Guru Pandemi

OPINI

Oleh : Serli Ana

Saya yakin tak ada satu pun guru di negri ini terbayang akan terlempar dalam pusaran pandemi covid-19. Rasa nyaman yang selama ini dilalui lewat pembelajaran tatap muka, seketika sirna. Berganti dengan model pembelajaran yang entah dating dari mana, pembelajaran daring.

Diakui atau tidaknya pandemic ini merubah total segala tatanan hidup didunia ini. Dari mulai remeh temeh, hingga masalah peribadatan yang selama ini berada pada tataran tidak tersentuh sama sekali. Pendidikan sebagai salah satu bagian dari kehidupan ini, tak ayal tersenggol juga.

Jika sektor pendidikan tersenggol, dapat dipastikan kalangan gurulah yang dibuat pontang-panting. Seakan gempa besar melanda guru dari segala lapisan. Permasalahan awal yang muncul adalah penguasaan teknologi. Tak dapat dimungkiri munkin sebagian besar guru-guru kita berada pada level awam dalam penguasaan teknologi informasi dan komunikasi. Penguasaan mereka pada pengoperasian internet hanya sebatas untuk kepentingan mendasar saja. Belum lagi penggunaan akan aplikasi yang harus digunakan.

Situsi ini seakan menempatkan guru pada sosok paling bodoh, dari semula sebagai pusat segala pertanyaan dari siswa. Lemahnya penguasaan ini membuat mereka gemang dalam melangkah. Walaupun akhirny mereka mampu melewtinya dengan segala keterbatasan, ternyata belum juga optimal. Belum lagi tahap persiapan materi pembelajaran, materi yang sebelumnya disampaikan secara tatap muka seketika berubah dalam kondisi nir tatap muka. Tentu hal ini bukan hal mudah karena guru harus pontang panting mencari alat yang sesuai dengan  materi ajarnya.

Yang tak kalah sulit adalah penanaman sebuah konsep dalam materi yang disampaikan. Jika dalam kondisi normal maka tidak terlalu sulit karena sekali guru bicaara maka semua anak dipastikan akan mendengar, namun dalam moel daring tidak dapat dipastikan bahwa semua anak masuk dalam jaringan yang disediakan.

Perjalanan penderitaan para guru ternyata tidak hanya sampai disini. Di berbagai pelosok tanah air, terdengar jeritan para guru hanya untuk mengajak anak untuk masuk dalam kegiatan pembelajaran daring. Tak jarang mereka melakukan komunikasi langsung menggunakan telepon, hanya untuk memastikan anak ada pada posisi yang tepat saat pembelajaran berlangsung.

Maka muncul pertanyaan apakah orang tua tidak membantu? Jawabannya adalah sebagian orang tua sudah tidak lagi peduli dangan semua ini. Sebagian sudah angkat bendera putih karena sudah tidak mampu lagi mengajar mau pun mengawasi anaknya. Keterbatasan ilmu dan tuntutan pekerjaan lain, membuatnya abai dengan perkembangan belajar anak.

Sumber : kompasiana

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *