Jadi Pengganti UN, Begini Skema Asesmen Nasional

Program Pendidikan

JAKARTA – Asesmen Nasional menurut rencana diselenggarakan mulai September 2021. Kepala Balitbang dan Perbukuan Kemendikbudristek Anindito Aditomo menyebutkan Asesmen Nasional bertujuan untuk mendorong perbaikan kualitas pembelajaran di jenjang dasar dan menengah.

“Dorongan perbaikan ini dicapai dengan cara mengembalikan hasil Asesmen Nasional kepada satuan pendidikan dan pemda, supaya mereka bisa pakai sebagai bahan evaluasi diri dan bahan perencanaan ke depannya, yang berbasis data yang objektif,” ujar pria yang akrab dipanggil Nino itu dalam dialog virtual bertajuk Persiapan Pelaksanaan Asesmen Nasional 2021, Selasa (27/07/2021).

Simak skema lengkap pelaksanaannya.

Materi apa saja yang termasuk dalam Asesmen Nasional?

Dalam asesmen ini, ada tiga komponen yang akan digunakan sebagai ukuran. Ketiganya adalah Asesmen Kompetensi Minimum (AKM), Survei Karakter, dan Survei Lingkungan Belajar.

Menurut Nino, AKM berfungsi untuk menilai hasil belajar yang sifatnya kompetensi kognitif. Yang dimaksud di dalamnya adalah kemampuan literasi dan numerasi tingkat dasar.

Selanjutnya, ia menyatakan bahwa Survei Karakter dilakukan untuk melihat sikap, kebiasaan, dan nilai-nilai yang mencerminkan profil pelajar Pancasila.

Untuk Survei Lingkungan Belajar, dirinya memaparkan bahwa hal ini dilakukan untuk mengukur kualitas dari berbagai input proses yang mendukung pembelajaran.

“Hasil AN itu bsia menunjukkan kepada guru, kepada sekolah, kepada pemda, dan kepada Kemdikbud juga nantinya, tentang apa yang penting untuk dijadikan tujuan pembelajaran,” ujar Nino.

Bentuk soal yang diberikan pada materi AKM ada bermacam-macam. Nino menyebutkan beberapa contohnya, yakni pilihan ganda tradisional, pilihan ganda kompleks, pilihan ganda lebih dari satu jawaban benar, serta esai singkat.

Sementara, untuk semua survei, bentuk soal adalah berupa pernyataan tertutup.

Bagaimana pelaksanaan Asesmen Nasional saat pemberlakuan PPKM?

Nino mengatakan bahwa AN ini sebetulnya sudah disiapkan sejak Desember 2019. Dari sisi instrumen tes dan survei, program ini sudah pada tahap finalisasi versi akhir.

Sementara itu, dari sisi pelaksanaan, Kemendikbudristek sudah berkali-kali berkoordinasi dengan dinas pendidikan tiap daerah. Akan tetapi, dengan adanya Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM), maka Asesmen Nasional akan dilaksanakan secara adaptif sesuai kondisi pandemi di masing-masih daerah.

Siapa saja yang mengikuti Asesmen Nasional?

Pada program ini, baik siswa, guru, maupun kepala sekolah akan mengikutinya. Kendati demikian, guru dan kepala sekolah hanya mengerjakan Survei Karakter dan Survei Lingkungan Belajar.

Nantinya, tidak semua murid juga perlu mengerjakan Asesmen Nasional. Nino menjelaskan bahwa Kemendikbudristek akan memilih siswa secara acak agar adil dan representatif.

Ia menambahkan, nanti akan ada daftar yang diberikan beserta peserta cadangannya. Nino menjelaskan, peserta untuk jenjang SD cukup 30 siswa, sedangkan untuk SMP dan SMA cukup 45 siswa.

Siswa yang harus ikut pun adalah yang duduk di kelas 5 SD, 8 SMP, dan 11 SMA sederajat. Jika misalnya di sebuah sekolah ada kurang dari 30 siswa SD/MI kelas 5, maka semua siswa kelas 5 di sekolah bersangkutan harus ikut.

Nino meyakinkan bahwa tidak ada profiling individu dalam penyelenggaraan Asesmen Nasional. Maka, para siswa, guru, dan kepala sekolah cukup mengerjakan dengan rileks dan tak perlu berusaha tampil lebih baik.

Tujuannya, agar didapatkan hasil AN yang jujur sehingga akan diketahui mana aspek yang perlu diperbaiki.

Sumber : detik.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *