Kisah Kanaya, Peraih UTBK Sempurna dari Sekolah Terbaik di Indonesia

Edukasi

JAKARTA – MAN Insan Cendekia (IC) Serpong menjadi SMA terbaik di Indonesia dalam daftar Top 1000 Sekolah 2021 Berdasarkan Nilai UTBK. Dalam daftar yang dirilis Lembaga Tes Masuk Perguruan Tinggi (LTMPT) tersebut, madrasah ini meraih nilai UTBK 637,807, terpaut dua poin dari SMAN Unggulan M.H. Thamrin yang menempati posisi puncak pada pemeringkatan tahun 2020.
Sebanyak 13 siswa MAN IC Serpong angkatan 2021 meraih skor 1000 atau sempurna pada pada pelaksanaan UTBK SBMPTN 2021. Dua anak di antaranya meraih skor sempurna dalam dua subtes.

Salah satunya yaitu Kanaya Shafi Azzahra. Alumnus MAN IC Serpong asal Makassar, Sulawesi Selatan ini meraih skor sempurna di TKA Matematika dan Kimia. Pencapaiannya mengantarkan Kanaya lulus di Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin.

Anak pasangan Kamaruddin Ridwan dan Muslinah Ambar ini menuturkan, dirinya sejak kecil sudah senang dengan matematika. Ia menuturkan, ikut tes matematika dan olimpiade jadi kesenangannya sejak kelas 1 SD. Minatnya di rumpun ilmu ini turut mendukungnya mendaftar dan belajar di MAN IC Serpong.

Sebagai informasi, sekolah rintisan cendekiawan dan Presiden ke-3 Indonesia B.J. Habibie tersebut, mensyaratkan salah satu calon siswanya memiliki prestasi akademik tingkat nasional dan internasional. Di samping itu, calon siswa juga harus mengikuti tes yang diadakan madrasah, kecuali 10% pelamar yang masuk lewat jalur prestasi Non-Tes.

Di sisi lain, kimia bukan jadi mata pelajaran favoritnya di sekolah. Kanaya mengaku kerap remedial mata pelajaran kimia di kelas 10 dan 11.

“Tetapi karena mau masuk FK, dan FK itu butuh nilai tingginya di kimia dan biologi kan, jadi beralih (belajar) ke kimia dan biologi,” tuturnya pada detikEdu, ditulis Senin (11/10/2021).

Perempuan yang bercita-cita jadi dokter anak sejak kecil ini mengatakan, dirinya semula ikut Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi (SNMPTN) tujuan FK Universitas Airlangga. Dari kelas 10, tuturnya, persiapan SNMPTN sudah dicicil dengan memahami konsep tiap pelajaran. Di samping itu, mencicil menguasai materi dari kelas 10 menurutnya membantu jika harus ikut UTBK.

Perkiraan Kanaya rupanya tepat. Ia menuturkan, di tengah persiapan masuk perguruan tinggi, ia dinyatakan tidak lolos menjadi mahasiswa FK Unair dengan beberapa teman belajarnya.

“Setelah pengumuman SNMPTN itu, pas hari terakhir UMBN (Ujian Madrasah Berstandar Nasional), ujian akhir. Cerita sama teman yang sama-sama nggak lolos, sama sahabatku, Syifa. Jadi kita sama-sama cerita, nangis, ‘Gimana dong UTBK-nya nanti? Belajarnya gimana?'” katanya.

Kanaya menuturkan kendati sudah belajar sejak awal masuk sekolah, rasa tidak percaya diri kadang masih hinggap. Kondisi itu, tambahnya, ditengarai nilai try out UTBK yang belum mencapai target masuk FK.

“Kayak, udah seharian kita telponan, terus abis itu udah nonton YouTube dulu, terus sampai kepikiran ‘Oh nggak bisa kayak gini.’ Ya udah besok sudah kembali lagi belajar. Sehari aja, soalnya udah nggak ada waktu Lagi, udah mepet banget ke UTBK,” imbuhnya.

Persiapan UTBK SBMPTN
Kepala MAN IC Serpong Abdul Basit mengatakan, UTBK menjadi target madrasah berbasis asrama ini setelah Ujian Nasional (UN) ditiadakan. Materi UTBK, jelasnya, diajarkan dalam pembelajaran sehari-hari.

Abdul mengatakan, MAN IC menggunakan kurikulum pendidikan nasional dan kurikulum pesantren. Sistem yang dirancang, jelasnya, berpedoman kepada petunjuk teknis pengelolaan pendidikan MAN Insan Cendekia yang diterbitkan oleh Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama RI.

Sistem pembelajaran tersebut, lanjutnya, dilakukan pagi hingga siang untuk bidang akademik dan riset, dilanjutkan pembelajaran tambahan setelah waktu salat Asar dan malam hari.

“Malam harinya, para siswa melakukan kajian kitab kuning, tahsinul Al-Qur’an, tahfidz, hafalan hadits Arbain, dan penguasaan bahasa Inggris dan Arab,” jelas Abdul.

Ia menambahkan, pembelajaran di asrama dirancang sedemikian rupa untuk mendukung pendidikan siswa, terutama penguatan materi agama. Khusus selama pandemi, siswa dipulangkan ke asal daerah masing-masing untuk belajar daring, termasuk saat persiapan UTBK.

Seperti teman-teman angkatannya, Kanaya kembali ke rumah saat kelas 11 semester 2. Jadwal sekolah praktis berubah, terutama baginya yang mulai ikut kelas persiapan UTBK yang diadakan sekolah untuk siswa kelas 12 di Januari 2021. Pagi hari diisi dengan olah soal hingga siang, lalu kelas tambahan opsional materi dan olah soal sekitar pukul 5 sore hingga 10 malam. “Jadi sudah jam 11 malam kalau di Makassar,” ucapnya.

Per harinya, Kanaya mengatakan belajar tiga pelajaran yang diajarkan guru mata pelajaran masing-masing via Zoom. Per Januari, kata Kanaya, ia tak lagi diberikan kelas mata pelajaran yang tidak masuk UTBK, bahasa Indonesia, dan bahasa Inggris. Mata pelajaran diulas 3 x 45 menit, terkadang diselingi antara review materi kelas 10 dan 11 dan kupas soal berkelompok yang dipandu guru.

Paket soal dan kunci jawaban yang diberikan sekolah, lanjut Kanaya, tidak disertakan pembahasan. Diskusi pembahasan itulah, tuturnya, yang dilakukan bersama guru dan teman-teman jika tak googling sendiri.

“Apalagi setelah ujian madrasah, udah enggak ada bimbel sekolah itu lagi. Jadi makin intense belajar, dari jam 7 atau 8 malam sampai 2 atau 3 malam,” jelas Kanaya.

Buat Kanaya, belajar berlatih soal dengan teman membantu mengingat materi yang perlu dipelajari kembali. Contoh, setelah mengulas sedikit materi kimia, ia lalu mencari soal senada yang sekiranya akan masuk UTBK.

Khusus matematika, musik baginya jadi obat jenuh saat mengutak-atik angka sendirian di kamar. Di samping itu, makan sambil menonton video di YouTube buatnya jadi penghiburan di antara kelas bimbel sekolah yang kebanyakan muridnya off cam dan lebih diam untuk menyimak guru.

“Jadinya kalau sama teman, video, call, bikin Zoom cerita-cerita karena lama nggak ngumpul. Kalau ada tugas, kita sambil tugas bareng, biar nggak bosen,” jelasnya.

Di samping bimbel dari sekolah dan belajar mandiri di weekdays, Kanaya juga mengisi akhir pekan dengan try out online. Try out, menurutnya, jadi upaya untuk mengatur kecepatan menyelesaikan soal hitungan seperti kimia dan matematika.

“Kalau nyelesain soal kimia, matematika, yang hitung-hitungan gitu, selalu pasang alarm satu menit. jadi dalam satu menit itu harus selesai. Kalau nggak selesai, udah, di-skip, next ke soal selanjutnya. Jadi entar di terakhir ada sisa waktu berapa menit, baru diulang lagi dari awal mana yang enggak bisa tadi, mana yang setengah,” jelasnya.

Menurut Kanaya, try out gratis tetap patut dicoba, kendati try out berbayar memberikan pembahasan soal dan menawarkan banyak diskon. Ia mengaku mengebut try out harian setelah pengumuman SNMPTN selama sekitar tiga minggu.

Khusus akhir pekan, Kanaya memilih menguatkan pemahaman materi biologi dengan membuat rangkuman singkat Biologi. Trik ini di samping nyaman di mata dan menenangkan, bagi Kanaya juga mengantisipasi kebosanan membaca buku.

Berkat giatnya dalam belajar, Kanaya berhasil duduk sebagai mahasiswa FK Unhas tahun ini. Ia menuturkan, baginya memang baik mengikuti saran guru untuk fokus di sebuah materi dan mengikuti arahan soal yang diberikan.

Matematika saintek itu sempet beberapa ragu, waktunya agak nggak cukup buatku, ribet. Pas lihat kimia malah ‘wah gini’ (sudah dipelajari). Kayak baru nyadar, pantes pas kelas XI, kelas X, guru itu sering mengingatkan, karena emang soalnya lebih susah,” pungkas Kanaya.

Nah, itu dia kisah peraih nilai UTBK sempurna dari sekolah terbaik di Indonesia berdasarkan nilai UTBK dari LTMPT. Sudah siap-siap UTBK, detikers? Semangat, ya!

 

Sumber : detik.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *