Potret Satu Tahun Lebih Pembelajaran di Era Pandemi

OPINI

Oleh : sukma dewi hapsari

Selama 15 bulan ini atau hampir satu setengah tahun, pelajar di Indonesia melakukan pembelajaran yang dinamakan dengan pembelajaran jarak jauh. Pembelajaran jarak jauh menurut Suatu bentuk pembelajaran mandiri yang terorganisasi secara sistematis di mana konseling, penyajian materi pembelajaran, dan penyeliaan dan pemantauan keberhasilan belajar siswa dilakukan oleh sekelompok tenaga pengajar yang memiliki tanggung jawab yang saling berbeda. Pembelajaran dilaksanakan secara jarak jauh dengan menggunakan bantuan media. Kebalikan dari sistem pendidikan jarak jauh adalah pendidikan langsung atau tatap muka, suatu sistem pembelajaran yang terjadi karena adanya kontak langsung antara tenaga pengajar dan siswa (Dohmen, 1967).

Sebenarnya hal itu merupakan bukan lagi hal baru, karena ada universitas terbuka yang menganut pembelajaran jarak jauh ini lebih dulu dan banyak sekali lulusannya yang sukses dibidangnya masing-masing.

Dengan kondisi pandemi ini mengakibatkan Bapak Nadiem Makarim selaku Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia menetapkan pembelajaran jarak jauh ini untuk menekan tingginya angka kasus positif covid-19 di Indonesia. Namun penetapan ini disertai dengan ketentuan-ketentuan yang berlaku agar siswa tetap bisa belajar dengan nyaman dan tidak kehilangan haknya untuk mendapatkan ilmu. Seperti contohnya pembelajaran jarak jauh ini dilakukan untuk memberikan pengalaman belajar yang bermakna bagi siswa, tanpa terbebani tuntutan untuk menuntaskan ketercapaian kurikulum untuk kenaikan kelas atau kelulusan.

Namun yang terjadi di lapangan banyak guru hanya memberikan tugas saja untuk siswa. Misalnya setiap minggunya ada beberapa list tugas yang dikirimkan ke grup whatsapp untuk dikerjakan dan dikumpulkan minggu depan atau ada juga sekolah yang memberlakukan mengambil tugas setiap hari senin dan mengumpulkan tugas setiap hari kamis, karena keterbatasan signal di daerah itu atau orang tua siswa yang tidak mempunyai fasilitas hp. Sehingga jika dilihat dari ketentuan yang ditetapkan pelaksanaan di lapangan itu sama sekali belum menerapkan proses pembelajaran yang bermakna, karena siswa hanya berpacu dalam mengerjakan tugas saja dan kalau tidak ada tugas tidak belajar, itupun tugas sebagian besar banyak campur tangan dari orang tua, bahkan untuk kasus anak tk dan sd tingkat rendah orang tua yang menuliskan tugas anaknya.

Memang perlu menelisik lebih dalam lagi kenapa banyak guru hanya melakukan penugasan terstruktur saja, yang biasanya banyak siswa yang bosan dan malas karena hanya melakukan aktivitas-aktivitas yang monoton setiap harinya. Banyak faktor yang mempengaruhi guru hanya melakukan hal tersebut di antaranya yaitu pertama, belum meratanya fasilitas koneksi internet di beberapa daerah Indonesia sehingga untuk melakukan koordinasi yang berbeda di setiap harinya sulit dilakukan, kalaupun koordinasi dilakukan dengan offline banyak yang tidak setuju karena masih dengan kondisi yang belum memungkinkan. Kedua, banyak dari wali siswa yang tidak mempunyai alat komunikasi seperti hp android karena kondisi ekonomi yang pas-pasan. Sehingga dengan keadaan tersebut pemerintah mulai merombak kembali jalannya pembelajaran di pandemi ini.

Selama ini sekolah di sama ratakan untuk menjalani pembelajaran jarak jauh meskipun itu di daerah yang nol kasus covid-19 karena sulit dijangkau dan ada pengamanan yang ketat dari warga asli daerah tersebut, meskipun mustahil juga selamanya tidak ada kasus covid-19, namun ini juga bisa menjadi pertimbangan untuk melakulan pembelajaran tatap muka terbatas, tetapi harus memenuhi ketentuan seperti guru dan siswa sudah di vaksin, wilayahnya aman untuk tatap muka, dan yang paling penting persetujuan dari orang tua masing-masing siswa.

Semoga inovasi-inovasi pembelajaran yang dilakukan oleh kemendikbud, seperti literasi, numerasi dan pembelajaran blended learning bisa membantu siswa-siswa yang telah satu tahun lebih bisa dikatakan tidak belajat sesuai dengan kurikulum, sehingga tidak bisa mengukur capaian siswa terhadap mata pelajaran.

Sumber : kompasiana  

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *