Kembangkan Dua Skema Vaksin, UNAIR Akui Ada Formula Rahasia

Kampus

SURABAYA: Universitas Airlangga (UNAIR) tengah mengembangkan vaksin covid-19. Wakil Rektor Riset, Inovasi, dan Communitr Development Nyoman Tri Puspaningsih menyatakan, pengembangan vaksin dilakukan dengan dua skema platform, yakni skema classical platforms dan next generation platforms.

Classical platforms yang dikembangkan oleh UNAIR memanfaatkan inactivated virus atau virus yang telah dimatikan. Sedangkan, dalam next generation platforms, UNAIR menggunakan adenoviral vector yang juga dikembangkan oleh Institut Teknologi Bandung (ITB), serta peptide yang digunakan oleh Universitas Padjadjaran (Unpad).

Meskipun menggunakan skema yang sama, Nyoman menerangkan bahwa keduanya tetap memiliki perbedaan. Antara UNAIR dan ITB, misalnya, kata dia, pasti punya resep formulasi rahasianya masing-masing yang membuat keduanya berbeda meskipun sama-sama menggunakan adenoviral vector.

“Formula rahasia tersebut tetap didasarkan pada material genetik dari virus tersebut,” ungkap Nyoman mengutip siaran pers UNAIR, Selasa, 3 Agustus 2021.

Koordinator Riset Covid-19 di UNAIR tersebut menegaskan, material genetik menjadi hal yang penting dalam pengembangan vaksin, terutama untuk skema next generation. Hal itu penting dalam pengembangan teknologi dan modifikasi vaksin.

“Modal dasarnya adalah material genetik, sehingga kalau kita tidak mengetahuinya (material genetiknya) maka kita tidak akan bisa mendesain vaksin yang berbasis next generation,” jelas Nyoman.

Genetic material atau material genetik virus, menjadi penting untuk diketahui sehubungan dengan varian virus baru yang sudah sangat bervariasi di pertengahan tahun ini. Ia mengatakan, di antara varian virus tersebut, setidaknya ada enam yang menjadi kekhawatiran World Health Organization (WHO).

“Yakni alpha, beta, gamma, delta, dan turunan dari delta. Dikhawatirkan enam varian tersebut akan mempengaruhi netralisasi antibodi yang sudah dilakukan karena vaksinasi, atau apalagi yang belum divaksin,” tutur Nyoman.

Ia menambahkan, vaksin adenoviral vector yang dikembangkan oleh UNAIR memiliki konsep rekombinasi. Konsep tersebut telah terkonfirmasi, baik di tPA maupun spike mutan.

‘Ini yang formulasinya bisa jadi berbeda walaupun platformnya sama, karena kunci utamanya ada di material genetik virus tersebut,” terangnya.

Sementara itu untuk peptide yang dikembangkan oleh UNAIR, Nyoman menganggap bahwa hal itu unik dan spesifik. Peptide langsung merujuk pada epitope, atau bagian antigen yang dapat membangkitkan respon imunitas. Epitope tersebut nantinya menjadi bagian yang dikenali oleh sistem imun kita.

“Jadi peptide ini tentu unit yang lebih kecil-kecil dan sangat spesifik. Nah kalau ini bisa dikembangkan di masa yang akan datang, tentu akan menjadi potensi bagus. Hal itu sebagaimana yang dilakukan oleh lembaga penelitian lain di Indonesia,” paparnya.

Sumber : medcom.id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *