Narasi PJJ Identik dengan Learning Loss Hambat Digitalisasi Pendidikan

PJJ

JAKARTA: Pengamat Pendidikan dari Center for Education Regulations and Development Analysis (CERDAS), Indra Charismiadji mengkritisi narasi yang dibangun Kementerian Pendidikan Kebudayaan Riset dan Teknologi (Kemendikbudristek) tentang Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ).  Sering kali Kemendikbudristek mengatakan, bahwa PJJ memberikan dampak negatif buat para pelajar.

Bahkan narasi tersebut diikuti dengan pernyataan bahwa PJJ terus menerus bakal menciptakan learning loss.  Menurut Indra, narasi itu justru akan memperlambat terwujudnya digitalisasi pendidikan di Indonesia.

Kemendikbudristek seolah-olah ingin terus melestarikan metode tradisonal Pembelajaran Tatap Muka (PTM).   Hal ini tentu sebuah kemunduran, terlebih lagi dunia pendidikan juga menjadi salah satu bidang yang terdampak disrupsi teknologi.

“Kemendikbudristek mengatakan semakin lama Pembelajaran Tatap Muka tidak terjadi, semakin banyak hal negatif yang terjadi pada anak. Ini yang terus-menerus dikampanyekan oleh Kemendikbud. Yang dibentuk selalu orang berpikiran kalau tidak tatap muka maka hasilnya negatif,” kata Indra dalam webinar Ngopi Mantap LP Ma’arif NU PBNU, Jumat 16 Juli 2021.

Untuk itu dia meminta agar Kemendikbudristek menumbuhkan pola pikir masyarakat, jika dengan PJJ daring pendidikan akan tetap dapat diraih. Bagaimana agar masyarakat dibentuk agar percaya dengan pendidikan digital.

“Harusnya yang kita dorong bukan fix mindset tapi grwoth mindset. Untuk bagaimana perlahan masyarakat pendidik percaya kalau pendidikan digital itu dibuat bermanfaat, mengubah apa yang disebut learning loss jadi learning gate,” tuturnya.

Menurutnya, pandemi covid-19 terlebih lagi Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat yang akan diperpanjang sampai dengan akhir Juli 2021 ini merupakan momentum tepat untuk merancang dan memperbaiki kualitas PJJ secara daring.

Sebuah sistem yang komplit harus dibangun guna membangun sekolah digital.  “Dan kalau kita bicara pembelajaran basisnya digital itu kita apa hal-hal yang harus kita siapkan sehingga prosesnya akan menjadi lebih efektif dan lancar,” terangnya.

Indra menyebut, ada beberapa cara kerja yang mesti disiapkan. Di antaranya infrastruktur yang terkait dengan gawai hingga fasilitas internet.

“Kedua infrastruktur ini bagaimana informasinya bisa terstruktur (dalam memberikan pembelajaran). Yang terakhir adalah info culture, di mana pembelajaran digital bisa anytime, anywhere, anydevice karena punya management system, materi yang disampaikan ini bisa tersimpan dan bisa diakses kapan saja,” tutupnya.

Sumber : medcom.id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *