Waspadai 3 Potensi Dampak Negatif bagi Siswa Karena Pandemi COVID-19

kesehatan dalam pendidikan Masalah Dunia Pendidikan

JAKARTA – Pandemi COVID-19 yang berkepanjangan bisa memunculkan berbagai efek pada dunia pendidikan. Mulai dari sistem pembelajaran yang berubah hingga potensi dampak yang dialami siswa sekolah.

Menurut Direktorat Sekolah Menengah Pertama (SMP) Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, Setidaknya terdapat tiga potensi dampak sosial negatif berkepanjangan yang mengancam peserta didik akibat efek pandemi COVID-19.

“Ketiga dampak tersebut seperti putus sekolah, penurunan capaian belajar, serta kekerasan pada anak dan risiko eksternal,” tulis Direktorat SMP seperti dikutip detikEdu dari laman resminya (30/7).

Berikut ini penjelasan Direktorat SMP tentang 3 potensi dampak sosial pandemi COVID-19 bagi siswa sekolah.

1. Putus sekolah

Berdasarkan survei yang dilakukan United Nations International Children’s Emergency Fund (UNICEF), sebanyak 1% atau 938 anak berusia 7-18 tahun putus sekolah karena terdampak pandemi virus corona Covid-19. Dari jumlah tersebut, 74% anak dilaporkan putus sekolah karena alasan ekonomi.

Tak heran jika sektor ekonomi menjadi salah satu sektor yang cukup mengalami dampak signifikan. Hal tersebut dikarenakan banyak orang yang kehilangan pekerjaan dan penghasilan.

Tidak jarang orang tua yang lebih memilih anaknya berhenti bersekolah dan memilih mempekerjakan anak untuk membantu perekonomian keluarga akibat krisis ekonomi yang terjadi.

Selain itu, banyak orang tua yang tidak bisa melihat peranan sekolah dalam proses belajar mengajar apabila proses pembelajaran tidak dilakukan secara tatap muka.

2. Penurunan capaian belajar

Sistem Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) belum sepenuhnya efektif. Setelah setahun lebih berjalan, banyak temuan tentang persoalan dan dampak yang muncul.

Salah satunya adalah keadaan sosial-ekonomi tiap keluarga siswa yang mempengaruhi sistem PJJ. Perbedaan akses dan kualitas selama PJJ dapat mengakibatkan kesenjangan capaian belajar, terutama untuk anak dari sosio-ekonomi yang berbeda.

Belum lagi soal dampak yang dialami anak karena sistem PJJ mengharuskan siswa mengerjakan banyak sekali tugas. Hal itu diperparah dengan kondisi siswa yang kurang berinteraksi dengan lingkungan luar karena harus selalu berada di rumah.

Dengan kondisi ini, studi menemukan bahwa pembelajaran tatap muka menghasilkan pencapaian akademik yang lebih baik dibandingkan dengan PJJ.

3. Kekerasan pada anak dan risiko eksternal

Dampak lain yang muncul selama PJJ adalah keterlibatan orang tua dalam mendidik anak selama di rumah dan membantu proses pembelajaran anak.

Hal ini memang akan membantu anak dalam belajar, namun hal ini juga bisa meningkatkan risiko kekerasan yang tidak terdeteksi. Tanpa sekolah, banyak anak yang terjebak di kekerasan rumah tanpa diketahui oleh guru.

Selain kekerasan di rumah, risiko eksternal juga menjadi hantu bagi peserta didik. Ketika anak tidak lagi datang ke sekolah, terdapat peningkatan risiko untuk pernikahan dini, eksploitasi anak terutama perempuan, dan kehamilan di kalangan remaja.

Sekolah tatap muka bisa jadi solusi

Pelaksanaan pembelajaran tatap muka (PTM) secara terbatas untuk zona kuning dan hijau adalah solusi untuk mengatasi permasalahan di atas.

Direktur Direktorat Sekolah Menengah Pertama (SMP) Drs. Mulyatsyah, M. M. mengungkapkan, pelaksanaan PTM terbatas di zona kuning dan hijau dengan tetap memperhatikan kesiapan PTM serta telah mengantongi izin dari para pemangku kebijakan.

“Pada prinsipnya sama arahan dari Dirjen PAUD DIKDASMEN dengan berpedoman kepada SKB 4 Menteri. Kita berharap untuk zona kuning dan hijau sepanjang itu diizinkan oleh kepala daerah, kita dorong agar dapat menyelenggarakan pembelajaran tatap muka. Karena kita tidak tahu pandemi ini sampai kapan, tetapi yang perlu kita lakukan adalah memperkecil risiko saat PTM,” ungkap Mulyatsyah.

Menurutnya, pelaksanaan PTM harus memprioritaskan keamanan, kenyamanan, dan keselamatan bagi para peserta didik dan seluruh elemen pendidikan di sekolah termasuk guru serta tenaga kependidikan.

“Prinsip utama dalam melaksanakan PTM terbatas adalah keamanan, kenyamanan, keselamatan baik bagi peserta didik, maupun guru-guru kita,” pungkasnya.

Direktur Direktorat SMP Kemdikbud tersebut juga berpesan bahwa peran guru dan sekolah tidak hanya melaksanakan PTM terbatas, namun juga memerhatikan dan memantau anak didiknya selama PJJ untuk meminimalisasi risiko-risiko dampak yang bisa terjadi.

Sumber : detik.com  

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *