Menyetak Generasi Hebat dengan Kolaborasi Guru dan Orang Tua

OPINI

Oleh : Ega Wahyu P

Berbicara sekolah tentu banyak sekali ceritanya, mulai dari problematika guru mengajar, sarana dan prasarana yang belum memadai hingga masalah siswa yang mengadu kepada orang tuanya. Hal itu lumrah terjadi sejak dahulu. Siklus hidup di sekolah terus menerus berputar pada masalah yang disebutkan tadi.

Setiap sekolah juga punya siswa yang aktif, baik dalam konteks positif maupun negatif. Entah mengapa itu bisa terjadi, tapi yang jelas, guru siap menghadapi mereka dengan segala resikonya. Bertemu dengan siswa yang aktif belajar, tentu akan memberikan kebahagiaan tersendiri bagi guru. Sebaliknya, jika bertemu dengan mereka yang gemar berbuat keributan di dalam kelas, jelas sangat melatih kesabaran seorang guru.

Dulu, aturan dan kebijakan belum seketat sekarang. Tangan-tangan mungil seorang pendidik gampang saja melayang ke kepala siswa. Berbaris satu demi satu di lapangan upacara, tangan kanan guru mudah melayang tepat di pipi sebelah kiri siswa. Itu terjadi ketika mereka ketahuan bolos saat sholat berjamaah di sekolah. Jangankan bolos, menyela ucapan guru di kelas saja habis lebam wajah siswa. Tapi itu dulu, beda ceritanya saat sekarang.

Aturan dan kebijakan boleh berubah, yang dulunya boleh bermain tangan, sekarang sudah tidak. Anehnya, kelakuan dan tabiat siswa sekarang masih sama bahkan lebih ekstrem dari yang dulu. Jangankan menyela ucapan guru di kelas, memanjat-manjat badan gurunya jadi amaliah rutin.

Seorang guru menegur siswa yang berprilaku buruk. Besok hari datang orang tuanya ke sekolah, melayangkan protes kepada guru tersebut. Rupanya, apa yang terjadi di sekolah berbeda dengan yang diceritakan ke orang tuanya.

Sebenarnya guru dan orang tua kunci keberhasilan siswa. Koordinasi keduanya akan sangat membantu perkembangan belajar siswa. Hendaknya keduanya saling percaya dan menjaga komunikasi satu dengan yang lainnya. Hal ini dinilai perlu agar belajar di sekolah punya progress dan diketahui oleh orang tua.

Sehingga konsep sekolah bukan sekedar mengantar anak ke depan pagar saja, melainkan menitipkannya kepada guru untuk dididik dengan baik dan masif. Tak hanya sampai disitu, orang tua hendaknya mempercayakan sepenuhnya laku lampah anak kepada guru di sekolah. Kepercayaan orang tua lebih mahal dibandingkan permata.

Terlebih di zaman yang canggih ini, seharusnya guru dan orang tua lebih mudah berkomunikasi dan bertukar pikiran demi kemajuan siswa. Apa yang menjadi kekurangan siswa menjadi tantangan bagi keduanya, bukan saling menyalahkan satu dengan lainnya. Jika siswa kurang dalam membaca, guru berkoordinasi dengan orang tua dan memberikan solusi atas kekurangan tersebut.

Penulis yakin, kemunduran pendidikan yang dialami saat ini, terlebih di masa pandemi, akan sirna jika dua unsur ini saling mendukung. Hilangkan rasa khawatir yang berlebihan, karena guru adalah orang tua siswa di sekolah. Sehingga mustahil seorang guru membiarkan kesalahan terjadi pada siswa. Tentu guru menginginkan yang terbaik untuk anak didiknya.

Sumber : kompasiana.com

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *