Aliansi Pelajar Surabaya Tolak Belajar Daring

Jawa Timur

SURABAYA – Aliansi Pelajar Surabaya menyatakan penolakan terhadap pembelajaran jarak jauh (PJJ) atau belajar daring tahun ajaran 2021-2022. Sebab, metode itu dinilai kurang efektif dan menjadi beban bagi pelajar selama ini.

Ketua Aliansi Pelajar Surabaya Mirza Akmal Putra menyebut, selama ini pelajar hanya ditakut-takuti dengan adanya COVID-19. Padahal, dengan digelarnya pembelajaran tatap muka (PTM) pelajar bisa diedukasi mengenai pandemi COVID-19.

“Kalau daring lagi. Yang saya takutin pelajar kehabisan paketan, gak ngerti pelajarannya itu yang saya takutin. Dari pada teman-teman ini ditakutin COVID-19, karena kalau dilaksanakan PTM maka bisa mengedukasi juga kan COVID-19,”.

Meski begitu, lanjut Mirza, pelaksanaan PTM di tengah pendemi harus dipersiapkan dengan serius sebelumnya. Salah satunya yakni dengan mendata pelajar yang mempunyai komorbid atau penyakit bawaan.

“Kalaupun dari Dinas Pendidikan, Satgas COVID-19 atau pihak sekolah itu bisa bekerja sama untuk mendata anak didik yang punya komorbid misalnya. Itu saya rasa kalau bisa didata di awal bisa dilaksanakan PTM, kemudian bikin perjanjian mentaati prokes. Dan ketika masuk pun teman-teman saya rasa bisa taat dengan prokes,” tuturnya.

“Tapi juga tak menutup kemungkinan kalau ada kelalaian pembelajaran tatap muka akan tercipta kluster baru. Tapi saya rasa kalau dilaksanakan dengan ketat, saya rasa gak akan muncul kluster di sekolah,” tambah Mirza.

Sedangkan sebagai solusi untuk menekan penyebaran COVID-19, Mirza mengusulkan untuk membentuk Satgas COVID-19 di lingkungan sekolah. Adapun Satgas tersebut bisa dilaksanakan dengan menggerakkan berbagai organ ekstra sekolah.

“Saya rasa OSIS, PMR, UKS, Rohis, dan Pramuka bisa digerakkan untuk melakukan sebagai Satgas COVID-19. Jadi pelajar juga tergerak untuk melindungi diri sendiri, teman, dan keluarga besar sekolahnya,” tutur Mirza.

Ditanya apa tidak khawatir dengan varian COVID-19 baru yang lebih cepat menular? Mirza meminta agar jangan bicara soal takut dahulu, sebab tekanan pelajar yang tak bisa sekolah juga punya dampak dan bisa menjadi beban dan berimbas ke kesehatan juga.

“Aku rasa kembali lagi ke teman-teman yang penting prokes dan 5M bisa dilaksanakan di sekolah. Kemudian soal vaksinasi yang diperbolehkan saya rasa bisa dilaksanakan. Yang penting jangan tiba-tiba parno dulu. Itu malah menambah tekanan mental malah kena COVID beneran nanti,” jelasnya.

Menurut Mirza, pihaknya memang belum mencoba beraudiensi dengan Dinas Pendidikan. Namun ia sudah mendengar bahwa tahun ajaran ini PTM akan digelar. Meski begitu, dalam waktu dekat ia akan melakukan audiensi dengan Komisi E DPRD Jatim. Itu dilakukan agar PTM tidak dibatalkan atau tidak kembali belajar daring.

“Dari 2020 kemarin kami sudah melakukan kunjungan ke sejumlah sekolah. Dan saya rasa itu beberapa sudah siap PTM. Kemudian terkait komunikasi belum ada. Tapi kemarin kalau gak salah Dinas Pendidikan Jatim akan memperbolehkan PTM bagi kecamatan kuning sama hijau,” terangnya.

“Insyaallah dalam beberapa waktu ke depan kami akan beraudiensi dengan Komisi E DPRD Jatim,” pungkas Mirza.

Sumber : detik.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *