingga tak jarang kita menjumpai berita hoax bertebaran di sosial media. Kemudahan dan kecepatan akses informasi yang sebenarnya memiliki sisi baik bagi kita sebagai manusia yang diberi akal oleh Allah SWT yakni guna untuk mampu memfilter berbagai informasi yang masuk ke dalam pikiran kita tetapi disamping itupun juga seolah-olah menjadi boomerang jika kita tak mampu bijak dalam menyikapi informasi tersebut

Penulis menyorot bahwa hal ini disebabkan karena kita terlalu mudah percaya dengan informasi yang kita terima, seringkali kita meneruskan pesan yang bahkan belum tentu telah selesai kita baca. Kita terjebak dengan judul-judul berita atau beranda media sehingga seolah-olah kita telah memahami seluruh isi informasi tanpa ragu untuk membagikannya

Kendatipun demikian, ini juga memiliki pengaruh yang besar bagi anak atau generasi penerus bangsa. Bagaimana tidak? Hampir setiap anak Indonesia memiliki gadget ataupun minimal mereka diperkenankan untuk memainkan gadget sekehendak mereka. Lebih miris jika apa yang mereka lihat di gadget justru tidak diperhatikan oleh orang tua. Orang tua memiliki peran penting dalam proses pendidikan anak, terlepas dari peran ibu yang Islam menyebut sebagai “madrasatul ‘ula” yakni tempat pendidikan pertama bagi sang anak, tetapi disamping itu peran ayah sangat dibutuhkan sebagai proses pendidikan karakter yang mesti diajarkan kepada anak. Sehingga bukanlah masalah jika memberikan fasilitas terbaik kepada anak untuk mampu mendorong rasa penasaran didalam dirinya tetapi jika orang tua tidak berperan dengan bijak maka justru akan menjadi sebuah bencana

Masa pandemi yang memiliki hikmah didalamnya juga menyimpan kekhawatiran bagi kita, terutama anda yang sudah menjadi orang tua. Bagaimana tidak? Mulai level sekolah dasar hingga perguruan tinggi hari ini ‘seolah olah dipaksa’ untuk mampu beradaptasi dengan teknologi. Adalah sebuah keniscayaan jika setiap anak telah diajarkan untuk bijak dalam penggunaan gadget, tetapi seringkali orang tua salah paham dengan menghadirkan fasilitas terbaik kepada anak tetapi mengenyampingkan perhatian dan pendidikan terhadap pola pikir anak

Dilansir dari Kumparan.com Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) telah merilis survey bahwa didapatkan sebesar 79% anak Indonesia menggunakan gadget untuk selain proses pembelajarannya bahkan didapatkan 71,3% anak memiliki gadget sendiri tanpa pengendalian atau kepemilikan penuh orang tua

Para pembaca yang budiman,

Sesungguhnya Allah SWT. telah mengisyaratkan kepada kita semua didalam surah Al Baqarah ayat 30 .

Artinya :

Dan ingatlah ketika Tuhanmu berkata kepada malaikat, ‘Aku ingin menjadikan khalifah di bumi’. Mereka bertanya, ‘Apakah Engkau hendak menjadikan orang yang merusak dan menumpahkan darah di sana? Padahal, kami bertasbih memuji dan menyucikan nama-Mu.’ Dia berkata, ‘Sungguh, Aku mengetahui apa yang tidak kalian ketahui’.

Ayat ini mengisyaratkan kepada kita betapa Allah memberikan karunia-Nya yang begitu besar dengan menyebut anak keturunan Bani Adam bahkan sebelum menciptakannya. Makna kata khalifah bukan sebatas pemimpin sebagaimana yang kita pahami. Ibnu Katsir didalam tafsirnya menyebutkan bahwa makna khalifah itu berakar dari kata “khalafaa-yakhlifu khalfan-khalifatan” yakni kaum yang silih berganti, abad demi abad, generasi demi generasi yang menghuni bumi. Ibnu Katsir juga meneruskan penjelasannya, bahwa khalifah yang diutus Allah dimuka bumi ialah Adam ‘alaihissalam dan orang — orang yang mengikuti jejaknya dalam ketaatan dan ketundukan kepada Allah SWT. Sehingga jika hari ini anda merasa menjadi orang yang mengusahakan menjalankan ketaatan dan ketundukan kepada Allah SWT baik dalam ruang lingkup ibadah, aspek sosial, ekonomi, kesehatan dan lain sebagainya, selama anda berdasar atas keimanan ketaatan dan ketundukan kepada Allah maka anda pun juga disebut sebagai khalifah

Namun, poin yang ingin disampaikan oleh penulis yakni bahwa khalifah memiliki tuntutan dan tanggung jawab besar untuk mampu menyiapkan khalifah selanjutnya dalam artian orang tua maupun sosok tenaga pendidik memiliki amanah untuk menyiapkan generasi selanjutnya. Terlepas dari amanah sebagai orang tua, maka penulis mencoba menyoroti peran guru yang diamanahkan dimuka bumi untuk mampu memberikan pendidikan terbaik kepada setiap anak didiknya untuk bukan sekedar menjadikan mereka robot percobaan inovasi kurikulum tetapi guru juga harus menjadi tenaga yang professional untuk mampu menghadirkan generasi yang memiliki pengaruh baik bagi suatu kemajuan agama, bangsa dan Negara.

Maka guru juga memiliki tuntutan besar untuk terus belajar, terutama dalam mengarungi kerasnya kemajuan zaman. Tidak sekedar menuntut anak didik untuk belajar mandiri tetapi juga harus memberikan gambaran keteladanan yang pantas dilihat oleh anak didik. Maka kemajuan bangsa ini jelas dipengaruhi oleh faktor utamanya yakni tingkat kapasitas guru yang professional.

Allah mengisyaratkan didalam Surah An Nisa ayat 9 :

Artinya :

Dan hendaklah takut (kepada Allah) orang-orang yang sekiranya mereka meninggalkan keturunan yang lemah di belakang mereka yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan)nya. Oleh sebab itu, hendaklah mereka bertakwa kepada Allah, dan hendaklah mereka berbicara dengan tutur kata yang benar.

Sebagai penutup, maka izinkan penulis untuk mewasiatkan kepada diri pribadi, kepada para pembaca, dan utamanya kepada para orang tua dan guru yang berperan sebagai tenaga pendidik agar marilah kita terus belajar dan mampu menjadi “sekolah terbaik” bagi anak-anak kita, bagi anak-anak didik kita sehingga kita mampu menjalankan perintah Allah dan Rasul-nya untuk menyiapkan generasi yang mampu membawa kemajuan Islam, bangsa dan Negara

Sumber : kompasiana

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *