Peran Museum pada Generasi Z di Era Digital 4.0

OPINI

Oleh : mawardi nurullah

DALAM beberapa dekade terakhir kesadaran masyarakat Indonesia terhadap sejarah mulai pudar. Hal ini diketahui dari minat dan motivasi peserta didik terhadap pelajaran sejarah dan kegiatan — kegiatan yang berhubungan dengan nilai — nilai sejarah. Distorsi sejarah dan transisi yang begitu cepat membuat generasi z memandang sejarah hanyalah disiplin ilmu yang tidak terlalu penting, bukan mata pelajaran yang utama dalam kurikulum pembentukan karakter. Tentu hal ini menjadi kekhawatiran para tenaga pendidik dan pengajar apabila generasi sekarang dan mendatang mudah melupakan terlebih tidak paham dengan sejarah bangsanya sendiri.

Secara etimologi, kata sejarah berasal dari bahasa Arab syajarah (syajaratun) artinya pohon. Di Indonesia sejarah dapat berarti silsilah, asal-usul, riwayat, dan jika dibuat skema menyerupai pohon lengkap dengan cabang, ranting, dan daun. Dalam makna yang lain sejarah sebagai “The Father of Science” disiplin ilmu lainnya, sebab hampir semua ilmu pengetahuan didalamnya mempelajari sejarah awal dan terbentuk sebuah peristiwa atau kejadian yang melatarbelakangi ilmu pengetahuan itu lahir.

Hal ini yang menjadikan sejarah menjadi sangat penting dalam perkembangan ilmu pengetahuan dan tekhnologi peradaban sebuah bangsa. Sejarah merupakan identitas sebuah bangsa terhadap masyarakatnya, sebab dari mempelajari sejarah itu pula mereka bisa membaca, mengamati, dan mengevaluasi jalannya sebuah peradaban. Tentu hal ini menjadi sangat riskan bila generasi penerus bangsa tidak paham dan mengerti sejarah daripada bangsanya, manakala sejarah itu dihilangkan maka identitas atau ciri daripada sebuah bangsa tersebut tidak bernilai dan kosong.

Maka untuk membangun sebuah peradaban yang mulia dan beradab, masyarakat Indonesia bisa dengan mencetuskan ide dan gagasan di pelbagai komunitas atau organisasi yang ada untuk dapat menggali sejarah kearifan lokal di kota masing-masing dan mengadakan kegiatan — kegiatan dalam bentuk wisata sejarah ke Museum. Kegiatan tersebut menitikberatkan pada pemahaman nilai — nilai sejarah terhadap generasi z dengan berbasis pendekatan pada digitalisasi tekhnologi.

Menurut Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 1995 museum adalah lembaga, tempat penyimpanan, perawatan, pengamanan, dan pemanfaatan benda-benda bukti material hasil budaya manusia, alam, dan lingkungannya guna menunjang upaya perlindungan dan pelestarian kekayaan budaya bangsa. Museum dalam menjalankan aktivitasnya, mengutamakan dan mementingkan penampilan koleksi yang dimilikinya. Setiap koleksi merupakan bagian integral dari kebudayaan dan sumber ilmiah.  (Definisi menurut ICOM = International Council of Museeum/Organisasi Permuseuman Internasional dibawah UNESCO). Museum merupakan suatu badan yang mempunyai tugas dan kegiatan untuk memamerkan dan menerbitkan hasil-hasil penelitian dan pengetahuan tentang benda-benda yang penting bagi kebudayaan dan ilmu pengetahuan.

Narasi — narasi inilah yang harus terus dibangun pada generasi milenial maupun generasi z dengan melakukan pendekatan tekhnologi komputerisasi agar menjadi narasi yang menarik dan alternatif serta tidak monoton sehingga diharapkan minat dan motivasi mempelajari sejarah terhadap “Gen Z” ini dengan mengunjungi museum menjadi sebuah kesenangan pribadi karena dapat ikut larut dalam imajinasi peristiwa — peristiwa masa lampau dibalut dengan komputeriasi tekhnologi, sehingga paradigma museum tidak lagi menjadi seram, kolot ataupun terkesan usang.  

Dalam hal ini generasi z menjadi pelaku dan ”market” dalam kegiatan kunjungan wisata sejarah. Sebab mereka memiliki karakter dan pola berfikir yang berbeda dengan generasi-generasi sebelumnya. Istilah generasi milenial (atau Y) diperkenalkan oleh dua pakar sejarah dan penulis Amerika Willem Strauss dan Neil Howe (1991, 2000) dalam bebe rapa buku mereka. Mereka membagi generasi berdasarkan kesamaan rentang waktu kelahiran dan kesamaan kejadian-kejadian historis. Berdasarkan kategori usia, Generasi Milenial adalah mereka yang lahir pada rentang tahun 1980-1990 an atau pada awal 2000. Generasi berikutnya adalah generasi z. Namun, rentang tahun generasi – generasi tersebut, oleh para pakar didefenisikan berbeda – beda. Meskipun, rentangnya tidak begitu jauh.

Ketika jurnalis Bruce Horovitz memperkenalkan istilah generasi z pada tahun 2012, rentang umur yang digunakan masih belum jelas. Ketika agen pemasaran Sparks and Honey melakukan presentasi pada 2014 rentang umur yang mereka gunakan untuk generasi z, disepakati bahwa Gen Z adalah mereka yang lahir pada 1995 hingga 2014. Fase tersebut berbarengan dengan kemunculan internet. Hal ini yang menjadi kesepakatan para pakar bahwa generasi z adalah mereka yang lahir di era komputerisasi internet.

Karakter generasi z dikenal memiliki karakter yang lebih tidak fokus daripada generasi milenial namun mereka lebih serba bisa, lebih individual, lebih global, berpikiran lebih terbuka, dan lebih dekat terhadap teknologi. Dampak negatif daripada ini membuat sebagian generasi z mempunyai “negara di dalam media sosial”. Mereka mempunyai kehidupan sendiri didalam media sosial, sehingga berada pada zonasi semu yang dimana tantangan dan kenyataan didalam kehidupan media sosial berbanding terbalik dengan realitas 3 dimensi kehidupan nyata. Hal ini yang menyebabkan banyak dari mereka menjadi acuh tak acuh terhadap  nilai — nilai sosial dan berkurangnya kepekaan moral di lingkungan sekitarnya.

Oleh karenanya narasi menjadi hal penting dalam menemukan formula yang tepat. Narasi mengenai suatu objek jika dapat disajikan dengan inovatif dan variatif dapat memikat para peserta didik maupun generasi z ini terhadap peristiwa masa lampu. Sebagai ilustrasi, sebuah benda biasa yang digunakan sehari-hari akan menjadi sangat istimewa jika kita mengetahui cerita atau latar belakang dari benda tersebut. Menurut Kopytoff (1986) barang-barang atau benda-benda bukan sekedar benda mati karena mereka memiliki biografi. Apalagi jika benda tersebut berhubungan dengan kehidupan seseorang yang dianggap penting. Suatu barang tertentu memiliki nilai, makna dan sebenarnya memiliki kehidupan sosial (Woodward 2007: 103).

Bahwa generasi z ini cenderung mencari pengalaman yang otentik dan bermakna. Mereka lebih independen daripada pendahulu mereka. Dalam menentukan pilihan, Gen Z beralih pada informasi dalam jaringan, namun juga berinteraksi dengan orang lain untuk menambah wawasan. Berbeda dengan generasi sebelumnya, sebab mereka sendiri lebih suka membuat keputusan akhir. Generasi z lebih praktis dan secara finansial lebih termotivasi daripada rekan milenial mereka. Pilihan mereka untuk belajar mandiri dipenuhi rasa ingin tahu dan perhatian untuk pemenuhan kebutuhan sendiri dan dampak sosial (Barnes & Noble College, 2016: 2).

Sejatinya keberadaan dan eksistensi daripada museum sebagai rumah peradaban mendapatkan tantangan dari perkembangan zaman dewasa ini. Terlebih di masa pandemik seperti ini para stake dan share holder pihak Museum harus merubah regulasi dan beradaptasi terkait penerapan peraturan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Kegiatan daring maupun penyuluhan secara online bisa menjadi solusi alternatif pihak Museum untuk lebih memperkenalkan konseptual dari sejarah museum itu sendiri. Nonton bareng film dokumenter secara daring atau tur virtual bisa menjadi gagasan utama dalam mengembangkan potensi dan minat bakat peserta didik atau generasi z ini terhadap nilai — nilai sejarah pada umumnya dan eksitensi Museum pada khususnya.

Sehingga optimalisasi dari narasi sejarah ini diharapkan menjadi motivasi pada generasi selanjutnya, bahwa peran sejarah dan museum sangat penting terhadap keutuhan sebuah bangsa. Benang merah yang dapat kita simpulkan pada generasi z adalah penggunaan teknologi dan keragaman narasi. Dukungan perkembangan teknologi dalam jaringan memperkuat upaya komunikasi antara pihak museum dengan Pemerintah daerah dan pihak sekolah agar sama-sama mengelaborasi program-program kegiatan yang beredukasi dan monumental.

Metode alternatif dan edukatif menjadi pilihan yang dapat diberikan kepada mereka. Narasi mengenai sejarah, cerita-cerita kepahlawanan tentang tempat, situs atau tokoh sejarah lokal sebagai bentuk alternatif dari sejarah resmi dengan harapan baik generasi milenial maupun generasi z kelak memiliki keinginan memperdalam dan memahami narasi mengenai hal tersebut. Kunci dari narasi ini adalah adalah ‘sense of place’ (rasa tempat) yang justru berasal dari tempat sehari-hari dan berbeda dengan tempat monumentalisasi oleh negara (De Groot, 2009: 63-64).

Namun, tidak tertutup kemungkinan menawarkan narasi alternatif dari sejarah arus utama, misalnya kisah para tokoh sejarah yang heroik bukan hanya ditampilkan sebagai pahlawan sempurna, melainkan juga kisah keseharian mereka yang dapat saja berhubungan dengan kota, kisah asmara, dan wilayah tertentu (tempat mereka mulai berkarir, tempat dibuang). Yang dibalut dengan digital natives, sehingga peran serta dari museum menjadi lebih maksimal dan produktif di masa pandemik seperti ini serta tetap mengikuti perkembangan komputerisasi yang sudah masuk dalam era digital 4.0.

Digitalisasi memerlukan peralatan seperti komputer, scanner, operator media sumber dan software pendukung (Sukmana, 2005). Sedangkan menurut Lasa Hs, digitalisasi adalah proses pengelolaan dokumen tercetak/printed document menjadi dokumen elektronik dan transformasi digital ini sangat komprehensif dari keseluruhan aspek baik melalui penggabungan teknologi digital dan internet dengan tekhnologi konvensional, yang menekankan definisi kepada unsur kecepatan dari ketersediaan informasi yang dimana seluruh entitasnya selalu terhubung dan mampu berbagi informasi satu dengan yang lain.

Seyogyanya metode edutainment yang diterapkan oleh beberapa museum yakni menjadikan pendidikan sekaligus hiburan juga harus dipertahankan dan dikembangkan. Sebab hal tersebut juga senada dengan trend global dalam manajemen warisan budaya nenek moyang leluhur bangsa. Termasuk institusi — institusi yang heritage di Indonesia juga harus berupaya melibatkan elemen masyarakat yang semakin kehari menuntut kemajemukan dan keberagaman acara interaktif yang lebih menarik khususnya melalui daring virtual dewasa ini.

Sehingga peran museum terhadap generasi z di masa pandemik dan era digital ini didukung penuh oleh semua komponen baik dari pemerintah pusat maupun pemerintah daerah, dalam merawat ingatan sejarah bangsa guna membentuk karakter bangsa yang berbudi pekerti, mulia dan beradab. Ingat jika bangsa ini ingin besar maka pemuda/i di negara ini harus memahami dan menghargai sejarah bangsanya, agar kelak dikemudian hari mereka tidak lupa dengan identitas bangsa dan jati dirinya. Mari bersama-bersama merawat ingatan sejarah itu dengan mengajak keluarga, teman, dan kerabat dengan bersama sama mengunjungi museum.

Sumber : kompasiana

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *