Merawat Toleransi dalam Kerelawanan

OPINI

Oleh : Renita Yulistiana

Sebagai makhluk sosial, salah satu tujuan hidup manusia adalah mencari kebahagiaan. Entah untuk diri sendiri, orang lain, atau keduanya. Hampir lima tahun, saya coba mengakrabi dunia kerelawanan bersama komunitas Gerakan Suka Baca. Mulai dari menjadi, mencari, sampai lakukan manajemen relawan.

Awalnya saya pikir, kegiatan ini menakutkan–karena dipaksa keadaan untuk bertemu dengan orang baru dari berbagai daerah dan latar belakang. Selain itu, saya sering dilanda bosan karena harus berorasi dengan “cakap” yang sama dan melakukan branding kala masa perekrutan setiap semester.

Namun, rasa tersebut perlahan menjadi runtuh–ketika kembali pada gagasan bahwa “kami ingin berperan dalam pendidikan dan literasi Indonesia secara sukarela”. Maka tak soal, karena menjadi relawan adalah pilihan.

Dalam sebuah kajian, perilaku sukarela merupakan bentuk dari prososial. Menurut Mussen–perilaku prososial dapat dimengerti sebagai perilaku yang menguntungkan orang lain.

Secara konkrit, pengertian perilaku prososial meliputi tindakan berbagi (sharing), kerjasama (cooperation), menolong (helping), kejujuran (honesty), dermawan (generousity) serta mempertimbangkan hak dan kesejahteraan orang lain. Hal ini didukung kalau keinginan untuk berinteraksi dengan orang lain, kebutuhan komunikasi sosial, dan kebutuhan akan kasih sayang hanya dapat terpenuhi dalam keadaan kolektif atau dalam kelompok.

Mungkin karena inilah, pamflet sederhana dalam unggahan berkala di media sosial–dapat membawa ratusan orang bergerak bersama. Mulai dari yang mengisi waktu luang, menyukai anak-anak, penasaran dengan pendidikan, apapun alasannya–mereka sudah berlaku baik dan berperan dalam banyak hal.

Menjadi pengajar, konten kreator, penulis naskah, kakak asuh, pembuat modul, sampai menyelenggarakan event. Kerelawanan membuat kami belajar untuk saling mendengar, bertukar pendapat. Kerelewanan membuat kami belajar untuk saling menyapa, dari berbagai asal. Kerelawanan membuat kami belajar untuk saling melengkapi, ketika masalah datang silih berganti.

Saya melihat perspektif beda soal toleransi melalui kerelawanan. Secara harfiah, Toleransi atau Toleran berasal dari bahasa latin tolerare yang berarti dengan sabar membiarkan sesuatu dan menghargai sesuatu. Kerelawanan, membuat saya menemukan makna toleransi yang luas–bukan hanya bahasan lingkup agama dan suku saja. Namun, belajar menghargai perbedaan secara keseluruhan.

Saling membantu, saling membahu. Ribuan tekad, mari wujudkan satu per satu. Ayo merangkul, mencipta sebuah simpul rekat yang baru. Ini bukan saatnya lagi saling menghakimi. Meskipun semua, sedang sulit lalui situasi. Kamu, tidak sendiri. Jadilah kita, untuk saling melengkapi. Alangkah indahnya jika toleransi diresapi dari hati dengan penuh makna. Marilah menjadi Relawan Untuk Indonesia.

Sebagai penutup, saya akan menulis kutipan Gusdur yang paling saya cintai. Ia pernah bilang, “Kalau kamu bisa melakukan yang baik untuk semua orang, orang tidak akan tanya agamamu”. Kerelawanan adalah gambaran toleransi yang bermuara dari hati, yang mana Tuhan selalu mendampingi.

Ini cara saya untuk merawat kebersamaan, toleransi, dan keberagaman. Bagaimana cara kamu? Kabarkan dan sebarkan pesan baik untuk MERAWAT kebersamaan, toleransi, dan keberagaman kamu dengan mengikuti lomba “Indonesia Baik” yang diselenggarakan KBR (Kantor Berita Radio).

Sumber : kompasiana.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *