Pentingnya Mengajarkan Lagu Daerah bagi Anak-anak

OPINI

Oleh : meirri alfianto

Sekar gambuh ping catur,

(Tembang gambuh keempat)

Kang cinatur polah kang kalantur,

(Yang dibicarakan tentang perilaku yang kebablasan)

Tanpa tutur katula-tula katali,

(Tanpa nasihat terjerat penderitaan)

Kadaluwarsa kapatuh,

(Terlanjur menjadi kebiasaan)

Kapatuh pan dadi awon.

(Kebiasaan bisa berakibat buruk)

Lirik diatas merupakan sebait tembang Macapat dari sekar Gambuh. Sekar ini merupakan bagian dari tembang Macapat yang berisikan tentang ajaran dan nasehat kepada generasi muda dalam pergaulan, sikap dan tingkah laku dalam menjalin hubungan dengan teman dan masyarakat lainnya.

Memori membawa saya kembali ke masa Sekolah Dasar (SD). Kala itu dalam pelajaran Kesenian Daerah, kami para siswa dikenalkan pada aneka lagu-lagu daerah. Tidak hanya diperkenalkan, tetapi juga diajari untuk menyanyikannya. Kemudian sebagai penilaian, satu per satu siswa akan diminta maju untuk menyanyikannya di depan kelas. Seru, gugup, dan begitu membekas dalam ingatan. Karena momen itulah sampai sekarang saya masih ingat sebagian besar lagu daerah yang diajarkan oleh guru.

Lagu apa saja yang diajarkan? Karena saya bersekolah di daerah yang kental dengan nuansa Jawa, maka tentu saya diajarkan nyanyian tembang-tembang lokal Jawa.

Ada tembang macapat. Bagi orang yang mengerti budaya Jawa, masih ingatkah anda dengan tembang ini? Macapat sebenarnya adalah geguritan (puisi tradisional Jawa) yang dilagukan.

Maka Macapat selain sebagai seni suara (lagu), juga merupakan seni sastra (Kasusastran). Setiap tembang dalam Macapat memiliki makna tentang ajaran kehidupan. Disajikan dalam bahasa Jawa yang lugas.

Tembang Macapat banyak berisi tentang petuah kehidupan. Macapat terdiri atas sebelas sekar yang kesemuanya menceritakan rangkaian dari manusia lahir hingga kembali ke hadapan Illahi.

Urut-urutan kesebelas sekar tersebut adalah: Maskumambang, Mijil, Sinom, Kinanthi, Asmaradana, Gambuh, Dhandhanggula, Durma, Pangkur, Megatruh, dan Pocung. Sebagai contoh, sekar pertama yakni Maskumambang menceritakan manusia dari awal mula manusia diciptakan. Masih dalam kandungan. Maskumambang banyak berisi nasehat kepada seorang anak agar selalu berbakti kepada orang tua. Lalu serat terakhir yakni Pocung diibaratkan tahapan terakhir dalam kehidupan manusia, yaitu berada di alam baka. Pocung mengandung nasihat bijak untuk menyelaraskan kehidupan antara manusia, alam, lingkungan, dan Tuhan Sang Pencipta.

Sepertinya menarik bukan belajar tembang Macapat?

Tentu saja tidak hanya Macapat, ada tembang lain yang diajarkan seperti tembang dolanan, lagu mars daerah, dan berbagai tembang kearifan lokal lainnya.

Anak-anak memang perlu diajarkan tembang-tembang kearifan lokal. Tembang-tembang ini tidak hanya asyik dinyanyikan dan membangkitkan semangat.

Sementara anak-anak gembira dalam bernyanyi, ada pelajaran hidup yang sedang ditanamkan melalui setiap kata-kata dan lirik yang terkandung didalamnya.

Indonesia adalah bangsa besar yang terdiri dari berbagai macam suku dan bahasa. Setiap suku tentu memiliki budayanya masing-masing.

Budaya tersebut merupakan kearifan lokal yang dimiliki oleh masyarakat setempat. Saya percaya bahwa setiap budaya mengajarkan nilai-nilai luhur dalam kehidupan sehari-hari.

Beragamnya suku dan budaya kemudian berdiri menjadi satu kesatuan yang dilandasi oleh Bhinneka Tunggal Ika. Perbedaan suku dan budaya inilah yang menjadi kekayaan bangsa kita.

Dengan kata lain, mengajarkan budaya daerah bukan berarti bertujuan untuk meningkatkan fanatisme kedaerahan. Melainkan untuk menyadari betapa berwarnanya khazanah kebudayaan bangsa kita.

Saya mencatat setidaknya ada 4 (empat) manfaat mengajarkan lagu-lagu daerah pada anak-anak kita.

1. Memperkenalkan budaya daerah

Poin pertama ini jelas. Anak-anak perlu dikenalkan pada budaya daerahnya sendiri. Jangan sampai mereka lebih mengenal lagu-lagu barat atau lagu-lagu K-Pop dibandingkan dengan lagu “milik” sendiri.

Mereka harus memiliki kebanggaan akan identitasnya sebagai putra daerah. Dengan demikian mereka juga akan bangga menjadi bagian dari Indonesia.

2. Mengajarkan nilai-nilai kehidupan yang luhur

Lagu-lagu daerah bukanlah lagu yang diciptakan dengan sembarangan. Tembang-tembang ini diciptakan oleh para Leluhur dengan tujuan mulia. Tembang daerah memiliki pesan sarat makna tentang nilai-nilai luhur kehidupan.

Pesan tersebut tidak hanya relevan dimasa lampau, namun juga masih relevan hingga masa kini. Dengan demikian dapat saya simpulkan bahwa lagu daerah dapat bermanfaat sebagai sarana atau media edukasi anak.

3. Membangkitkan nasionalisme

Seperti saya katakan diawal, mengenal budaya daerah bukan berarti membangkitkan fanatisme kedaerahan. Sebab budaya daerahlah yang memperkaya khazanah budaya nasional.

Anak-anak harus menyadari bahwa Indonesia merupakan bangsa yang majemuk yang terdiri dari berbagai macam suku. Perbedaan itulah yang mempersatukan kita.

Oleh karena itu, bangga dengan identitasnya sebagai putra daerah akan semakin mempertebal nasionalisme dalam diri. Kita Bhinneka, Kita Indonesia.

4. Meningkatkan daya pikir serta kreativitas anak

Lagu-lagu daerah biasanya disajikan dengan bahasa-bahasa yang lugas dan mudah dimengerti anak. Tidak hanya untuk membangkitkan kesenangan semata, namun ada pembelajaran dalam setiap bait yang terkandung didalamnya.

Maka, anak secara pelan-pelan akan belajar. Apalagi lagu yang dinyanyikan secara berulang-ulang akan terus terekam dalam memori anak.

Belajar itu bisa berasal dari berbagai sumber. Kita dapat menggunakan media apapun sebagai sarana untuk mengajar anak-anak kita. Salah satunya melalui lagu-lagu daerah.

Bernyanyi merupakan sarana pembelajaran yang asyik. Untaian nada membuat pengajaran itu mudah terserap dan terekam dalam memori anak. Semua itu akan menjadi bekal anak dalam kehidupan mereka.

Sumber : kompasiana

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *