Pendidikan dan Ala-alanya

OPINI

Oleh : Wahyu Agustian

Pendidikan menjadi aspek untuk kehidupan manusia. Pendidikan merupakan salah satu kekuatan sumber daya manusia bagi suatu bangsa. Karena salah satu faktor yang membuat sumber daya manusia maju adalah pendidikan. Pada hakikatnya pendidikan berlangsung selama manusia hidup (long life). Lantas seberapa relevan sistem pendidikan di Indonesia ? apakah masih dijalur dengan tujuan dari pendidikan itu sendiri.

Sekarang mari kita membuka fungsi dan tujuan pendidikan nasional yang terdapat dalam pasal 3 Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 yang berbunyi seperti berikut : Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

Seperti apa yang terkandung dalam Undang-Undang tersebut. Yang berpedoman kepada pancasila. Apalagi sekarang sistem pendidikan nasional sudah meningkat, yang tadinya wajib 9 tahun belajar menjadi wajib 12 tahun belajar. Yang artinya edukasi pendidikan di Indonesia sendiri sudah meningkat dengan rincian 6 tahun sekolah dasar, 3 tahun sekolah menengah pertama, dan 3 tahun sekolah menengah atas.

Apakah itu cukup ? Perjalanan sistem pendidikan nasional begitu panjang, bisa dilihat dari kurang lebih 11 kali kurikulum pendidikan di Indoneisa diubah, itu menandakan bahwa perjalanan sistem pendidikan sangatlah panjang. jika boleh berpendapat, saya sendiri sudah melewati wajib 12 tahun belajar.

Apa yang jadi fokus saya saat itu ? ketakutan dan tekanan. Seperti singa sirkus yang mau duduk karena takut dipecut. Saya hanya fokus menghafal supaya tidak mendapatkan nilai kecil, walaupun tidak semua mata pelajar seperti itu. Alhamdullilah mendapat ilmu yang bermanfaat juga. Tetapi itulah yang saya rasakan.

Pendidikan ala militer bertujuan untuk meningkatkan kedisiplinan, semangat nasionalis, dan menangkal paham radikalisme di sekolah-sekolah yang tersebar di seluruh nusantara. Mengacu lagi kepada pendapat saya diatas dan ketakutan pemerintah terhadap paham radikalisme, maka sistem pendidikan di Indoneisa dihantui oleh kecemasan.

Menerapkan pola militer dalam pendidikan hanya akan membuat siswa menjadi robot yang selalu berkata “siap, laksanakan” hal ini tentu berlawanan arah dengan tujuan pendidikan sebenarnya, bahwa sejatinya pendidikan itu sebagai edukasi agar manusia bisa berfikir logis, sehingga manusia bisa dengan jernih menyelesaikan permasalahan di sekitarnya.

Mengutip perkataan dari bung Pramoedya Ananta Toer “Seorang terpelajar harus sudah berbuat adil sejak dalam pikiran apalagi dalam perbuatan” bagaimana seorang terpelajar bisa berbuat adil sejak dalam pikiran jika didalam pikirannya terlalu banyak kecemasan dan ketakutan.

*jika negara kita masih demokrasi maka tulisan ini tidak membutuhkan klarifikasi/permintaan maaf

Sumber : kompasiana

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *